
Lonceng kecil dibunyikan sekali.
Penonton merasakan tekanan yang luar biasa. Mereka semua terduduk di tanah tak sanggup dan tak kuasa menahan kekuatan besar yang menimpa mereka.
Meskipun totem kura kura memberi perlindungan. Namun tekanan ini munculnya dari dalam jiwa mereka sendiri.
Mereka merasakan sebuah rasa putus asa yang amat sangat.
Hanya Mao Yu yang tetap duduk manis di kursinya dengan mendendang lagu. Dia tak terpengaruh sama sekali.
Kong Kecil kali ini menatap langit dengan awan emas dengan waspada. Seluruh bulu di tubuhnya berdiri. Sesekali dia mengeluarkan taringnya ke langit.
Clinting... Clinting...
“Rahmat Agung !” Biksu Changyi meneriakkan pamungkasnya.
Dari awan emas turun dengan perlahan sebuah lonceng berwarna emas tua dengan ukuran lima kali luas Benteng Tua leluhur.
Lonceng besar seperti stupa yang agung dengan berbagai motif rune yang tercetak melingkarinya. Melayang tepat di atas Benteng Tua leluhur.
“INNNN IIINNNNIII......”
“INNNN IIINNNNIII......”
“INNNN IIINNNNIII......”
“INNNN IIINNNNIII......”
Suara ina ini ina ini saling bersahutan di antara penonton. Mata mereka melotot menatap kesalehan lonceng raksasa dengan air mata yang berlinang. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh membuat mereka basah.
Tubuh mereka bergetar dengan rasa ketakutan yang amat sangat, perasaan putus asa pun dipompa hingga batas maksimal.
Kiamat... Kiamat... !!!
Inilah akhir dari segalanya. Inilah akhir dunia !!!
Tigabelas dunia akan hancur !!!
Oh, Surga...!!!
Kong Kecil berkecamuk, dia seakan hendak kembali ke wujud aslinya. Namun Mao Yu segera meraih dan mendudukkan di pangkuannya. Mao Yu mengelus dengan penuh kasih hingga Kong Kecil kembali tenang.
__ADS_1
Namun Mao Yu masih merasakan Kong Kecil sedikit bergetar ketakutan.
DONGGGGG........
Suara lonceng raksasa memekakkan telinga dan terus bergema di dalam jiwa mereka.
Penonton melihat pemandangan di depan mata mereka bergoyang goyang seirama dengan getaran yang ditimbulkan oleh lonceng.
Sapuan demi sapuan gelombang membawa tsunami kehancuran.
Tiap gelombang yang datang bertubi tubi membawa keruntuhan ruang dan waktu. Mengoyak dengan paksa setiap keberadaan.
Bahkan mungkin seorang immortal.
Pakaian Biksu Changyi robek seketika diterpa hantaman gelombang demi gelombang.
Penonton tak kuasa lagi meredam pemandangan dan pengalaman mengerikan yang mereka hadapi di depan mata mereka. Ini sangat di luar nalar. Mereka lantas jatuh pingsan satu per satu.
***
Situasi hening.
Orang luar tak dapat menyaksikan bahkan mendeteksi efek sedikit pun karena diredam dan diblokade oleh payung kertas yang berputar jauh di langit.
Para penonton masih aman karena totem pertahanan kura-kura.
Sedangkan Benteng Tua leluhur tak bergeser sedikitpun. Bahkan patung bebek mungil uang ditempatkan Kong Kecil di ujung pagoda tertinggi di pelataran dalam pun tetap dalam posisinya.
Semua ini adalah harta kelas immortal. Tak satu pun harta semacam ini dimiliki Kong Kecil. Mao Yu mengambilnya dari istana marmer.
“Amithaba...” Biksu Changyi menemui Mao Yu setelah merapikan dirinya kembali.
“Duduklah...” Mao Yu mempersilahkan.
Kong Kecil memandang waspada Biksu Changyi dengan memamerkan taringnya. Melihat ini Mao Yu tertawa terbahak-bahak. Biksu Changyi pun tersenyum dengan nafas panjang.
“Kamu senang?” Mao Yu bertanya.
“Saya lega dapat menguji kekuatan sebelum tiba peperangan yang sebenarnya.” Biksu Changyi merasa sangat terberkati.
“Berkultivasilah dengan giat, kamu masih berada di permukaan Vreda Astagna.” Mao Yu memberi petunjuk.
__ADS_1
“Amithaba...” Biksu Changyi membenarkan. Kekuatan maha dahsyat ini hanya masih berada di permukaannya saja. Matanya lantas bersinar dengan tekad dan visi yang kuat.
Mereka berdua berbicang ringan hingga akhirnya Tua Shi yang memiliki kultivasi tertinggi di antara yang lain akhirnya bangun terlebih dahulu.
Dia segera merapikan diri. Meredam rasa ketakutannya untuk segera menyapa Mao Yu dan Biksu Changyi.
“Hamba katak dalam kebodohan yang mutlak, Tuan muda tolong habisi aku...” Tua Shi terguncang dan tubuhnya masih bergetar.
“Pak tua, apa kamu mulai pikun. Bicaramu mulai melantur.” Mao Yu terkekeh-kekeh.
“Tuan, Hamba telah menyembunyikan identitas sejati diri hamba. Kami sebenarnya adalah seorang watcher.”
“Kami bertugas menjaga pedamaian di setiap dunia, kekuatan utama kami terpusat di dunia ketigabelas. Pemimpin utama kami konon adalah sosok immortal dari era yang sangat jauh. Namun saat organisasi ini didirikan beliau saat itu juga menghilang.” Tua Shi menjelaskan.
“Oh, Itu pekerjaan bagus.” Mao Yu menyela.
“Tampaknya kalian sangat menikmati posisi ini.” Mao Yu menambahkan.
“Perpecahan dan memanfaatkan kedudukan. Itu yang sekarang terjadi di dalam organisasi kami. Kami tak lagi fokus pada perdamaian dan ketertiban. Beberapa oknum petinggi memanfaatkan posisi untuk menggerakkan alur dunia dari balik layar. Termasuk Night Lily adalah salah satu bisnis dari seorang tetua kami. ” Tua Shi melanjutkan pemaparannya
“Oh, begit rupanya. Dari sikapmu yang sangat kasihan sepertinya kamu di pihak yang murni Pak Tua Shi.” Mao Yu menghela nafas.
“Benar, kedua rekanku ini di pihak yang sama denganku.” Tua Shi berkata dengan pasrah.
Tua Shi merasa dilematik dalam hati. Dia merasa muak dengan kemunafikan organisasinya sendiri. Namun dia merasa aman jika di bawah perlindungan Biksu Changyi. Dia juga khawatir tindakannya dianggap memberontak oleh watcher pusat. Kemarahan mereka akan dilimpahkan ke Benteng Tua leluhur.
“Sudah kubilang kamu diterima sebagai kepala akademi di Benteng Tua leluhur. Apa kamu lupa?” Mao Yu tersenyum.
Tua Shi mengucurkan air mata bahagia. Jawaban tuan muda adalah isyarat bahwa Benteng Tua leluhur siap melawan watcher pusat. Dia sangat terharu hingga membungkuk berkali-kali menyampaikan rasa terima kasih.
Mao Yu melambaikan tangannya.
“Aku dan Biksu Changyi akan kembali duluan. Rawat pesakitan yang terkapar di tanah semuanya ini. Nanti malam kita bertemu di aula utama pelataran inti.” Mao Yu menunjuk pada segerombolan pingsan dengan berbagai pose di atas tanah.
Setelah tuan muda dan Biksu Changyi memasuki Benteng Tua leluhur, Tua Shi melihat pemandangan samar pada Benteng Tua leluhur. Kabut tipis meutupi penglihatannya untuk menangkap segala bentuk bangunan di dalamnya.
Tua Shi kini hanya bisa melihat tembok terluarnya saja. Meskipun dia mengerahkan semua kemampuannya.
Sungguh akan menjadi kekuatan terkemuka serta penuh kemuliaan di masa depan.
Hidup Benteng Tua leluhur! Tua Shi menggenggam tangannya dengan erat.
__ADS_1