
“Mobilisasi sepertiga kekuatan Sekte Api Phoenix?”Patriark mengeryitkan dahinya.
“Tetua Ketigapuluh menggunakan hak token emas dari anda untuk mengerahkan pasukan sekte. Anda memberikan hak terlalu istimewa padanya.” Tetua pertama menjelaskan.
Patriark Sekte Api Phoenix mengambil nafas dalam.
“Dia brilian dan jenius. Namun ada fakta lain yang belum kamu ketahui.”
“Jika bukan hak ku untuk tahu, aku tidak keberatan. Dan aku tak akan berusaha mencari tahu.” Tetua pertama berkomentar.
“Terkait asal usulnya...”
“Cukup patriark, simpanlah untuk dirimu sendiri.” Tetua pertama menahan.
“Kamu tidak ingin aku membagi bebanku?”
“Kamu lebih baik menyimpannya sendiri. Agar kamu cepat menjadi tua dan pikun hahaha....” Tetua pertama berkelakar.
“Hahahaha... Adakalanya begitu. Sesekali terbersit dalam pikiranku aku kepingin menjadi pikun, kawan...”
“Kembali ke permasalahan awal. Terkait sepertiga kekuatan yang dibawa Tetua Ketigapuluh.”
“Ah, Apa? Bagaimana bisa dia membawa kekuatan yang sebegitu banyak?” Patriark berwajah merah padam.
“Ah, Bukankah anda memberikan token emas dengan otorisasi tinggi padanya?” Tetua Pertama mengernyitkan dahi.
“Apakah ada token yang seperti itu di Sekte Api Phoenix?”
“Apakah anda lupa?” Tetua Pertama menyanggah.
Patriark “ ... “
“Patriark, siapa sebenarnya Tetua Ketigapuluh?”
“Dia adalah anak seorang petani yang dipungut Tetua Pertama saat bertugas di Hutan Barat.” Patriark membongkar ingatannya.
__ADS_1
“Aku adalah Tetua Pertama, aku tidak pernah melakukan ekspedisi ke Hutan Barat dan aku tidak pernah mengangkat seseorang menjadi murid atas namaku.”
“Kalau begitu Tetua Kedua.” Patriark merevisi.
“Patriark apa kamu baik baik saja?” Tetua Pertama sedikit khawatir.
Sebagai patriark dan juga sevagai kawan lama dia sangat mengenal dengan baik. Dia menemukan sesuatu yang janggal setelah cukup lama tak menemui sahabatnya ini dari pengasingan.
“Oya, Ke mana Tetua Ketiga. Seminggu lebih aku tak menjumpainya. Aku ada misi untuknya menuju Sekte Pemandangan, apa dia belum kembali?” Patriark bertanya dengan penasaran.
Tetua pertama berdiri dari kursinya. Dia meninggalkan patriark yang sedang linglung serorang diri di meja taman halaman belakang.
Ada sesuatu yang tak lazim padanya. Aku harus segera mencari tahu...
“Administrasi, Atas otoritasku Tetua Pertama. Tak seorangpun diizinkan menemui patriark. Dia sedang melakukan pengasingan di kediamannya.”
“Juga kumpulkan semua petugas, admin dan pelayan di kediaman patriark sekarang tanpa seorang pun absen.”
“Siap Tuan.”
Suasana pagi yang cerah di mansion utama Sekte Api Phoenix. Kegiatan sekte berlangsung seperti keumuman dan kebiasaannya.
Tetua kedua membongkar semua jadwal, rutinitas dan persediaan. Cukup lama dia memastikan semuanya berjalan seperti pada umumnya.
Hanya saja...
Ketika berada di ruang meditasi dia mengendus sesuatu yang berbeda. Patriark yang juga temannya tidak pernah mengganti dupanya dengan aroma yang lain sepanjang hidupnya.
Smooth green lavender, aroma yang mengingatkan pada cinta pertamanya.
Tetua pertama mengambil abu pembakaran dupa. Dan memoles dengan kedua jarinya.
Hmm... aroma yang lain dan bahan yang lain.
“Pelayan, Bagaimana dengan sakit kepala Patriark yang sering kambuh saat tengah malam?”
__ADS_1
“Kami tidak pernah terjaga saat malam hari. Nampaknya beliau baik-baik saja...” Pelayan menjawab.
“Kamu yang bertugas untuk dupa? Kamu mengambilnya dari persediaan stok?”
“Iya Tuan aku yang menyalakan dupa, namun Patriark yang menyediakan dupanya sendiri belakangan ini.” Pelayan menjelaskan.
“Bawakan aku dupa yang belum dibakar...” Tetua Pertama mengintruksikan.
Di bangsal alkemis, Sekte Api Phoenix.
Tetua Kelima menimang nimang beberapa dupa yang dibawakan tetua pertama untuknya.
Beberapa kuali dan labu kaca bergelembung untuk menguji bahan yang terkandung di dalamnya.
“Apa kamu menemukan sesuatu?”
“Sejauh ini tidak ada hal yang aneh. Ini hanyalah dupa dari extrak bunga Smooth Green-Blue Lavender. Ada bahan tambahan herbal Dragon Leave Grass, Root Diamond Skin, Blood Mapple, Doll Massive Fruit dan bahan katalis biasa.”
“Semuanya dalam takaran yang pas untuk nyeri pada meridian di jaringan kepala.”
“Akan kubakar satu, mungkin kita bisa melihatnya.” Tetua Kelima membakar sebuah dupa pada akhirnya.
Dupa mengepul dengan asap yang minim. Namun aromanya menyeruak dengan wangi lembut membawa efek sangat menenangkan.
Beberapa stress yang dialami kedua tetua ini seperti dilonggarkan.
“Apakah menimbulkan efek ketagihan atau semacamnya? Tidakkah ini terlalu ekstase?” Tetua Pertama sedikit berkomentar.
“Ini lazim,kultivasi setingkat patriark tak akan terpengaruh. Ini hanya reaksi yang wajar untuk tubuh.” Tetua Kelima memaparkan.
“Kamu masih ada keraguan?” Tetua Kelima menunjukkan ekspresi kurang senang.
“Lupakan, aku hanya berusaha mencerna penjelasanmu. Bagi orang yang bukan alkemis seperti aku. Bukankah mencerna hal yang demikian ini cukup sulit? Hahaha...”
“Hahaha...” Tetua kelima turut tertawa.
__ADS_1
Akhirnya tetua pertama meninggalkan bangsal alkemis. Dia menuju dapur mansion patriark dengan langkah cepat.
Dia mengesampingkan permasalahan dupa. Dia fokus ke dapur dan persediaan minuman.