
Cih...
Gadis centil mengeluarkan sebuah mutiara berwarna hijau. Demikian juga pemuda berotot mengeluarkan mutiara serupa dengan warna kuning.
Para pengamat seketika terhenyak.
INNNN IIIINNNNNIIIIIIIIIIIIII..............
“Tolong katakan apa yang tetua lihat !” Seorang pengamat muda kehilangan kesabaran atas aksi kaget para tua-tua.
Setelah menstabilkan diri, salah saeorang tetua pengamat bersuara.
“Mutiara Lembah dan Mutiara Gunung. Harta pamungkas sekte, konon kala itu satu mutiara diaktifkan dapat meluruhkan satu negara dalam sekali sentuh.” Suara tetua bergetar.
Para pengamat berdiri dengan tangan terkepal. Mata mereka tak mau melepaskan pandangan terhadap dua mutiara. Bahkan mereka tak malu melewatkan sepersekian detik dengan berkedip.
Pemuda cantik mengeluarkan sebuah mutiara serupa dari penyimpanannya. Menyerupai kelereng kaca dengan warna ungu muda. Dia menggenggamnya dengan erat.
Pemuda seruling mengabaikannya. Dia kembali mendekatkan lubang seruling di bibirnya.
“Saatnya memutar simfoni, lagu pengantar arwah menuju peraduan...” Dia sedikit menggumam.
Kedua mutiara mengeluarkan cahaya gemilang. Kecemrlangannya membutakan semua prajurit yang bertempur.
Riak-riak energi besar terkumpul di angkasa dengan membentuk dua pusaran awan gelap.
Angin pun mulai bertiup dengan kacau balau.
Mutiara memanifestasikan kekuatan besar kepada pemegangnya. Benda itu menyalurkan energi yang cukup besar pada gadis centil dan pemuda berotot. Mata keduanya bersinar dengan cahaya hijau dan kuning. Sesuai warna mutiara yang mereka operasikan.
Patriak Wang Ji dan Leluhur Wang Lan berdiri berdampingan. Mereka menengadahkan pandangan pada langit.
Melihat putra dan putri mereka seperti capung yang terbang di tengah badai angin.
Pandangannya mantap. Kepercayaannya tak tergoyahkan.
Sementara energi yang terkumpul pada kedua mutiara semakin besar, seluruh peserta yang hadir pada medan laga merasakan restu langit atas penghancuran.
Mereka meyakini dalam satu gerakan pamungkas kedua murid penerus sekte pemandangan akan memberangus semua pihak baik kawan maupun lawan.
__ADS_1
Senjata pamungkas sekte ini adalah senjata penghancur massal.
Gemuruh makin mendera, angin makin ribut. Langit yang gelap menanti perintah penghancuran dari dua buah mutiara.
Sayup-sayup suara seruling dengan melodi lambat mengalir melewati pendengaran semua orang.
Lagu yang diantarkan oleh seruling ini seperti mengetuk jiwa mereka, seperti ingin mengajak pergi ke sebuah tempat yang sangat jauh.
“Bagaimana kedua putra Wang akan menghadapi?” Pengamat junior sedikit khawatir.
“Tidak mudah, tapi aku percaya Klan Wang harusnya memiliki sesuatu untuk mengimbanginya.” Pengamat ahli tetap dalam ketenangannya.
Sebuah anting kayu dengan pengerjaan yang kasar bergantung dan bergelayut diterpa angin ribut di masing-masing telinga kanan dua putera Wang.
Sejauh ini keduanya tidak melakukan gerakan apa pun sama sekali. Pengamat melihat keduanya seperti pasrah akan nasib yang akan mereka terima.
“Inilah saatnya.” Komandan Sekte Pemandangan berkata. Peluhnya menitik dari pelipis kiri dan kanan.
Cahaya hijau dan kuning menyeruak bersamaan. Cahaya terang yang menyilaukan antara hijau dan kuning saling terjalin.
Semua orang tak kuasa dengan cahaya yang mampu membutakan mata. Mereka segera menutup mata dengan sangat erat.
“Akhir dari semuanya...”
Saat semua menutup mata karena silau hebat, seorang pengamat ahli dengan status pakar masih mampu mempertahankan penglihatannya walau dia harus mengerahkan segala daya untuk membiarkan kelopak matanya menyipit.
Hanya meninggalkan satu garis halus di mana korneanya mampu menangkap bayangan pelepasan harta pamungkas.
INNNN.....IIIIIINNNNNNIIIIIIII...........
Pengamat ahli menyaksikan dengan mulut terbuka dua buah bunga cahaya berwarna merah kecoklatan dengan kelupak yang sangat besar mekar di tengah badai cahaya hijau dan kuning.
Kelopak dengan cepat menebal seperti tumbuh begitu subur dengan pupuk cahaya hijau dan kuning.
Kelopaknya dengan cepat menyerap dan menyedot kedua cahaya penghancur dari mutiara dalam waktu sekejap.
Para pengamat dan hadirin di medan laga membuka mata mereka kembali dengan melotot tajam ke arah langit.
Di mana Wang Jiao dan Wang Shan berdiri di tengah bunga raksana coklat kemerahan dalam keadaan sehat wal afiat.
__ADS_1
INNNN.....IIIIIINNNNNNIIIIIIII...........
Sementara gadis centil dan pemuda berotot berlumuran darah dari sekujur tubuhnya. Terkena efek dan knock back dari pengaktifan harta pusaka.
Dua cahaya gelap menangkap harta mutiara dan segera mengamankan kedua penerus yang melayang jatuh menuju tanah. Mereka adalah Patriark Sekte Gunung dan Lembah.
“Kalian...” Kedua patriark mengancam Wang Shan dan Wang Jiao.
“Ketahuilah posisimu. Agak kurang terhormat generasi tua memberikan acaman pada yang muda”
“Patriark Klan Wang, Wang Ji.” Patriark Sekte Gunung mengunci pandangannya.
Aroma kebencian mengumbar dari pemimpin sekte pemandangan. Mereka terpaksa mau tidak mau mengakui kewalahan menghadapi musuh mereka saat ini.
“Leluhur Wang Lan, apakah pasukan kita sudah mundur semua?” Patriark Wang Ji bertanya.
“Sudah.” Leluhur Wang Lan menjawab.
Dengan anggukan halus ayah mereka, Wang Jiao dan Wang Shan mengokohkan pendirian yang terlihat dengan jelas dari raut wajah dan warna cahaya mata.
Kedua bunga dilempar ke area sekte pemandangan.
Ledakan yang memicu awan jamur raksasa disertai bunyi gelegar yang memekakkan telinga.
Angin ribut pun menyusul dengan hiruk pikuk dan menerbangkan para pengamat seperti nyamuk diterpa kipas raksasa.
Meninggalkan dua lubang besar di tanah dan mengubahnya menjadi pemandangan gurun dari peta geografi yang semula berwujud sebagai ladang hijau penuh kesuburan.
INNNN.....IIIIIINNNNNNIIIIIIII...........
Hari ini, sekte pemandangan telah ditumpas habis. Seluruh pengikutnya diuapkan oleh kelopak Red Glow Mahogany menjadi abu dan asap.
Suara seruling tetap menggema, bahkan semakin jelas terdengar gemanya di perbukitan.
Para pengamat mendapatkan kembali tempat duduknya dengan mata terpejam penuh sesal yang mendalam atas tewasnya ratusan ribu orang murid sekte pemandangan.
Raut wajah kedua patriark sekte pemandangan sangat kacau dengan penuh dengan rona lesu.
“Di mana leluhur kita ?”
__ADS_1
Mereka saling berpandangan.