Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Upacara


__ADS_3

Di tepi kolam taman bunga. Halaman tengah Mansion.


Mao Yu menghadapi para peserta upacara mandi yang menyatakan ketidakpuasan terhadap perilaku Iblis Angsa.


"Hanya masalah air. Nanti airnya juga akan muncul kembali." Mao Yu menjawab dengan santai.


"Masalahnya adalah hingga kapan terisi kembali ?" Li Hua kali ini emosi.


"Tuan, Ini masalah waktu. Kami ingin segera tumbuh lebih kuat dan membuat diri kami lebih berguna." Fang Yi menyatakan ketidakpuasan.


Jing Jun hanya diam saja. Dia telah merasakan efek mandi beberapa kali. Dia sudah bersyukur, dan itu dirasa lebih dari cukup mengingat tuannya sudah memberikan banyak hal padanya.


"Jing Jun kamu juga harus menyatakan ketidaksetujuan kita." Fang Yi mengipasi api.


"Ehmm, kurasa kita baiknya bersabar saja menanti air sumur kembali terisi." Jing Jun berkata pelan, takut salah.


Mereka juga mengkhawatirkan jika tuan muda kembali ke Kota Kekaisaran. Iblis Angsa akan kembali ke sumur kuil dan menyedot habis airnya lagi.


Dengan tidak adanya tuan muda di mansion, Iblis Angsa bisa jadi tambah semena-mena.


"Kalian harusnya bisa mengerti, Jika angsa menjadi lebih kuat. Maka mansion ini lebih aman." Mao Yu menyadarkan trio.


"Jika Iblis Angsa makin kuat, maka tamanmu akan makin hancur Tuan." Li Hua menyilangkan tangan. Kali ini dia menemukan kalimat yang dapat membalik ucapan tuannya.


Fang Yi segera mengipasi api lagi dengan lebih kuat.


"Benar, bisa saja ke depan dia merobohkan bangunan utama." Fang Yi segera menambahkan.


"Kalian ini makin rewel. Ini masalah air." Mao Yu mengerutkan dahi.


***


Mao Yu dan trio berjalan menyusuri batu setapak menuju kuil. Tak lama kemudian mereka tiba di halaman kuil.


Pak Tua Shi sedang melakukan ratapan di tembok sumur. Sedangkan Iblis Angsa masih tetap dalam posisinya.


Tidur telentang dengan sayap membuka. Dia masih mabok dengan ledakan energi Air Suci.


"Aku terus melihat dasarnya, sumur belum memunculkan tanda-tanda mengeluarkan air kembali." Pak Tua Shi pesimis.


"Hanya masalah sepele tapi kalian ribut bukan main." Mao Yu mendengus.


Trio saling pandang dan masih tidak menunjukkan kerelaannya. Mereka masih belum puas karena kesempatan emas di depan mata telah hilang gara-gara unggas tidak tahu diri di belakang mereka.


Mao Yu mendekati bibir sumur. Kakinya menendang dengan kuat ke temboknya.


"Hei Hantu, keluarkan air... " Mao Yu meneriaki sumur.

__ADS_1


"INN IINNIIIIII..... " Pak Tua Shi terbelalak.


Dia melihat air merembes dari dasar dan membuat sumur terisi dengan Air Suci seperti sedia kala.


Trio berlarian menuju sumur, mereka melihat dengan kepala mata sendiri air makin meninggi.


"INN IINNIIIIII.... " Trio berteriak bersamaan.


"Oh jadi kata kuncinya adalah tendangan. Okey. Hei Sumur keluarkan air lebih banyak... " Fang Yi meneriaki sumur. Dia menendang kakinya dengan kuat ke tembok sumur.


Namun hal sebaliknya terjadi. Air surut dengan cepat hingga dasar sumur berupa tanah berbatu terlihat kembali. Sumur langsung mengering total.


Pak Tua Shi " .... "


Li Hua " ... "


Jing Jun " ... "


Fang Yi " ... ? ? ? ... "


Pak Tua Shi terhuyung-huyung mundur, dia memegang kepalanya seolah mau jatuh kapan saja.


Li Hua dan Jing Jun menembakkan puluhan kalimat. Mereka memarahi habis-habisan Fang Yi.


Sementara Fang Yi menerima amukan, dia merasa bersalah dengan wajah tersipu terkekeh-kekeh.


"Hei Hantu, Jangan bermain-main kembalikan airnya..." Mao Yu kembali membentak sumur.


Seketika air sumur naik kembali seperti sedia kala.


***


Akhirnya upacara mandi telah dilaksanakan.


Pak Tua Shi memimpin dengan berlinang air mata. Sementara ketiganya tertunduk dengan wajah memerah karena malu dan merasa tidak enak hati.


Mereka tak berani mengangkat kepala. Mao Yu memelototi mereka semua.


***


Setelah berpamitan dengan semuanya, Mao Yu memutuskan akan kembali ke Kota kekaisaran untuk sementara waktu. Dia meminta semuanya untuk menjaga mansion dengan baik.


Secara khusus Mao Yu memberikan perintah kepada Iblis Angsa agar tidak berbuat aneh-aneh. Dia sangat patuh.


Dia tidak punya keberanian sedikit pun untuk melanggar. Dia masih trauma dengan pemukulan kejam Kong kecil.


Akhirnya Mao Yu dan Kong Kecil tida di perbatasan kota.

__ADS_1


"Bai Kong gunakan teleport ke Paviliun Shen ..." Mao Yu memberi perintah.


Tidak ada sedetik mereka berdua telah tiba di Paviliun Shen, tepatnya di kamar pribadi Mao Yu.


"Hmm... Aroma Kota Kekaisaran memang berbeda. Di sini udara terasa sakral." Mao Yu menghirup udara kuat-kuat.


"Aku tidak merasakan perbedaan Tuan, Udara tetap terasa agak dingin di musim gugur." Kong Kecil berpendapat.


Mao Yu memelototi Kong Kecil, dari pagi moodnya sudah buruk.


Tatapan Mao Yu membuatnya merasa terintimidasi. Dalam pikirannya terlintas noktah hitam menyedot dirinya hingga menjadi ketiadaan.


"Ahahaha... Benar... Tuan benar. Udara memang sangat sakral di sini. Aku lupa kalau aku sedang pilek hidungku lagi buntu. Hahahaha..." Kong Kecil segera menyatakan sependapat dengan tuannya.


Mao Yu kemudian mendengus, dia mengambil langkah menemui Shen Mubai.


Shen Mubai berada di ruang kerja sangat kaget melihat kedatangan tuan muda. Dia segera memberi salam dan hormat.


"Kemajuanmu sangat cepat. Kini telah mencapai ranah kasaya emas ketiga." Mao Yu memuji.


"Akan lebih cepat jika tidak disibukkan dengan urusan paviliun, Hahaha... " Shen Mubai tampak gembira dengan pencapaiannya.


Shen Mubai segera melaporkan segala hal yang terjadi semenjak kepergian tuan muda.


Perluasan dan pengembangan paviliun telah tuntas. Produksi sake juga menggembirakan, produksi sangat bagus dan penjualan menunjukkan grafik yang terus meningkat.


Kemudian Shen Mubai dengan antusias menanyakan kembali tentang tragedi Klan Xin. Mao Yu lantas menceritakan semuanya.


Shen Mubah menghela nafas, mendengarkan langsung dari tuannya sangat melegakan.


Dia melihat kebesaran dan performa tuan muda di Ibukota Pusat. Shen Mubai sangat mengagumi sosok muda di depannya. Dia tidak menyesal sedikitpun menjadi pengikutnya.


"Tuan muda mendapatkan informasi tentang Mo Li ?" Shen Mubai akhirnya menanyakan sesuatu yang penting.


"Aku telah bertanya pada Manager Guild Makelar di sana. Mo Li telah dikirimkan untuk sebuah misi rahasia di lokasi tertentu. Hanya sebatas itu informasi yang kudapat." Mao Yu menjawab.


"Oh, Sepertinya masih lebih banyak waktu ke depan. Aku akan fokus meningkatkan kekuatanku." Shen Mubai sedikit kecewa, namun tidak menjadi alasan dia untuk bersikap lunak pada dirinya sendiri.


"Apakah Sekte Cawan Suci kemari ?" Mao Yu kembali bertanya.


"Benar, Ayah Gadis Mei. Penatua pertama mereka kemari dengan amarah. Namun Lo Hua menghadangnya."


"Tidak terjadi pertempuran. Sekte Cawan Suci memilih langkah mundur sementara untuk memberi muka pada Lo Hua." Shen Mubai mengatakan dengan serius.


"Di mana mereka sekarang ?" Mao Yu menggali informasi.


"Mereka mendirikan camp sepuluh mil di hutan sebelah utara kota. Anda memiliki rencana Tuan Muda ?" Shen Mubai penasaran.

__ADS_1


"Aku mau kesana. Mau ikut ?" Mao Yu tersenyum.


__ADS_2