
Para pesakitan menolak memercayai apa yang mereka lihat. Murid pakar baru saja memberangus dua pemuda pesohor di depan mata.
Sangat nyata melihat dengan mata kepala sendiri.
Begitu beraninya. Tindakan ini akan memicu badai di dunia keempat. Elite sekte akan secepatnya bergerak untuk membalaskan tindakan yang sangat mencoreng kebesaran seperti ini.
Namun kepada siapa? Kepada sekte kecil ini kah? Kepada murid pakar kah?
Lantas bagaimana nanti pakar akan menghadapi dua kekuatan besar ini?
Sebuah dilematika berkecamuk dalam sanubari masing-masing.
Wei Lan masih berdiri dengan gagah dan mantap. Sorot matanya tak menunjukkan rasa khawatir sedikit pun.
Melihat Wei Lan sangat tenang para pesakitan pun merasa heran. Orang ini sangat optimis. Apakah mampu berhadapan dengan Sekte Api Phoenix dan Sekte Pedang Bumi?
Entahlah,
Kepala Sekte Tang Shang dan Chen Li terlihat membaik berkat perawatan tim medis dari kalangan pesakitan. Mereka berdua mendapati tubuh yang semula sangat pucat abu-abu kini telah sedikit berwarna teraliri darah.
Mereka berdua dipastikan aman, tidak meninggal dan akan bisa sehat kembali.
Bersamaan melihat Gadis Api yang sedang step seperti kena sakit ayan. Para pesakitan merasa sangat puas.
Dendam atas perbuatan tidak masuk akal Gadis Api kepada mereka sebelumnya setengah terbalaskan. Kayaknya sih mereka lebih puas jika Gadis Api mati. Namun, biar murid pakar yang memutuskan.
Mao Yu pun merasa lebih baik saat Nian mendapatkan karmanya. Ulahnya kepada Kepala Sekte Tang Shang dan temannya Chen Li dikembalikan padanya berkali lipat bahkan dibayarkan lunas beserta seluruh bunganya.
Mao Yu memasang keadaan dengan pose yang sangat kelelahan berat. Dia berdiri dengan sangat kesulitan, mungkin sedikit angin lebih kencang yang berhembus padanya akan membuatnya tumbang.
Suara kuda dan kereta terdengar saat mendarat dan memasuki halaman sekte.
__ADS_1
Kuda yang gagah dengan kereta yang mewah menawan.
Tidak tanggung tanggung seorang pemuda tampan berpakaian hitam segera keluar menampakkan dirinya di hadapan umum.
“Di mana gadis-gadisku?” Dia menyatakan secara langsung.
Mao Yu yang kelelahan menunjuk pada Gadis Api. Pemuda tampan turut mengikuti arah telunjuk jari Mao Yu.
Pemuda tampan memicingkan mata.
“Gadis jelek yang seperti sakit jiwa ini? Apa kamu meremehkan tuan mudamu?” Pemuda tampan mengatakan dengan ekspresi sinis.
“Dia adalah Gadis Api dari Sekte Api Phoenix. Bukankah itu yang kamu cari?” Mao Yu membalas.
Pemuda tampan mengerutkan mata. Yah, memang benar setelah diamati lebih jauh dia adalah Gadis Api dari Sekte Api Phoenix. Namun kenapa tampilannya sangat memprihatinkan?
Mata pemuda tampan beralih arah. Pandangannya mengunci pada Nian yang tergeletak pingsan dengan bilah jarum lidi menancap di tubuhnya.
Bukankah dia Nian dari Sekte Pedang Bumi?
Pemuda tampan mengabaikan apa yang berputar dalam pikirannya. Dia kembali mengunci tatapan kepada Mao Yu.
“Di mana Pendeta Pegar Suci dan Gadis Mawar Merah?” Dia bertanya.
“Aku bukan ibunya. Jadi ke mana mereka pergi tidak berpamitan kepadaku. Tentu saja aku tak tahu mereka perginya ke mana?” Mao Yu mengangkat kedua bahunya.
“Kamu... “ Pemuda tampan mulai geram.
“Tu.. Tuan Muda Cheng An... To.. Tolong...” Gadis Api meminta tolong dengan suara parau.
“Aha Cheng An... Cheng... Cheng... Cheng...” Seperti pernah mendengar nama keluarga ini.
__ADS_1
Seketika Cheng An dan pamannya yang bertindak sebagai kusir terkejut dan terperangah.
Beberapa pesakitan yang berada pada level ketinggian tertentu terbelalak. Klan Cheng, nama yang sangat tabu disebutkan di dunia keempat. Mereka ada di sini.
Ini pertanda tidak baik.
Sementara Wei Lan kini terlihat lebih serius.
“Gadis bodoh... Beraninya menyebut namaku. Okey, kalian semua tahu aturannya. Kalian semua yang ada di sini harus mati untuk melupakan keberadaan kami di sini.” Cheng An mengancam.
“Tolong Paman, basmi mereka semua.” Cheng An memerintahkan. Disambut pamannya segera menghunus pedang dari penyimpananya.
“Yoooo... Tunggu dulu.” Mao Yu menginterupsi sekaligus melirik pada Wei Lan dan mengedipkan sebelah matanya.
DUAGGHHH...
Wei Lan dengan gerakan cepat seperti teleportasi menghilang dari posisinya. Seketika muncul di samping Paman Cheng An.
Wei Lan menendang sekuat tenaga pinggang lawannya dengan kaki besi palsunya yang super keras.
Paman Cheng An terkejut dengan serangan tiba-tiba di luar penginderaannya.
Dia terlempar jauh tanpa perlawanan ke arah Danau Perak hingga melesat dengan kecepatan gila. Kemudian memantul beberapa kali pada permukaannya.
Splash... Splash... Splash...
Ah ya, seperti kita melempar batu pada permukaan danau. Batu akan melesat dan memantul-mantul pada permukaannya.
INNNNNNNNN IIIINNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIII
Para pesakitan sontak kaget hingga terkejut melihat apa yang disebut sebagai “Paman” oleh Cheng An yang diduga adalah putra eselon Klan Cheng ditendang secara kasual oleh Wei Lan.
__ADS_1
Bahkan Cheng An pun terkejut tak menyangka akan terjadi adegan yang sangat jauh di luar nalarnya.
Mulutnya membentuk huruf o secara tidak sadar.