
Mao Yu tiba di sebuah gua yang membentuk lorong memanjang dengan cahaya ungu terang. Karena seluruh ruangan diliputi dengan penuh kristal berwarna ungu yang menjadi sumbernya.
Saking banyaknya kristal membuat ruang menjadi sangat terang benderang. Cukup membuat memasuki ruangan ini terasa silau setelah jalur sebelumnya melalui lorong gelap.
Mao Yu mengambil langkah ke depan. Dia mendapati bilik demi bilik. Dalam pikirannya dia dapat mengidentifikasi ruangan ini memiliki struktur seperti sel tahanan.
Mao Yu memeriksa seluruh ruangan, namun dia menemukan secara keseluruhan kosong tak berpenghuni.
Dia merasakan lebih jauh dengan persepsi jiwanya. Dari situ dia menangkap informasi sepertinya ada satu ruang yang memiliki penghuni. Berada persis di persimpangan yang tersembunyi.
CHAAAA.....
CHAAAA.....
Seekor kera bercawat dengan hanya beberapa helai rambut yang tersisa di tubuhnya muncul secara mengejutkan.
Dia berteriak dengan nyaring. Suaranya menggema menggetarkan seluruh kristal dalam ruangan gua.
Kera itu tampak dalam keadaan yang mengerikan seperti sedang terserang penyakit kulit. Yang menyebabkan kehilangan rambutnya.
Melihat orang asing mendekat, kera menjadi sangat agresif. Setelah berteriak dengan hebat. Dia bangkit dari tempatnya.
Dia tiba-tiba meloncat dengan kecepatan secepat kilat ke depan berusaha menyerang Mao Yu yang mendekatinya.
Namun serangannya berhenti tepat di depan wajah Mao Yu seolah terpantul menabrak sebuah dinding tak terlihat.
Hanya setelah serangannya gagal, sekarang dia meringis memamerkan empat taring dan kukunya yang sangat tajam. Berhasrat ingin mencabik cabik tubuh Mao Yu.
Benar. Ini adalah sebuah penjara. Namun bukan jeruji besi yang menghalau tawanan. Tapi sebuah batas seperti dinding kaca.
Berkali-kali kera memukul, mencakar, menggigit tidak akan meninggalkan bekas goresan sedikit pun.
"Sungguh malang nasib kera narapidana." Mao Yu mengeluarkan kalimat yang menusuk.
Kera tidak menjawab. Hanya membalas dengan tatapan tajam penuh dengan dendam dan kebencian.
Mao Yu membalas menatap kera dengan tatapan prihatin. Sungguh nestapa nasib kera ini. Telah menghabiskan waktu berapa lama dia berada di kurungan.
"Energimu rupanya diekstrak ke sebuah benda. Namun kini sistematika formasinya telah rusak." Mao Yu menunjuk pada sebuah altar kosong.
"Sudah diambil cukup lama." Kera menjawab dengan suara serak dan berat.
Penjara ini cukup kejam. Selain mengurung terpidana. Juga menyerap dan mengekstrak energi para tawanan untuk kemudian dikumpulkan pada suatu benda.
Mao Yu memandangi kristal-kristal ungu yang menempel dengan subur di seluruh penjuru lorong gua.
Ketika benda yang ditujukan untuk mengumpulkan energi tawanan diambil dari altar. Sistim ekstraksi tidaklah berhenti melainkan masih bekerja.
Namun energi yang diambil dari para tawanan tidak lagi terfokus ke satu titik benda yang menjadi tampungan. Melainkan menyebar ke seluruh ruangan.
__ADS_1
Dalam kurun waktu yang sangat panjang entah berapa lama yang tak bisa ditentukan. Inilah yang membuat energi menjadi terakumulasi di seluruh ruangan gua. Menyebabkan lahirnya kristal ungu.
"Kota Tua Leluhur." Kera menyebutkan nama kota di mana penjara ini berada.
"Sekarang berganti nama menjadi Kota Kekaisaran." Mao Yu menyahut.
"Su Wei." Kera menyebutkan sebuah nama.
"Tak mengenal." Mao Yu menjawab dengan singkat.
"Klan Su?" Kera menambahkan pertanyaan pada dialog.
"Tak pernah mendengarnya." Mao Yu menjawab dengan acuh.
"Perang Akbar?" Kera menambahkan
"Berakhir." Mao Yu menjawab
"Pemenangnya?" Kera bertanya dengan penasaran.
"Sebentar lagi kamu akan tahu." Mao Yu segera menimpali.
"Berapa lama?" Kera bertanya lagi dengan perasaan sedikit nostalgia.
"Era telah berganti berulang kali. Zaman sudah ditulis ulang kembali." Mao Yu menjawab dengan nada yang mendalam.
Jawaban Mao Yu barusan memberikan kesan dan perasaan seolah olah saat mengucapkan kalimat itu Mao Yu menjadi orang lain yang berbeda.
Mao Yu mengambil sikap sempurna. Dia berkonsentrasi mengerahkan potensi karapas jiwa pada puncaknya.
Soul Slice...
Sebuah garis keperakan halus sangat kecil hampir tak terlihat oleh mata melintas menembus penghalang kaca terus melaju ke arah hati kera.
CHAAAAA.....
CHAAAAA.....
CHAAAAA.....
Kera berguling guling dengan liar. Dia melompat acak, menabrakkan tubuhnya dari dinding ke dinding di dalam ruangan sel.
Dia tak merasakan lagi rasa sakit akibat benturan.
Rasa sakit saat jiwanya dilukai dengan sebuah irisan yang hanya menggores kecil jauh lebih menyakitkan dari hantaman serangan dan senjata fisik apa pun.
Hingga beberapa saat setelah kehebohan akhirnya mereda. Kera dengan nafas terengah engah memandang Mao Yu.
Dia menatap dengan tak berkedip dalam jangka waktu yang lama.
__ADS_1
"Ras.... Ras Jiwa...." Kera menggumam serak dan pelan. Akhirnya berani membuat suara.
Sorot matanya yang semula tajam bak pedang surgawi kini perlahan memudar. Akibat rasa takut yang mulai menjalar dan mendominasi ke seluruh tubuh.
"Apa yang kamu inginkan dariku?" Kera bergidik dengan dengan pertanyaan penuh kewaspadaan.
Nada kalimatnya pun sedikit bergetar. Dia berusaha menyembunyikan rasa ketakutannya sekuat mungkin.
"Tidak tertarik." Mao Yu menjawab dengan acuh dengan melambaikan tangannya.
Mao Yu mengalihkan pandangan pada kristal energi berwarna ungu yang bertebaran menempel di seluruh gua.
Dengan sebuah gerakan elegan. Dari cincin penyimpanan dia mengeluarkan tongkat jo besi. Setelah mengambil kuda kuda dengan posisi kakinya melentur panjang ke belakang.
Mao Yu melompat dengan tongkat jo. Dia lepas hempaskan bersamaan dengan gerakan-gerakan jurus yang dia kuasai hingga tahap kesempurnaan. Menghantam berulang kali ke dinding-dinding goa.
Membuat batu batu kristal terbang terlepas dan berhamburan ke segala arah.
Klan Mo menambang di permukaan dan pesisirnya. Hanya memanen segelintir batu. Kemudian menjadi sebuah kebanggan besar, menjadi sorotan seluruh penjuru dan berani berjingkrak di kancah benua selatan.
Sedangkan Mao Yu kini dengan asyik melempar tongkatnya dengan keringat penuh kemilau yang menghiasi senyum tipisnya. Mao Yu menambang persis pada titik di mana itu menjadi sumbernya.
Mao Yu segera menarik seluruh kristal yang tercecer. Memasukkan ke dalam cincin penyimpanannya hingga kapasitas penuh.
Dia cukup puas dengan pekerjaannya kali ini.
"Hanya kristal jade kualitas rendah. Aku bisa memberikanmu kristal jade surgawi." Kera berusaha mengajukan proposal.
"Aku tahu. Kamu menyimpan perbendaharaanmu pada sebuah ruang independen yang berada di jantungmu." Mao Yu mengatakan sebuah fakta.
Memang layak menyandang gelar sebagai anggota ras jiwa. Dapat melihatku sangat dalam hingga ke akar. Kera berkata dalam hati.
"Berikan aku beberapa mahar. Barangkali aku dapat mempertimbangkan kebebasan untukmu." Mao Yu berusaha mengambil keuntungan dari situasi.
Kera mengeram sepertinya akan memuntahkan sesuatu dari dalam tubuhnya.
Pletukkk...
100 kristal jade surgawi dimuntahkan. Energi dalam ruangan menjadi berdenyut keras.
Mao Yu dalam tahap karapas jiwa merasa tubuhnya bergetar merespon kuatnya tekanan dari energi kumpulan batu.
1 kristal jade surgawi di benua selatan akan membuat seluruh klan dan sekte terengah-engah.
Harta karun maha akbar. Jika dimiliki akan melambungkan nama sekte dan klan hingga ke langit. Jika diperebutkan akan memicu perang besar yang meluluhlantahkan seluruh benua.
Kera sangat bangga akan maharnya. Sekaligus sangat berharap rasanya menghirup segarnya udara luar. Rasa bahagia jika terbebas dari kurungan yang menjadi impiannya sangat lama.
"Aduduh... Menjijikkan sekali benda itu keluar dari mulutmu. Tuan muda ini suci dan mencintai kebersihan. Cuci kristalnya dulu sana !" Mao Yu mengatakan dengan cemberut.
__ADS_1
Kera " .... "