Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Burung Api


__ADS_3

“Keputusanku?”


Kepala Sekte Api Phoenix merenung dalam dalam cahaya matanya yang terlihat redup. Sesekali dia ingin menoleh ke suatu arah namun pikirannya seperti ada yang menahan.


Dalam keputusan bagaimana pun sejauh ini dia selalu dapat berfikir dengan jernih, mengantarkan sekte menuju kegemilangan selama beberapa abad.


Dia terkenal dengan cara berfikir yang lihai. Tetua-tetua yang selama ini bersanding dengannya sepakat bahwa kepala sekte seperti dapat melihat masa depan.


Keputusannya selalu menjangkau kebaikan ke depannya.


Keinginan kepala Sekte Api Phoenix sangat sederhana. Dia hanya ingin memusnahkan para pengganggu di depannya. Tak lebih dari itu, Benteng Tua Leluhur membawa momok yang kurang bagus dalam pikirannya.


Tentang konsekuensi melawan Benteng Tua Leluhur, sebagai kepala sekte dia lebih tahu dari siapa pun. Dia belum pernah mendengar kiprah dan sepak terjang kekuatan baru ini.


Apakah Sekte Api Phoenix menjadi landasan pertamanya untuk menanjakkan pamor Benteng Tua Leluhur lebih tinggi lagi?


Kepala Sekte Api Phoenix mengangkat telunjuk. Sebuah api mungil berwarna crimson terbentuk dengan berputar sangat cepat.


Awalnya hanya sebesar sebutir kelereng, namun dalam waktu singkat berubah menjadi bola api yang membara dengan hisapan angin yang cukup kuat.


Beberapa bawahannya terpaksa harus menahan dengan tenaga maksimal. Sementara para tetua harus membuat selubung pertahanan untuk para prajurit yang lebih lemah.


Mereka segera menjauh dari jangkauan kepala sekte. Mengambil jarak yang sangat jauh darinya.


Wajah Li Hua memantulkan cahaya derak api yang makin liar, berkilau oleh api membara di atas telunjuk Kepala Sekte Api Phoenix. Rambutnya berkibar, wajahnya dihiasi senyum tipis.


Senyum tanpa antisipasi sama sekali.

__ADS_1


Bola api yang sebesar raksasa menggelegak membesar hingga sebesar ujung bukit. Dengan suara pekikan yang dapat didengar dalam radius luas bola api membentangkan dua sayap raksasa dengan ekor menjuntai.


Ya, bola api kini membentuk burung Phoenix raksasa.


Meskipun fisiknya hanya api para pengamat tinggi menganggukkan kepala tanda persetujuan.


Mereka memberikan informasi kepada para muridnya bahwa inilah kekuatan puncak dari kepala Sekte Api Phoenix.


Kepala Sekte Api Phoenix menggunakan teknik ini untuk membuat lawan-lawannya tertunduk dan meluaskan pengaruh sektenya. Kepala Sekte Api Phoenix tak terkendali saat mengeksekusi teknik tertinggi ini.


Pengamat harus menahan rasa terbakar saat pancaran panas terpapar ke arah mereka. Meskipun cukup jauh mereka masih merasakan kulit wajah seperti terpanggang, terlalu dekat dengan api.


Burung api seperti mendapatkan kehidupannya sendiri. Dia terbang di angkasa dengan keganasan yang siap memusnahkan lawannya.


“Tidak buruk, sebagai kepala Sekte Api Phoenix kamu cukup layak.” Li Hua memuji.


“Phoenix Api, cukup untuk membuat hidangan naga panggang yang enak.” Li Hua mengeluarkan kipas, dia mulai mengipasi wajahnya yang terpapar terik.


“Naga? Tak pernah terlihat naga di dunia ini” Kepala Sekte Api Phoenix sedikit merenung.


“Kami akan berpesta daging naga di dunia keduabelas.” Li Hua tersenyum.


“Hmmm…” Kepala Sekte Api Phoenix memiringkan wajahnya.


Naga adalah cerita rakyat ketigabelas dunia, diceritakan dari masa ke masa tentang keindahan dan kekokohan fisiknya. Binatang Iblis tinggi yang sangat garang, kuat dan tak terkalahkan.


Anak-anak sangat mengaguminya.

__ADS_1


“Klan Naga Murni?” Kepala Sekte Api Phoenix sedikit mendidih darahnya saat menyebutkan sekte ini.


“Satu-satunya klan nomor satu penguasa dunia kedua belas, pendominasi dan penentu kehidupan di sana.” Dia menambahkan.


“Kalian akan menghadapi mereka?” Kepala Sekte Api Phoenix mempertanyakan keraguannya.


Li Hua tidak menjawab dan juga tak menunjukkan ekspresi sama sekali.


“Apakah kami kesulitan menghadapi sektemu? Apa kamu kira yang di hadapanmu ini adalah seluruh kekuatan kami?” Li Hua melipat kipasnya. Matanya memandang suatu kejauhan di langit yang tinggi.


Kepala Sekte Api Phoenix mau tak mau sedikit bergetar di dadanya. Jika benar apa yang dikatakan pria paruh baya di depannya, sektenya hanya akan menjadi abu dalam hitungan sekejap.


Dia hanya mempunyai dua pilihan, mengibarkan bendera Benteng Tua Leluhur di halamannya atau memakamkan sektenya di bawah tanah abu.


“Buatlah keputusan! Aku tak punya banyak waktu.” Li Hua mendesak.


Kepala Sekte Api Phoenix menjentikkan telunjuknya, buruk Phoenix api raksasa kembali memekikkan teriakan perang yang sangat nyaring sebagai respon dari sebuah perintah.


Burung Phoenix Api menukik dengan tajam dengan kobaran api yang diperkuat beberapa kali lipat. Bahkan besi akan meleleh, pasir akan mencair dan manusia akan menjadi abu dalam sekejap.


INNNNN IIIIINNNNIIIIII……….


Pengamat dari segala penjuru bangkit dari duduk mereka.


Mata mereka bersinar saat burung api raksasa menemukan target penghancurannya.


Ini adalah pemandangan yang epic, sangat luar biasa. Murid-murid pengamat yang masih sangat muda sangat takjub dengan pemandangan ini.

__ADS_1


Jantung mereka berdegup tak karuan. Kekaguman mereka atas taktik tertinggi ini memacu semangat mereka untuk tidak berhenti berusaha sampai mereka menjadi yang terbaik.


__ADS_2