Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Hore ! Aku Dapat Dua


__ADS_3

Senja telah tiba. Beberapa stand sudah mulai menyalakan kristal cahaya.


Remaja kekar dan kawan-kawannya yang memarahi Mao Yu di antrian pagi tadi kini lewat di depan stand.


"Hei kalian semua..." Mao Yu meneriaki rombongan.


Mereka menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat anak kaya yang menganiaya putri Klan Xin duduk membuka sebuah stand pendaftaran.


"Kalian tidak akan pernah aku terima di Benteng Tua Leluhur-ku." Mao Yu memarahi rombongan.


"Bah, atas dasar apa kami harus mendaftar di tempatmu. Kami tidak ingin sial ikut menjadi sasaran kemarahan Keluarga Xin. Kami tak mau bernasib buruk ikut terseret oleh anak kaya bermasalah seperti dirimu." Remaja kekar segera nyolot.


Mereka segera pergi menjauh dari stand Mao Yu.


BWAHAHAHAHAA.....


Sekali lagi ledak tawa riuh bergema di mana-mana.


Saat ini sudah waktu sudah malam. Hingga akhirnya seorang pak tua berpakaian abu-abu yang bertugas sebagai petugas kebersihan menyapu di depan stand Mao Yu.


Dia menghentikan gerakan sapu. Mengusap peluh di dahinya, kemudian memandang x-banner tulisan tangan Li Hua.


Benteng Tua Leluhur di Kota kekaisaran membuka pendaftaran. Kami akan sangat menantikan anda untuk bergabung.


"Pak Tua, jika tertarik. Kemarilah... " Mao Yu memanggil pak tua tukang sapu.


"Lihat, apa mereka sudah frustasi hingga mereka mulai merekrut Pak Tua Shi." Salah satu panitia berkata.


Mereka tak bosan-bosannya tertawa setiap ada adegan di stand bobrok ini.


Para crew dan pengunjung menggeleng-gelengkan kepalanya. Apakah ini hanya acara menghabiskan waktu yang dilakukan anak-anak kaya.


Li Hua sudah kosong tatapannya. Fisiknya di sini namun arwahnya telah mengembara di alam lain. Dia hanya bengong saja dari tadi.


"Aku hanyalah jompo. Semua ototku sudah lemah dan tulangku mulai keropos." Pak Tua berbicara dengan sangat sopan.


Pak tua tersenyum. Namun senyum ini membawa suasana yang berbeda. Siapa pun yang melihat pak tua tersenyum akan menemukan sebuah rasa kedamaian di hati. Sangat terasa menyejukkan.


Berlaku bagi Li Hua yang hatinya seperti ladang kemarau setahun karena sudah hank pikirannya. Setelah melihat pak tua tersenyum seakan ada hujan yang turun membasuh jiwanya.


Dia mendapatkan pikirannya kembali dari lamunan. Membuatnya sedikit bersemangat.


"Pak Tua, Kalian mengunci pintu depan dengan erat dan kuat. Namun kalian melupakan pintu belakang." Mao Yu berkata pelan.

__ADS_1


Mendengar perkataan ini Pak Tua Shi tiba-tiba memegang gagang sapunya dengan erat. Matanya sedikit menajam sesaat seperti mengembara ke suatu lokasi yang sangat jauh.


"Pak Tua, Aku akan bertanya sebuah pertanyaan padamu. Apakah maling akan masuk dari pintu depan ?" Mao Yu melanjutkan.


Pak Tua Shi seperti terkena shock. Tangannya sedikit bergetar hingga dia melonggarkan cengkeraman gagang sapu. Membuatnya lolos dari genggamannya. Sapu kini telah ambruk di tanah.


Pak Tua Shi merasakan seakan akan dunia ini menjadi bisu. Suara bising percakapan di stand, Suara orang bergurau di sepanjang jalan. Serta langkah kaki pun tidak terdengar.


Pak Tua Shi tersadar beberapa saat kemudian. Dengan gerakan kesulitan karena tulang tua dia membungkuk mengambil sapunya kembali.


"Aku hanyalah tukang sapu. Aku tidak mengerti apa yang tuan ucapkan." Pak Tua Shi berkata dengan sangat santun.


"Baiklah kalau begitu, Aku akan membangun sebuah benteng yang kokoh di Kota Tua Leluhur. Kamu tahu, benteng ini memiliki halaman belakang yang cukup luas nantinya." Mao Yu memaparkan visinya kepada Pak Tua Shi.


"Kulihat kamu menyapu dengan cukup bersih. Kamu melakukannya dengan baik. Jadilah tukang sapu di sana." Mao Yu menawari pekerjaan.


Sebuah kebimbangan melintas di pikiran Pak Tua Shi. Dia memejamkan matanya cukup lama. Dari luar tampak seperti orang yang sedang dalam kesulitan untuk membuat keputusan.


Saat dia hendak bersuara. Anak muda lusuh berjalan gontai yang tak diterima di stand mana pun tadi siang kembali ke stand Mao Yu.


"Aku tak diterima di mana pun. Aku menyerah. Aku akan mendaftar di tempatmu sebagai guru." Anak muda yang frustasi berteriak di depan stand Mao Yu.


BWAHAHAHAHAA.....


"Oke, sudah diputuskan. Kamu Pak Tua jadi kepala di Benteng Tua Leluhur. Dan kamu anak muda, kamu diterima sebagai penatua pertama. Li Hua, Catat..." Mao Yu memutuskan.


Li Hua menjatuhkan rahangnya hingga ke tanah. Kertas dan kuas yang dia pegang pun lolos dari tangannya menyusul rahangnya yang berada di tanah.


BWAHAHAHAHAA.....


BWAHAHAHAHAA.....


BWAHAHAHAHAA.....


Aduduh, bazar kali ini sangat menarik. Kami mendapatkan hiburan lawak gratis yang tak henti-hentinya membuat kami mati karena tertawa.


Bahkan ada salah satu crew bertubuh gendut tertawa hingga berguling-guling di tanah. Membuat gerakan seperti bola yang menggelinding kesana kemari.


Para crew stand sebelah dan para pengunjung sangat terhibur dengan aksi stand ampas ini. Rasa capek dan lelah mereka tak terasa dari awal stand dibuka hingga saat ini.


"Oke, Li Hua. Kita sudah mendapatkan rekrutan. Ayo kita pulang." Mao Yu meregangkan badannya setelah pegal seharian duduk.


***

__ADS_1


Kereta mewah melaju dengan cepat membawa Mao Yu dan Pemuda Lusuh menuju mansion.


Pak Tua Shi mengatakan bahwa dia akan datang menyusul ke mansion saat pagi hari. Setelah mengurus administrasi pengunduran dirinya dari petugas kebersihan kota. Dia juga perlu berkemas dengan barang-barangnya.


Pemuda lusuh yang duduk di kereta bersama Mao Yu tak henti-hentinya kagum dengan kemewahan bagian dalam kereta.


Mao Yu menawarinya berbagai makanan dan buah-buahan mewah yang tersaji di dalam kereta.


Semula dia sangat canggung dan tidak mau. Mao Yu memaksanya, akhirnya dia memakan semuanya dengan lahap karena sebenarnya dia sangat lapar.


Baru pertama kali ini dia menikmati makanan mewah dengan rasa selezat ini. Dia makan sambil air matanya menetes.


Namanya Jing Jun, lebih muda dari Mao Yu setahun. Sebaya dengan Lin Fan yang berusia 15 tahun. Dia anak sebatang kara. Dia tidak tahu siapa ayah dan ibunya. Dia menceritakan bahwa kehidupannya singgah dari panti satu ke panti yang lain.


Hingga dia cukup besar harus menjalani kehidupannya sendiri.


Seperti halnya Mao Yu dulu, dia ingin bergabung dengan sebuah kekuatan untuk mencari penghidupan yang layak.


Tidak berharap banyak, menjadi tukang cuci pun akan dia lakukan. Mao Yu merasakan nostalgia mendengar kisah Jing Jun.


Sesampai di mansion Jing Jun juga tak kalah terkejut dengan besar, luas, megah dan mewahnya kediaman tuan muda. Para pelayan menyambut kedatangan mereka bak seorang raja.


Di dalam mansion perabotan mewah dengan kualitas tinggi memasuki pandangan Jing Jun. Bentuk-bentuknya, bahannya, ukiran-ukirannya, lapisan emas dan permata didekorasi selaras dengan chemistry kuno menyesuaikan keantikan bangunan mansion.


Rombongan tiba di meja makan besar dan panjang. Di atasnya tersaji berbagai hidangan berikut minuman dan buah-buahan.


Mereka semua menikmati makanan dengan lahap dengan para pelayan wanita cantik berbaris berjajar di belakang mereka.


Mereka siap dipanggil untuk segera melayani para tuan jika membutuhkan sesuatu saat sedang menyantap hidangan malam.


Saat gelas Jing Jun kosong pelayan di belakangnya segera menuangkan minuman untuk membuat gelasnya kembali terisi penuh.


Saat Jing Jun selesai makan dia berdiri dari tempat duduk, pelayan di belakangnya dengan gerakan anggun mambantu menggeser kursi agar Jing Jun segera menemukan ruang leluasa untuk meninggalkan perjamuan.


Jing Jun mendapat perawatan yang sangat layak dan mewah. Dia tak percaya ini semua terasa seperti dalam mimpi.


Dia mendapatkan kamar yang luas dengan perabotan lengkap dan mahal. Baju-baju dengan kualitas terbaik berjajar rapi di lemari disiapkan untuknya.


Dia terbaring di kasurnya yang empuk sambil memandang sebuah cincin penyimpanan yang kini terpasang di jarinya.


Lengkap di dalamnya perak, emas dan kristal jade rendah dalam jumlah yang menurutnya sangat jauh dari akal. Dia masih tak percaya ini semua terjadi padanya.


Persis seperti saat Mao Yu menjejakkan kaki pertama kalinya di Paviliun Shen.

__ADS_1


__ADS_2