
"Perintahkan warga kota mempercepat langkah mereka. Kalian semua bantu evakuasi !" Nenek leluhur mengatakan dengan rasa khawatir yang tinggi.
Suara lonceng dari dalam kota bersahutan menjadi latar suara para penduduk yang lari berbondong-bondong melalui pintu gerbang selatan. Membuat acara pengungsian menjadi sangat dramatis.
Para ahli segera membantu mengevakuasi ibu hamil, anak-anak, orang sakit dan lanjut usia.
Di antara ribuan orang yang mengungsi tampak seorang pria tua dengan kipas kertas dan si tubuh tambun. Aktivis gosip di kedai. Keduanya berjalan beriringan dengan langkah cepat.
"Pak Tua bagaimana keadaan bisa jadi seperti ini ?" Pria tambun bertanya.
"Xin Long, Putra patriark Klan Xin menjadi murid utama di sebuah sekte kuat yang berlokasi di dunia kedua. Ini menunjukkan bahwa Xin Long tergolong pemuda yang memiliki bakat."
"Sayangnya yang menjadi lawan mereka kali ini adalah Mansion Tua Leluhur. Meskipun Xin Long membawa kekuatan sektenya kemari. Aku yakin mansion memiliki sebuah kartu as atau seseorang yang mumpuni di belakang mereka." Pria tua dengan kipas kertas menjawab.
"Aku menduga bahwa setelah portal ruang dibuka, akan menjadi penghancuran mansion secara sepihak oleh sekte Xin Long." Pria tambun menambahkan pernyataan.
"Kebanyakan orang pasti berfikir sepertimu. Tapi aku tidak." Pak Tua berkipas mempercepat langkahnya.
Pasukan Xin Long tercerai berai oleh serangan Angsa Besar. Jumlah yang banyak tidak membuat mereka unggul sama sekali.
Kibasan angin sangat kuat dari sayap Angsa Besar terus menerus menghempaskan dan melemparkan mereka terus menerus. Mereka tidak sempat membuat sebuah formasi untuk penyerangan.
"Iblis Angsa ini gila. Bagaimana bisa mansion memiliki binatang iblis seperti ini di dalamnya." Xin Long sangat kesal.
Iblis Angsa tampak sedang bermain main saja dengan kelompok Xin Long.
"Iblis Angsa tampaknya menjadi kartu as mansion. Aku menduga binatang ini berada di tingkat yang tinggi. Aku kesulitan menentukan tingkatannya berada di level mana saat ini." Seorang ahli berpendapat.
Beberapa bawahan Xin Long yang lolos dari pengawasan Angsa Besar dihadang oleh Li Hua dan Jing Jun.
Suara logam tabrakan antara pedang dengan saber berturut turut terdengar. Ini menunjukkan kedua belah pihak sama kuatnya. Li Hua tak berani mengendurkan pengawasannya sedikitpun terhadap lawan di depannya.
Gerakan Jing Jun sangat sederhana. Para pengamat sekilas dia adalah pemuda yang baru saja memegang gagang pedang. Namun, lama kelamaan pandangan mereka mulai berubah.
Meskipun gerakan Jing Jun sederhana, para pengamat melihat sebuah kedalaman. Meskipun itu terlihat seperti tebasan kasual di permukaan, sejatinya pedang di tangan Jing Jun membawa sebuah maksud tertentu.
Keduanya terlibat dalam duel yang sengit. Tidak ada tanda-tanda salah satu pihak mengendurkan serangannya.
__ADS_1
Di dalam bunker mansion.
Yang-er, nenek dan para pekerja sedang bersembunyi.
"Putri, Apakah kamu tidak merasa takut atau khawatir ?" Seorang pelayan bertanya.
"Kenapa aku harus takut dan khawatir? Kakak akan terus melindungiku." Yang-er menjawab.
Terus melindungiku? Terus melindungiku? Sampai kapan?.... Yang-er kemudian berfikir, karena kata-kata barusan terus terngiang-ngiang dalam kepalanya.
Yang-er memejamkan mata, kedua jari tangan mencengkeram kuat pada pahanya. Saat ini pikirannya melahirkan sebuah resolusi untuk dirinya di masa depan.
Aku harus kuat dan bisa menjaga diriku sendiri nantinya.
Aku tidak boleh terus bergantung pada kakak. Seandainya kakak nanti di puncak, aku juga harus memiliki kekuatan agar aku bisa berdiri di sampingnya.
Yang-er bertekad dengan sungguh-sungguh.
"Lihat, Celah ruang telah terbentuk, sebentar lagi dua dimensi akan terhubung." Pangamat melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Memang benar, ditengah pusaran awan hitam dengan derak petir berwarna merah yang saling taut menaut. Terbentuk sebuah goresan ruang membentuk garis vertikal. Ukurannya sangat besar.
Ketika terjadi yang demikian ini, sangat jelas bahwa sekte sedang mengeluarkan segala apa yang mereka punya demi suksesnya acara invasi atau pemusnahan yang mereka canangkan.
Sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa sekte mereka bukan tempat untuk bermain-main.
Xin Long menghunus pedangnya. Tebasan dengan flash bilah energi yang sangat tajam menyerang bertubi-tubi pada Angsa Besar.
Angsa Besar hanya berlenggak lenggok menghindar dan terkadang menepis dengan bulu-bulu di sayapnya. Sedangkan posisi kepala dan paruhnya dibuat sedemikian rupa sehingga yang melihatnya menjadi sangat muak dan sebal.
Angsa Besar terus menerus membuat gerakan provokasi.
"Gila, bahkan bulunya sanggup menangkis kekuatan maksimal Kakak Long." Salah satu bawahan terkejut.
"Sedangkan kamu bisa lihat, Iblis Angsa ini belum terlihat serius. Kita dipermainkan." Teman di sampingnya menyahut.
Serangan demi serangan yang diluncurkan Xin Long gagal. Namun ini tidak membuatnya menyerah. Tebasan demi tebasan terus dilancarkan tanpa henti.
__ADS_1
Para penduduk kota dan para pengamat menyaksikan portal raksasa di langit utara terbentuk dengan sempurna di tengah pusaran awan hitam.
Celah kemudian membuka, seorang pemuda tampan dengan giok hijau tergantung di pinggang muncul.
"Kakak pertama !" Xin Long beserta bawahannya yang tersisa berteriak.
Yue Chu melihat kota kumuh di bawahnya dengan tatapan jijik dan rendah. Kemudian sudut matanya beralih dan fokus menatap kompleks bangunan mansion. Mansion inilah yang menjadi incaran pemusnahannya.
“Kepada seluruh penghuni Mansion Tua Leluhur. Aku Yue Chu murid utama yang akan menjadi master sekte di masa depan. Kuperintahkan kalian untuk mempermudah langkah. Lakukan bunuh diri !”
“Meski kalian semua sudah melakukannya dan menjadi mayat, aku akan tetap meratakan mansion berikut seluruh kota. Hahaha...” Yue Chu berkata dengan sangat arogan.
Suara Yue Chu menggelegar di seluruh langit. Para penduduk mendengar dengan jelas perkataan Yue Chu di telinga masing-masing. Mereka menjadi semakin cemas, satu-satunya respon terbaik adalah mempercepat langkah untuk menjauh.
Kami ingin selamat dari kemurkaan Tuan Yue Chu, kami ingin selamat. Kami ingin tetap hidup.
Di belakang Yue Chu kemudian muncul ratusan pasukan berbaju zirah lengkap. Mereka siap melancarkan invasi besar.
Li Hua dan Jing Jun mengambil langkah mundur, demikian juga dengan Xin Long dan bawahannya.
Li Hua dan Jing Jun melihat Yue Chu dengan pasukan besar di belakangnya.
“Mereka datang dengan sungguh-sungguh, tak kusangka mereka mendatangkan parade besar.” Li Hua mengerutkan dahi.
“Tampaknya Yue Chu ingin menunjukkan dirinya kepada dunia bahwa sebagai calon penerus master sekte, dia tidak bisa disinggung dan diremehkan oleh siapa pun.” Jing Jun menyatakan analisanya.
“Yue Chu membuat Mansion Tua Leluhur sebagai contoh kepada dunia. Barangsiapa yang berani berurusan dengan sektenya, pemusnahan total menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari.” Li Hua melanjutkan analisis Jing Jun.
Seorang pemuda berdiri di atas moncong meriam raksasa dengan mengibarkan bendera berwarna putih.
"Lihat, Apakah mansion telah menyerah ?" Seorang pengamat berkata.
"Buka matamu lebar-lebar, lihatlah gambar yang dicap pada benderanya." Pengamat lain segera menyangkal.
Bendera putih besar berkibar-kibar dengan perkasa. Bendera itu bergambar monyet iseng yang sedang menyodorkan pantatnya.
Yue Chu melihat dengan pelipis yang berkedut-kedut.
__ADS_1
Kemurkaannya telah dipancing Fang Yi.