
“Hanya seperti ini kah pertempuran antar emperor? Tak seramai yang kuduga.” Mao Yu merasa bosan.
Tak seramai goendolmu apa? Lei Teng dan paman ketiga melotot. Ini kelas wahid soe...
Hasil pertempuran antara Emperor Red Glow dengan Emperor Myriad Mountain diputuskan dengan pedang berkarat yang terlepas dari tangan Emperor Myriad Mountain.
“Aku mengakui... Bahkan pertarungan sebelumnya aku pun mengakui juga. Namun sayang itu menjadi tidak fair saat Empress Fire Phoenix datang. Aku pun tak bisa berbuat apa pun mengingat kondisiku juga parah saat itu.” Emperor Myriad Mountain menunduk.
“Kedua pertempuran sudah adil.”
“Namun bagaimana saat kamu kembali Sekte Pemandangan telah selesai?” Wang Kun berkata.
“Salahkan mereka sendiri dengan siapa mereka membuat urusannya.” Emperor Myriad Mountain menghela nafasnya.
“Tentang Klan Wang ku, berminat mendatanginya di suatu hari ?”
“Tidak, Aku akan tinggal sampai masa penguburanku.” Emperor Myriad Mountain menggumam.
Mao Yu mendengus dengan senyum kecut. Tangannya menyilang di depan dadanya. Dia sangat tidak puas dengan pertunjukan yang selama ini dia nantikan.
Dia membayangkan pertempuran level emperor akan terasa gahar sampai dia menikmati adrenalin yang menggelora.
“Bibi, Ambilkan aku sayap gagak. Aku ingin memukul seseorang.” Mao Yu mendengus.
Kloning Bibi Bu datang dengan membawa kereta dorong. Di mana di atasnya terdapat sepasang sayap hitam dengan kilau menawan.
Tiap bulu terlihat lembut, namun jika diperhatikan bulu ini sangat kuat. Dan jika lebih seksama lagi tajamnya melebihi pedang.
Bibi Bu memakaikannya di punggung Mao Yu sehingga sayap itu mengepak dengan alami seperti bagian dari tubuh Mao Yu sendiri.
“Yooo... Mana lawanku !!!” Mao Yu meneriaki langit.
Semua hadirin termasuk dua emperor pun turut memandang Mao Yu dengan tatapana aneh.
Langit seketika bergelora dengan nyala api yang dahsyat. Membakar awan dan mengeringkannya dalam sekejap.
Kobaran begitu membara dengan terik panas yang cukup bisa dirasakan oleh semua orang di wajah mereka.
Di tengah nyala api, ada sosok seperti shiluet yang muncul semakin jelas.
__ADS_1
“Empress Fire Phoenix !!!”
Semua orang berseru.
“NAH... “ Mao Yu antusias, tangannya mengepal kuat. Dalam satu kepakan sayap gagak. Dia melesat terbang ke arah kobaran api.
IIIIIIIIIINNNNN.... IIIIINNNNNNNNIIIIIIIIIIII.............
“Beraninya kalian...”
DUAGHHH**.....**
Belum selesai Empress Fire Phoenix berkoar-koar gerakan cepat dari seseorang yang terbang cepat ke arahnya melemparkan bogem keras tepat di tengah dadanya.
Empress Fire Phoenix terlempar dengan keras ke tanah hingga terpantul-pantul di tanah beberapa kali.
IIIIIIIIIINNNNN.... IIIIINNNNNNNNIIIIIIIIIIII.............
Lei Teng dan Cheng An melihatnya dengan pandangan kosong.
Paman Ketiga Cheng An. “ A... a... a... “
Wang Kun “ ... “
Saat api di angkasa padam, terungkaplah sosok Mao Yu dengan sayap gagak terbentang lebar di langit.
Empress Fire Phoenix bangkit dari permainan seluncuran di tanah berpasir. Dia segera menyeka dan membersihkan tubuh untuk menjaga kewibawaannya.
Dia segera mengunci Mao Yu yang berada di langit. Tubuhnya sekali lagi terbakar dengan bara yang lebih dashyat siap melempar api pemusnahan.
Adakah ide lain lagi kalau tidak kepingin memusahkan bocah sialan ini.
Ini gawat, Wang Kun segera memompa segala kekuatan untuk menghalau serangan Empress Fire Phoenix terhadap tuan mudanya.
Namun,
Ehh...
Dari balik sayap gagak yang lebar dan membentang. Semua orang melihat dua buah matahari yang terbakar dengan cahaya oranye.
__ADS_1
Keberadaan dua matahari ini seketika memadamkan kekuatan Wang Kun. Dia beserta Emperor Myriad Mountain terpaksa kehilangan penerbangannya dan harus tertunduk di tanah.
Api berkobar milik Empress Fire Phoenix seketika menyusut dan padam. Dia terpaksa harus bersimpuh layaknya emperor yang lain di atas tanah berpasir.
IIIIIIIIIINNNNN.... IIIIINNNNNNNNIIIIIIIIIIII.............
CHAAAAA....
CHAAAAA....
Kong Kecil sangat panik. Seluruh bulu di tubuhnya berdiri, dia ingi segera melarikan diri sejauh mungkin dari tempat ini.
Sementara oranye juga demikian. Seluruh bulunya pun berdiri, dia sangat takut dingga dia mencari pojok untuk pasrah diri.
Paman Ketiga, Cheng An dan Lei Teng lemas tubuh dengan mulut terbata-bata tanpa menghasilkan suara. Ketakutan alami dari jiwa menguasai mereka sepenuhnya.
Tekanan dari dua bola matahari...
Bukan, bukan... tepatnya itu adalah sepasang mata.
Hanya dengan pandangan biasa saja mampu membuat para emperor kehilangan kekuatan dan bersujud.
“Ikuti perintah tuan muda...” Pemilik sepasang mata itu bersuara dengan gema hingga diputar berulangkali di dalam jiwa.
“Arrrgg...” Cheng An seketika pingsan dengan mulut berbusa.
Lei Teng dan Paman ketiga merasakan kepala mereka seperti digodam. Tubuh mereka bergetar seperti getaran saat naik kuda. Jiwa mereka seperti layangan yang siap putus.
Tiga emperor berpeluh kelereng. Mereka tak berani mendongakkan wajah melihat Mao Yu dan sepasang mata matahari di belakangnya.
Bahkan jika berkenan pemilik sepasang mata ini mampu menguapkan mereka bertiga hanya dengan kehendaknya.
Kekuatan, arogansi dan otoritas tiga emperor ini dilucuti. Mereka sangat takut dengan sumber ketakutan yang datangnya dari jiwa.
“Ikuti perintah tuan muda...”
Kalimat ini terus menerus berputar berkali kali dalam pikiran.
“Ka... Kami bersedia...” Ketiga Emperor menjawab bersamaan sekaligus kelagaan menyelimuti hati mereka saat sepasang mata raksasa menghilang.
__ADS_1
Para emperor masih dalam keadaan duduk dengan lesu. Mereka saling pandang dengan pasrah tak mampu berbuat apa apa seperti anak taman kanak kanak yang dirampas permennya oleh preman sekolah dasar.