Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Guru


__ADS_3

Kepala Sekte Tang Shang membawa Chen Li terbang melesat kembali menuju Danau Perak.


Setelah mendengar kabar Pasukan Wang merangsak menuju Danau Perak dari salah satu hadirin majelis. Kepala Sekte Tang Shang terpaksa izin undur diri dari majelis pertemuan.


Kepala Sekte Tang Shang memutuskan segera meluncur pulang untuk melihat apa yang telah terjadi di sektenya.


Dan juga dia sangat mengkhawatirkan Mao Yu yang dia tinggalkan sendirian di sana. Bagaimana anak ini nanti berhadapan dengan keganasan Pasukan Wang.


Arak-arakan pasukan dengan parade akbar makin menghantui pikiran Kepala Sekte Tang Shang. Dia membayangkan sektenya akan jadi abu dalam sekejap walau hanya karena pasukan itu lewat.


“Kepala Sekte Tang Shang, Apa yang akan terjadi dengan sekte?” Chen Li sangat gundah.


“Keselamatan Mao Yu adalah yang utama. Meskipun sekte hanyalah bangunan yang nilai sejarahnya tinggi karena warisan turun temurun. Mao Yu lebih berharga.”


“Aku hanya punya dua murid. Kamu dan Mao Yu, apapun yang terjadi aku tak akan tinggal diam melihat salah satu di antara kalian mengalami kesulitan.” Kepala Sekte Tang Shang menunjukkan tekad kuatnya.


“Kepala Sekte Tang Shang....” Chen Li terharu.


Perjalanan cukup jauh ditempuh, mereka tak mengendur sedikit pun berharap segera tiba dengan segera.


di sebuah area perbukitan dengan banyak batu-batu tajam. Kepala Sekte Tang Shang menghentikan penerbangannya.


Di depannya melayang berdiri beberapa orang yang masih muda, dia menghitung ada 10 yang dipimpin oleh seorang pemuda dengan perawakan gagah.


Terlihat dengan jelas bahwa dia adalah pemimpinnya. Dia memiliki wajah penuh totol-totol kebiruan dan terdapat bekas luka melintang seperti dicambuk.

__ADS_1


Pemimpin mereka mendekatkan diri ke arah Kepala Sekte Tang Shang. Tampak seperti sedikit mengingat-ingat, merasa orang yang berpapasan ini dia mengenal.


“Aha, kamu Tang Shan.” Pemimpin pemuda menyebut.


“Benar, Siapakah anda rekan kultivator? Kurasa bagiku inilah pertama kali aku melihatmu.” Kepala Sekte Tang Shang berbalik menyapa.


Pemimpin pemuda membuat gerakan menawan. Dia menunjukkan giok yang tergantung di pinggang dari balik jubahnya.


Kepala Sekte Tang Shang seketika terkejut ketika melihat goresan pada batu giok. Tiga pedang yang diikat rantai.


“Kamu... Kamu...” Kepala Sekte Tang Shang mengambil sikap waspada.Serta merta Kepala Sekte Tang Shang dirudung rasa khawatir.


“Putera Tetua Pertama Sekte Pedang Bumi, Nian. Apa yang membuat anda kemari. Sepertinya kamu menuju Danau Perak.” Kepala Sekte Tang Shang memberanikan diri untuk mengungkapkan fakta ini.


“Kurasa anda terlalu memiliki sentimen yang berlebihan. Bawahan anda telah mengumpulkan garam dari tempatku. Mereka lantas pergi setelahnya. Apa pun yang terjadi kemudian tidak ada hubungannya sama sekali dengan sekteku.”


“Terus?” Nian mulai merasakan api kemarahan mulai berkobar di dadanya.


Kepala Sekte Tang Shang menghela nafas. Nian ini tidak datang kemari untuk damai.


Chen Li mendapat bisikan dari Kepala Sekte Tang Shang untuk segera melarikan diri sekuat tenaga. Dia akan diturunkan dari penerbangan, untuk lari sejauh mungkin. Tang Shan akan sebisa mungkin menahan Nian.


Chen Li sangat panik. Jelas gurunya bukanlah lawan dari Nian.


Namun apalah daya, Chen Li harus menahan kepedihan di hatinya. Dia sebisa mungkin harus bisa kabur sesuai arahan guru, walaupun logikanya mengatakan mustahil dia bisa berhasil di bawah pengawasan Nian.

__ADS_1


“Orang sehat berbohong, Orang sekarat berbicara jujur.” Nian mengancam.


“Lumpuhkan mereka!” Nian kemudian memerintahkan pasukannya.


Pasukan kecil Nian tertawa terbahak-bahak saat mengelilingi Kepala Sekte Tang Shang dan Chen Li untuk memblokir rute pelarian.


“Cih, Chen Li ini akan menjadi hari yang buruk.” Kepala Sekte Tang Shang menggumam.


Dia mengerahkan semua kekuatan yang dimilinya, berbagai macam mantra juga dirapalkan. Dia juga melemparkan berbagai mantra dan jimat pelindung untuk Chen Li.


Semua yang tersisa di sektenya diberikan untuk muridnya. Tak ada kata pelit atau banyak pertimbangan. Meskipun peluang untuk selamat masih kecil, Tang Shan tidak mau berakhir sebagai guru yang pendusta.


Sesuai prediksi, Kepala Sekte Tang Shang dan Chen Li dihajar habis-habisan. Mereka dibanting, dilempar, dipukul dan ditendang.


Pasukan kecil Nian memperlakukan keduanya seperti bola. Mereka mengoper dan menyikat secara bergantian. Sangat riuh terdengar ledak tawa seolah ini adalah permainan yang sangat menyenangkan.


Mereka berdua menjadi bulan-bulanan dan basah dengan darah.


Nian melempar vas kepada salah satu bawahannya.


“Tuan Muda... Ini...” Bawahan Nian yang menerima vas mengernyit. Dia menimbang nimbang isi di dalam vas.


“Pil pemulihan, berikan kepada mereka saat sudah di ujung maut. Kemudian lanjutkan permainan kalian, namun jangan sampai mereka mati.” Nian pun tampak menikmati tontonan yang cukup menarik ini.


Sontak ledak tawa kembali terdengar kembali. Mereka bermain ping pong, volley, basket dan sepak bola dengan dengan menggunakan Kepala Sekte Tang Shang dan Chen Li sebagai bolanya.

__ADS_1


__ADS_2