Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Kunjungan Tragis Orang Cheng


__ADS_3

“Kamu pasti orang Cheng….” Mao Yu yang muncul tiba-tiba dari belakang prajurit penjaga mengagetkan semuanya.


“Murid, tolong mundur… pria ini berbahaya.” Salah satu petugas memberi peringatan. Namun Mao Yu mengabaikan.


“Omong kosongmu…” Pria Cheng di depannya melonjakkan lagi kemarahannya.


“Sangat jelas bentuk matamu seperti Cheng An, mungkin kamu adalah saudaranya.” Mao Yu memprovokasi.


“Ya aku adalah Cheng Lowei, kakak kandung Cheng An. Katakan di mana kamu menahan adikku?” Cheng Lowei menahan kesabarannya.


Afinitas angin yang dimiliknya sangat kuat, bahkan udara beriak acak seperti angin ribut yang cukup untuk menerbangkan jemuran pakaian cukup jauh.


Rambutnya yang terurai menambah kesan horror akan kemarahan dan niat membunuh yang kuat.


“Kamu membawa bunga atau tidak? Bagaimana bisa kamu mendatangi pemakaman adikmu tanpa karangan bunga dan dupa.” Mao Yu berkata tanpa beban. Dia mengangkat kedua pundaknya.


“Kamu….” Cheng Lowei mengamuk. Dia mengembunkan origin di telapak tangannya gila gilaan dengan target Mao Yu yang membuatnya murka.


Bola makin membesar, para petugas semakin khawatir. Komandan mereka segera memerintahkan bawahannya untuk mundur. Karena sangat berbahaya jika bilah bilahnya yang liar mengenai mereka.


Mereka akan dengan mudah terbagi menjadi dua atau beberapa bagian.


Mao Yu juga mendapatkan banyak teriakan dari para petugas untuk mundur tapi dia mengabaikannya.


“Apa yang akan dilakukan murid itu? Apa dia menantang maut?” Komandan khawatir.


Mao Yu memilih maju dengan kecepatan tinggi menuju Cheng Lowei. Gerakannya sangat efisien di antara celah dan bilah angina yang diciptakan oleh kemampuan lawannya.


“Mencari mati…” Cheng Lowei mengumpat. Dia melemparkan bola angin ke arah Mao Yu. Dia memastikan bilah tajamnya akan mencincang habis.

__ADS_1


Semakin dekat dengan bola angin, Mao Yu mengembunkan setitik hitam sebesar biji sawi di ujung telunjuknya.


Black Hole…


Zzzzaaaaattttttt….


Bola angin Cheng Louwei tersedot paksa ke dalam noktah hitam seketika menghilang dan termasuk meniadakan efek angin ribut yang menjadi efek sampingnya.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Belum selesai terkejut tendangan Mao Yu menghantam perut Cheng Louwei hingga tubuhnya membentuk lengkungan seperti aksara ‘)’.


“Bggghhh….” Rasa mual melonjak dari perut Cheng Louwei. Dia ingin memuntahkan darah namun tangan kiri Mao Yu mencengkeram lehernya. menahan berkah keluar dari tenggorokan.


Mao Yu mengedarkan energy jiwa melalui tangannya hingga membuat dantian Cheng Louwei mengunci erat tak mau melepaskan energy dari hokum jasa yang dikuasainya.


“Kamu sangat berani datang kemari hanya seorang diri. Sangat naif, benteng tidak terlihat remeh sebagaimana kalian memandang sarang semut.” Mao Yu mengintimidasi.


“Jika berani bunuhlah aku… Klanku tak akan berhenti mengejar sarangmu…” Cheng Lowei mempertahankan martabatnya.


“Jangan bilang ayahmu patriark, paman, kakek, nenek, dan leluhurmu akan datang semua kemari. Ancaman klasik… Kalimatmu sama persis seperti Cheng An. Apa kalian diajari cara yang sama untuk mengancam orang?” Mao Yu mencibir.


“Kamu…” Cheng Louwei bersusah payah ingin mengatakan sesuatu namun cengkeraman Mao Yu makin kuat.


Black Hole…


Mao Yu menembakkan biji sawi hitamnya ke arah kaki Cheng Lowei. Dan bzzzzttt… kaki kirinya tersedot kedalam kehampaan hingga menghilang sementara pangkal pahanya mengucurkan sirup maple dengan deras.


“Aaaaaaggghhhhh…..” Cheng Lowei melawan dengan meronta-ronta. Namun saying cengkeraman Mao Yu sangat kuat. Dia hanya seperti anak ayam tak berkutik melakukan sesuatu sama sekali.

__ADS_1


“Kamu pengecut, teriakan adikmu tidak sekeras dirimu…” Mao Yu mencibir kembali.


Cheng Lowei merasakan rasa sakit yang luar biasa atas kehilangan sebelah kakinya. Kesombongan dan arogansinya turut terpenggal pula. Semangat bertarungnya melorot hingga dia tanpa sadar membasahi celananya.


“Kalian, petugas… Apa konsekuensi menistakan Benteng Tua Leluhur?” Mao Yu bertanya pada kerumunan petugas yang mengungsi di kedai penerimaan tamu.


“MATI… “ Mereka menjawab dengan serempak dan kompak.


“Kau dengar itu Cheng Lowei?” Mao Yu membalikkan wajahnya dan kembali menatap tajam Cheng Lowei.


“Dengar baik-baik tanpa kalian kemari aku akan mendatangi kalian dan memusnahkan klanmu. Kalian terlalu jauh bermain-main dengan bangsa Yao.” Mao Yu berbisik lirih.


“KA.. KAAMMMUUU….” Cheng Lowei terkejut atas perkataan Mao Yu yang menusuk langsung pada rahasia tersembunyi Klan Cheng. Namun sayangnya Mao Yu semakin kuat mengcengkeram leher Cheng Lowei.


“Tidak… Tidak… Ja.. Jangann…”


CRACKKK….


Suara renyah terdengar seperti pemburu mematahkan ranting kering. Leher Chen Lowei patah, dia tewas. Mao Yu melemparkan mayatnya ke samping dengan jijik.


“Gantung di dekat pintu gerbang !!!”


Petugas segera menaati perintah Mao Yu tanpa ada penundaan. Mereka lantas mengagumi betapa kuatnya murid Benteng Tua Leluhur.


“Ini kali pertamanya benteng menggantung mayat di depan gerbang.” Seorang petugas mendirikan tiang kayu.


“Ini akan menjadi awal dari masalah besar.”Petugas yang memasangkan tali pada leher mayat Cheng Lowei berkata.


Mereka akhirnya menyelesaikan misi penggantungan.

__ADS_1


__ADS_2