
Di ruang tengah mansion.
"Jing Jun, Kamu mengalami lompatan besar dalam kultivasi ?" Li Hua terkejut.
"Sepertinya begitu. Aku merasakan tubuhku makin kuat dan gerakanku lincah." Jing Jun menjawab.
Jing Jun memperagakan permainan pedangnya dengan gesit. Walaupun gerakannya biasa-biasa saja. Li Hua tidak begitu yakin dia bisa bertahan lama melawan Jing Jun saat mereka berduel.
"Aku menjalankan mandi di kuil tiap selesai ibadat, sesuai perintah tuan muda." Jing Jun berkata tentang rutinitas.
"Apakah mungkin karena efek mandi ?" Li Hua bertanya-tanya.
"Aku tidak cukup yakin. Tapi Pak Tua Shi sepertinya menyadari saat mandi terjadi sesuatu padaku. Soalnya kulihat dia heboh sendiri saat aku sedang mengguyurkan air." Jing Jun menduga-duga.
"Oke, kalau begitu aku akan menuntut kepada Tuan Muda untuk menyelenggarakan adanya upacara mandi di kuil." Li Hua memutuskan dengan mantap.
***
Pada malam hari di halaman depan mansion yang sangat luas.
Semua tokoh mansion berada di sana, kecuali Pak Tua Shi. Dia sedang berdiam diri di dalam kuil saat ini.
Mao Yu mengatakan kepada mereka semua untuk melakukan peregangan tubuh. Karena malam ini akan menjadi malam yang baik untuk mencari keringat.
"Apakah kita akan berolahraga Tuan ?" Fang Yi bertanya.
"Betul, Dijamin kalian akan ngos-ngosan." Mao Yu bersemangat.
Mao Yu mengeluarkan belati 30 cm. Bilahnya melengkung seperti kuku harimau.
Sebenarnya sejak lama dia ingin bermain dengan menggunakan belati. Tapi selalu diurungkan niatnya karena dia ingin lebih menguasai penggunaan tongkat.
Sepertinya malam ini akan menjadi debut perdananya dalam memainkan belati.
Trio Li Hua, Fang Yi dan Jing Jun bertanya-tanya cabang olahraga apa yang menggunakan belati dengan bentuk melengkung ngeri kayak gitu.
Di tengah kebengongannya Mao Yu melempar sebuah longbow dan satu karung mata panah kepada Fang Yi.
Busur berwarna hitam dengan bahan kayu. Dengan pengerjaan sangat halus. Bentuknya polos tanpa ornamen maupun hiasan. Justru malah memberikan kesan yang elegan.
Ketika Fang Yi menarik tali pada busur. Wow, tarikannya mantap. Ini busur yang bagus.
"Buat dirimu berguna. Ambil satu buah anak panah dan tembakkan !" Mao Yu memberi perintah.
Fang Yi sedikit bimbang, akhirnya dia mengambil sebuah mata panah dan memasangkan di busurnya.
__ADS_1
Dia menarik mata panah hingga ke titik optimalnya. Cara Fang Yi menarik busur memperlihatkan dia adalah pengguna yang profesional.
"Pohon Oak, Sudut kiri dekat lampu penerangan kedelapan dari gerbang." Mao Yu menunjukkan target.
Mata Fang Yi membidik arah yang dimaksud tuannya. Di tengah malam yang sunyi dengan angin dingin yang semilir. Fang Yi menemukan ada beberapa daun yang tidak bergerak seirama dengan daun lainnya.
Matanya lebih fokus lagi dia menemukan ada sebuah pergerakan aneh di atas dahan.
Shhoooouuuu..... Mata panah melesat.
"AWWCCHHH.... " Seseorang berteriak dari atas pohon oak dilanjutkan dengan bunyi gedebuk jatuh. Dia mati dengan panah di menancap di dada.
Seketika pohon-pohon lain memunculkan suara bergemerisik. Kemudian memunculkan beberapa bayangan hitam dengan senjata terhunus.
Mereka adalah para penyusup. Bergerak ke arah Mao Yu dengan langkah yang gesit.
Mao Yu menyambut kedatangan penyusup dengan segera mengambil langkah maju untuk menghalau mereka.
"Mari berolahraga !" Mao Yu berlari ke arah penyusup dengan belati di tangan.
Mao Yu menyebut perang sebagai salah satu cabang olahraga.
Li Hua dan Jing Jun tidak punya waktu lagi untuk bengong. Kondisi darurat mengharuskan mereka untuk segera bergabung melibatkan diri dalam pertempuran demi mempertahankan kedaulatan Mansion Tua Leluhur.
Dua orang Fighter berpedang, Mao Yu sebagai asassin dan Fang Yi sebagai marksman. Merupakan kombinasi yang keren saat ini.
Penyusup tidak hanya berkonsentrasi pada serangan pedang Li Hua maupun Jing Jun. Mereka juga harus waspada dengan panah Fang Yi.
"AAWWCCHHH... " Sebuah panah mengenai punggung penyusup.
"AAWWCCHHH... " Penyusup lain yang terlena tumbang oleh serangan Mao Yu dengan kemunculannya dari pohon secara tiba-tiba.
Terkadang Mao Yu juga muncul dari tanaman semak-semak. Mao Yu selalu muncul saat tepat saat mereka sedang kewalahan oleh serangan pedang dan hujan panah.
Begitu Mao Yu muncul dipastikan satu penyusup telah mati. Segera setelah itu, Mao Yu kembali menghilang menuju pohon atau tanaman semak terdekat.
Panah terus berkelabat di tengah pertempuran. Jika tidak mengenai musuh, berarti Fang Yi menggunakannya untuk menghambat atau menghalau gerakan mereka.
"AAWWCCHHH... " Beberapa penyusup lain mati lagi karena terkena panah.
Didukung dengan Fang Yi. Duo pedang dapat dengan mudah melakukan gerakan finishing.
"AAWWCCHHH... " Beberapa penyusup mati karena tebasan pedang.
Pertempuran sangat lancar, mereka berempat dapat bekerja sama dengan potensi maksimal. Pertempuran berakhir dengan cepat.
__ADS_1
Semua penyusup telah dikalahkan.
Mereka bangga dengan prestasi kerja sama yang kompak ini.
"Jangan terlalu senang dulu, ini baru pemanasan." Mao Yu berkata pada trio.
***
12 Orang dengan ranah kultivasi langit melayang di atas Paviliun Tua Leluhur.
"Terlalu banyak mengirimkan prajurit lemah akan merugikan kita. Percuma jika hanya berakhir mati. Kita masih membutuhkan mereka di masa depan." Pria dengan janggut putih menyampaikan pendapatnya.
Beberapa yang lain menganggukkan kepala. Menyatakan setuju dengan perkataan pria janggut putih.
Xin Bang yang berada di antara mereka terkejut melihat dua patung manusia es yang berada di pelataran samping bangunan utama.
Dia langsung mengenali itu putrinya Xin An dan adiknya Xin Lan.
Seketika wajahnya merah, dia tersulut amarah.
Sebuah bola api muncul dengan cepat membesar. Cahayanya membara di langit malam Ibukota Pusat.
Dengan sebuah gerakan melempar. Xin Bang menembakkan bola api ke arah bangunan utama mansion. Bola melesat seperti meteor dengan kecepatan super.
BAMMM ....
Bola api meledak dengan hebat mengenai dinding perisai tak terlihat. Percikannya sangat indah seperti kembang api di malam tahun baru.
Pengamat ahli melihat dari kejauhan. Dia berkomentar bahwa ini adalah serangan pertama yang diluncurkan Klan Xin atas aksi balas dendamnya.
Dia berkata kepada muridnya agar memperhatikan dengan seksama setiap peristiwa yang terjadi di depan matanya. Pertempuran ini akan menambah wawasan.
Ahli lain menyatakan bahwa Mansion Tua Leluhur mungkin memiliki kartu truf di balik lengan mereka. Jika mereka tidak mempunyai sekutu yang kuat. Bagaimana mereka memiliki keberanian untuk menentang Klan Xin.
Pengunjung kedai keluar berhamburan dari ruangan. Mereka segera mengambil jarak yang jauh untuk menyaksikan secara langsung aksi pembalasan Klan Xin.
"Apakah Mansion Tua Leluhur akan bertahan ?" Pengunjung gendut bertanya pada kerumunan.
"Klan Xin memiliki 12 ahli ranah langit. Bagaimana dengan Mansion Tua Leluhur? Apakah mereka memiliki ahli yang cukup untuk mengimbanginya ?" Pengunjung termuda di antara mereka mengemukakan pertanyaan kritis.
"Jika mereka tidak memiliki ahli dengan bilangan cukup untuk mendukung, berarti malam ini kita menyaksikan penghancuran Mansion Tua Leluhur." Pengunjung tua memegang kipas kertas mengatakan dengan nada suram.
BAMMM.....
BAMMM....
__ADS_1
BAMMM....
Bola api terus menerus ditembakkan bertubi-tubi. Lagi-lagi itu semua tertahan oleh perisai perlindungan dan meledak menjadi mawar api di langit.