
Mao Yu dan Lin Fan tiba di sebuah ruangan persegi berdinding batu. Dengan penerangan kristal cahaya yang redup.
Lin Fan yang tidak kuat dengan sedotan turbulensi, segera menuju salah satu sudut untuk mengeluarkan santapan siangnya.
Tersedot dan dipelintir dalam hisapan membuat dirinya pusing tujuh keliling. Dia merasa seperti diputar layaknya permainan gangsing. Alhasil rasa mual melonjak seketika, tak bisa ditahannya.
Lin Fan segera mengeluarkan beberapa biji pelet obat dan meminumnya. Dia duduk dengan murung bersandar di dinding dengan kedua tangan memegang kepalanya yang masih merasa berputar-putar, dia takut kepalanya lepas dan menggelinding di lantai.
Sementara Mao Yu meskipun terlihat stabil, dia merasa sedikit pening juga.
“Hmmm...” Mao Yu hanya melihat ada satu harta di ruangan ini.
Sebuah cincin penyimpanan yang terletak di salah satu sudut ruangan.
Mao Yu segera menghampiri kemudian memungutnya. Persepsi indrera dia kerahkan untuk mengklaim kepemilikan.
Penasaran dengan isi di dalamnya, Mao Yu mengintip untuk melihat apa benda yang disimpan.
“Ah, Sebuah kotak dan Sebuah jade memori rupanya.” Mao Yu berkata pada dirinya sendiri.
Mao Yu menarik jade memori dan membenamkan indera ke dalamnya. Setelah cukup lama tenggelam dalam pikirannya, suara desah nafasnya semakin cepat dan tatapan matanya menjadi fokus di suatu tempat yang jauh.
“Aku datang dari Surga, bocah.... ranting... kura kura...harta...”
“Aku datang dari Surga, bocah.... ranting... kura kura...harta...”
“Aku datang dari Surga, bocah.... ranting... kura kura...harta...”
Meskipun jade hanya berisi sebuah ucapan yang singkat. Mao Yu tampak tenggelam dalam sebuah dilematika besar.
Cukup memakan sekian waktu nafasnya normal kembali.
Mao Yu kemudian memeriksa item kedua berupa kotak terbuat dari semacam keramik. Jika ditimang cukup terasa berat untuk sebuah kotak yang berukuran kecil. Mao Yu segera membukanya.
“Ah, Tanah...” Mao Yu menggumam.
Di dalam kotak tembikar berisi pasir hitam mengkilat dengan massa yang berat. Pasir itu setiap butirnya memiliki kehendak jiwa yang kuat.
Mao Yu terperangah, dia segera mengambil sebutir di atas telapak tangannya. Dengan segala daya upaya, kultivasi jiwa dia kerahkan untuk membuat sinkronisasi dengan sebutir pasir. Mao Yu berusaha menyerap untuk memajukan kultivasinya.
__ADS_1
Setelah memakan waktu cukup lama, Mao Yu melempar sebutir pasir ke dalam kotak kembali kemudian menutupnya.
“Ah, Tampaknya item ini bukan untukku. Pasir ini menolak dengan tegas untuk kuserap.” Mao Yu mendesah dengan rasa kecewa.
Tatapan Mao Yu kemudian beralih ke Lin Fan yang sedang meringkuk di sudut.
“Lin Fan, Ayo tinggalkan tempat ini.” Mao Yu melambaikan tangannya.
Lin Fan dengan susah payah berdiri, kemudian dia berjalan dengan terhuyung-huyung menuju tuan mudanya.
“Aneh melihatmu dengan wajah merengut begitu.” Mao Yu mengernyit.
“Ehehe...” Lin Fan memaksakan senyum dari wajah hijaunya.
“Kamu tidak bertanya padaku apa yang kudapatkan di sini ?” Mao Yu bertanya.
Lin Fan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyumnya yang canggung. Jujur dia masih menahan rasa pening di kepalanya.
Mao Yu memicingkan mata, terbuat dari apa anak ini. Bahkan memiliki rasa penasaran pun tidak. Apa yang dipikirkan anak ini. Mao Yu bertanya dalam hati.
Tapi pikiran itu segera dibuang jauh-jauh, ah entahlah. Terserah mau bagaimana dia. Benar benar anak anti kepo pikirnya.
***
Mao Yu dan Lin Fan segera muncul di padang rumput kembali.
Di jari manis kanan Mao Yu terpasang cincin hitam dengan strip putih tipis yang dia temukan di dalam ruangan batu.
Hanya beberapa detik berlalu banyangan dua sosok berlari ngebut ke arahnya. Dari sebuah titik kecil yang membesar hingga nampak Wang Jiao dan Wang Shan yang akhirnya tiba dengan keadaan terengah-engah.
Mao Yu melambaikan cincin barunya ke arah istana putih. Dalam sekejap istana tersapu menyusut dan masuk ke dalam cincinnya.
“INNN.... INNNNIIIIIIIIIII.............”
Duo Wang melotot kepada tuan mudanya.
“Tuan, Kamu mampu mengangkut istana itu ke dalam cincinmu. Mengapa kami harus berlarian dan kehabisan nafas. Kita bisa membongkar perbendaharaannya ketika kita semua sudah berada di luar !!!” Wang Shan Protes.
“Oh, Apakah kalian tak tahu. Aku baru saja mendapatkan cincin ini !!!” Mao Yu menunjukkan cincin barunya tepat di depan wajah Wang Shan.
__ADS_1
“Juga jika cincin ini bukan harta sejati. Apakah ini akan kalian masukkan ke dalam cincin kalian? Katakan cincin mana di dunia ini yang bisa menampung istana itu !!!” Mao Yu membentak, tak mau disalahkan.
“Ehmm... ini... “Wang Shan terkekeh-kekeh.
Plakkk.... Tamparan renyah hinggap di kepala bagian belakang Wang Shan.
“Aduh... Kakak !!!” Wang Shan memelototi Wang Jiao.
“Berhenti menjadi bodoh! Hemat kata-katamu atau kamu diam !” Wang Jiao memelototi kembali adiknya dengan tangan bertolak di pinggang.
Wang Shan akhirnya menundukkan kepalanya.
Akhirnya dengan sebuah flash cahaya kuning rombongan Mao Yu meninggalkan situs.
Tak berselang lama setelah kepergian mereka, rumput hijau mulai menguning menjadi kering dan mati. Pemandangan senja yang indah menjadi senja yang suram dengan langit berwarna merah.
Tembok batu raksasa muncul secara acak dari dalam tanah di seluruh penjuru padang rumput kering.
Di kejauhan muncul sebuah kastil batu yang menjulang tinggi dari dalam tanah.
Pemandangan sempurna saat kabut tipis menyelimuti semuanya.
Sebuah labirin raksasa tercipta di mana kastil batu menjadi titik tujuannya. Siap menjebak kultivator yang masuk dengan segala perangkap dan tipuan.
Harta di dalam kastil? Sebaiknya lupakan saja. Di sana jebakan lebih hebat dan lebih mematikan lagi.
***
Petinggi Sekte Api Phoenix dan Sekte Pedang Surgawi mendobrak ke dalam ruangan tetua mereka masing-masing.
“Tetua, Mohon ambil tindakan untuk mengatasi permasalahan di halaman makam gua. Murid-murid sekte kita dalam keadaan sangat dirugikan.” Petinggi menyampaikan informasi.
Namun tetua hanya diam saja tak bergeming dari tempat duduknya.
“Tetua ...!!!” Petinggi mulai tak sabar.
“DIAM.... !!!! Kamu tak melihat aku sedang memasuki fase pencerahan. Aku tak mungkin bisa pergi dari sini !!!” Tetua muntab dan menghardik petinggi yang rewel di depannya.
Petinggi Sekte “... ??? ...”
__ADS_1