Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Inferno


__ADS_3

Pemandangan hijau yang subur tiba-tiba berganti menjadi padang gurun yang tandus dan tak bertepi.


Wan Hanma tidak sadar kapan dia berpindah kemari. Dia hanya mengikuti Mao Yu beberapa lama hingga tiba di area ini.


Wan Hanma melihat kejauhan tampak dalam bayang-bayang bangunan istana putih megah dengan menara menjulang tinggi ke langit.


“Jangan pernah mendekati istana putih. Itu keberadaan di luar imajinasimu.” Mao Yu memberi arahan.


“Dimengerti.” Wan Hanma patuh.


“Aku akan menunjukkanmu bagaimana cara membuat api. Perhatikan dengan benar. Oya saat bermain api pakai jubah pelindungmu dengan benar. Itu akan meniadakan efek panas dan pembakaran pada tubuhmu. Demi keamananmu sendiri.”


“Pelajaran pertama. Saat membuat api, kamu harus membentuk tubuhmu sendiri agar tidak terbakar olehnya. Ingat kamu adalah naga, naga tidak akan terbakar oleh apinya sendiri. Karena apa?”


“Karena tubuhnya memiliki ketahanan kuat terhadap api.” Wan Hanma menjawab.


“Tepat sekali, pelajaran pertama adalah fisik naga. Lihat aku baik baik…” Mao Yu serius.


Mao Yu mengaktifkan kultivasinya, energy jiwa yang meluap seperti tsunami untuk mencopy rune dari koin tembaga seperti yang dianugerahkan kepada Wan Hanma.


Tidak menunggu lama copy rune naga tercetak dalam pikiran Mao Yu.  Mao Yu membuka baju dan dia mengaktifkannya.


Permukaan kulit Mao Yu banyak diliputi garis garis kemerahan bersulam emas. Wan Hanma memperhatikan dengan seksama garis garis yang terbentuk. Menyerupai sisik dengan warna transparan kemerahan.


Kuku di tangannya menjadi runcing dan tajam. Wan Hanma melihat jika digoreskan pada baja akan menimbulkan bekas yang dalam. Seperti menggaruk sepotong tahu dengan sendok garpu. Keras seperti berlian.


Dua buah tonjolan muncul dari kepala Mao Yu berupa tanduk mungil. Alih alih mengerikan, Mao Yu tampak imut dan lucu saat menumbuhkannya.


Matanya memerah seperti diliputi kemarahan dan rasa haus akan tumpah darah. Gigi taringnya sedikit memanjang. Pita suaranya menebal, suaranya lebih berat dan serak terdengar.


IIIIIINNNNNN IIIINNNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII………..


“Ini adalah fisik naga. Pertahanan terkuat di dunia. Senjata, mantra sihir macam apa pun tak akan mempan saat kamu mengolahnya ke titik tertinggi seperti ini.” Mao Yu memamerkan.”


“Pukul aku dengan kekuatanmu, jika perlu keluarkan semua senjata dan jimat dari cincin penyimpananku ini.” Mao Yu melemparkan cincinnya.


IIIIIINNNNNN IIIINNNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII………..


Wan Hanma terbelalak saat melihat isi cincin kepemilikan Mao Yu. Di dalamnya terdapat harta yang akan membuat siapa pun menjadi gila. Perbendaharaan di dalamnya setara dengan keberadaan penguasa salah satu dunia.


Siapa Mao Yu sebenarnya?


Dengan gemetar Wan Hanma memilih satu pedang dan satu jimat penghancur yang menurutnya paling kuat.


“Pilihan bagus, Pedang Kelas Surga dan Jimat Penghancur Kelas Surga pula.” Mao Yu memberikan komentar.

__ADS_1


IIIIIINNNNNN IIIINNNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII………..


Wan Hanma mau pingsan.


Wan Hanma menghunuskan pedang dan menebas berulang ulang kepada Mao Yu. Namun hanya suara dentang nyaring saja saat pedang bertemu dengan permukaan kulit sisik naga.


Hingga Wan Hanma memutuskan membuat tebasan terakhir, dia mengumpulkan semua kekuatan fisiknya.


Hyaaaaa…..


Sayangnya kekuatan penuh pedang berakhir pada 2 jari Mao Yu, di mana saat kukunya menancap pada bilah Wan Hanma melihat percikan berwarna biru. Pedang kelas surge tergores dan tersayat dalam.


Clank….


Pedang mudah dipatahkan seperti keripik dengan melepas daya kejut kuat membuat Wan Hanma terlempar.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Wan Hanma sangat takjub dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak menunda dan bersiap kembali. Jimat surge yang berada ditangannya dia aktifkan untuk kemudian dilemparkan ke arah Mao Yu.


Mao Yu dengan mudah menangkapnya meremas hingga menjadi bubuk batu. Jimat dibatalkan keaktifannya oleh sentuhan fisik naga.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


“Tidak ada fire-ball, fire-wall, atau fire-breath. Hanya Song Of Inferno yang cukup layak disebut. Selain itu semua api hanyalah mainan kembang api.” Mao Yu mengembunkan bola api di tangannya.


Bola api makin membesar hingga dia melemparkan tinggi ke angkasa.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Panas terik mulai menyengat sementara bola api terus membesar dalam sekejap hingga Wan Hanma melihatnya seperti matahari dengan jarak beberapa ratus meter.


Panasnya menggila membuat hamparan debu gurun meleleh seketika menjadi lautan magma.


Udara sangat panas hingga terasa seperti juga ikut meleleh, debu dan asap mengepul liar, Wan Hanma melihat Mao Yu seperti bayangan dewa api dalam bingkai liak liuk fatamorgana.


Wan Hanma melihatnya seperti mimpi. Bola Inferno yang identic seperti matahari dengan jarak sedekat ini akan menguapkan segala bentuk kehidupan.


Bola inferno melepaskan jilatan api yang berkobar dengan liar. Wan Hanma melihat dengan mata kepalanya sendiri Mao Yu menggerakkan dan mencambukkan lidah api sesuka hatinya.


Astaga…

__ADS_1


Wan Hanma duduk bersimpuh dengan kedua lututnya. Dia merasakan ngeri di seluruh tubuhnya. Kekuatan seperti ini akan meleburkan ketigabelas dunia.


Wan Hanma memandang jubah kuning bersulam merah yang dikenakan. Ini adalah harta gumamnya. Mampu menahan panas seterik ini adalah kehebatan yang hakiki.


Wan Hanma terus termenung hingga inferno menghilang sementara Mao Yu kembali ke wujud aslinya lagi.


Merela berada di tengah lautan magma yang menggelegak.


“Pelajari itu semua, kamu adalah tipe orang yang mengingat dengan baik.” Mao Yu berucap.


“Ah.. Aku… Aku… Sangat awam….” Wan Hanma ketakutan setengah mati.


“Ada semacam naluri yang bergerak saat kamu melihat apiku?” Mao Yu membuat pertanyaan.


Wan Hanma merenung kembali, dia mengingat perasaan yang muncul saat melihat inferno.


Perasaan senang, riang, gembira dan hidup…


Di mana api baginya adalah udara bagi seekor burung dan air bagi seekor ikan.


“Ikuti nalurimu, jika kamu serius kamu akan membuat beberapa bola inferno tergantung seberapa kuat tekadmu.” Mao Yu menegaskan.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Beberapa? Apakah ini gila? Satu bola cukup untuk memanggang penduduk tigabelas dunia. Katakana sekali lagi, membuat beberapa? Hah?


“Tu… Tuan… Berapa menurutmu inferno yang bisa dibuat?” Wan Hanma memberanikan diri bertanya.


“Menurut catatan, mestinya bisa membuat Sembilan matahari.” Mao Yu tampak mengingat-ingat.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Wan Hanma terhuyung-huyung hendak pingsan.


“Okey aku akan pergi, teruslah di sini hingga aku kembali menemuimu. Jika kamu membutuhkan makanan atau keperluan. Lambaikan tanganmu pada istana putih tiga kali.” Mao Yu meninggalkan Wan Hanma dengan mulut ternganga.


“Tu… Tuan… Siapa kamu sebenarnya?”


Mao Yu membalik tubuhnya dan dengan bangga membusungkan dadanya. Tangan kirinya memegang token yang disangkutkan di dada.


“Aku Asisten Pengajar Benteng Tua Leluhur”

__ADS_1


__ADS_2