
"Hei bangun, jangan bermain pingsan !" Kong Kecil membangunkan hantu arwah.
Hantu arwah perlahan-lahan bangkit dengan memegangi kepalanya. Dia masih melihat beberapa burung berputar mengitari kepalanya.
Kong Kecil mengeluarkan item kedua berupa cincin dengan batu akik berwarna merah cerah. Kong Kecil langsung melemparkan pada hantu arwah.
Hantu arwah segera menangkapnya. Seketika cahaya dari cincin menyelimutinya dengan cahaya samar kemerahan. Dia merasakan cincin ini menarik dengan lembut suatu energi aneh yang dari alam. Dia sendiri tidak memahami itu energi apa.
Setelah menyedot energi aneh cukup lama. Hantu arwah merasakan telapak tangannya menjadi hangat. Sebuah rasa yang belum pernah dia rasakan seumur hidup. Rasa hangat ini bersumber dari cincin di tangannya.
Kehangatan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, membawa perasaan yang sangat menyegarkan baginya.
"INN INNNIIIII....." Hantu arwah hendak pingsan lagi. Dia berusaha tetap sadar dengan menyandarkan tubuhnya pada bibir sumur.
"Berhenti bersikap katrok! Ini yang disebut rahmat tuan muda untukmu. Cincin Ruby Arwah ini memiliki kegunaan sebagai pemelihara jiwa yang tentu sangat cocok untukmu."
"Fungsinya akan memperbaiki struktur tubuh dan membawamu menuju gerbang immortal di masa depan. Bersyukurlah pada tuan muda yang telah memilihmu." Kong Kecil menjelaskan sebuah karunia agung.
Hantu arwah menangis dalam sukacita. Dia hanya sepotong kehendak kesepian tanpa tujuan. Seumur hidup keberadaannya hanya terikat kepada kuil.
Dia tak akan pernah bisa meninggalkan kuil sama sekali. Entah berapa era lamanya hingga akhirnya melemah dan hilang memudar.
Saat ini ketakutan akan kematian di suatu hari nanti telah hilang. Digantikan sebuah harapan yang terwujud di depan mata. Tepatnya di genggaman tangannya sendiri.
Melihat hantu arwah menangis tersedu-sedu, Kong Kecil melemparkan item terakhir berupa sebuah mata panah. Warnanya putih susu seperti dibuat dari tulang.
Saat menerima mata panah, arwah hantu merasakan aura dan kekuatannya melonjak berkali-kali lipat. Matanya melihat dunia seakan-akan semua di depannya adalah semut tak berdaya.
Dia dapat merasakan dengan pasti dia bisa menusuk tiga dunia sepeti halnya menusuk tiga bola bakso pada satu tusukan. Oh, betapa agungnya senjata ini. Dia takjub dengan kemegahan mata panah yang ada di tangannya.
"Tuan Monyet, apa mata panah ini? Hantu arwah yang diliputi rasa penasaran akhirnya bertanya.
"Oh, itu hanya terbuat dari taring Naga Celestial." Kong Kecil menjawab dengan acuh.
"INN IINNNIIII....." Hantu arwah melongo dengan seluruh rambutnya berdiri tegak. Kecantikannya menjadi amburadul seolah dia menjadi gadis gila yang nyasar di tengah pasar.
Apa katamu?
Taring Naga ?
Naga Celestial ???
Hantu arwah tak kuat lagi menerima informasi-informasi yang sangat jauh dari akal dan jangkauannya.
__ADS_1
Kong Kecil terlihat memudar dari pandangannya. Kemudian dia pingsan.
***
Pagi ini Mao Yu memakai pakaian yang paling bagus dan berdandan rapi. Dia mengambil langkah cepat untuk segera menuju kereta kuda.
Di atas kereta kuda, Li Hua telah duduk di bangku kusir. Siap mengantarkan tuan muda ke tempat tujuannya.
Hari ini ada even besar di alun-alun kota. Di sana diselenggarakan bazar besar perekrutan murid berbagai sekte dan klan.
Banyak sekte dan klan baik besar maupun kecil membuka stand di sana. Even ini terjadi lima tahun sekali dan tentu banyak diminati oleh para pendaftar dari berbagai daerah.
Beberapa sekte maupun klan mensyaratkan umur dan ranah kultivasi. Namun sebagian lagi tidak. Mereka memiliki kebijakan masing-masing dalam proses perekrutan.
"Aku melihat seperti sebelumnya stand hanya dibuka satu hari hingga tengah malam. Namun kali ini ada dua hal yang berbeda." Seorang pengamat mengemukakan informasi.
"Apa itu kalau kami boleh tahu ?" Teman berbaju biru yang di sebelahnya bertanya.
"Pertama, beberapa sekte besar dari luar benua juga turut hadir. Yang kedua Klan Xin tidak mengikuti perhelatan akbar ini." Dia melanjutkan pemaparan.
"Aku rasa ini terkait dengan kejadian yang mereka alami beberapa hari yang lalu. Mereka kini sedang bangkrut dan terlilit hutang sangat besar." Teman dengan jubah abu-abu menambahkan.
"Dunia ini memang keras ya. Klan Xin yang terkuat seolah-olah menjadi penguasa yang kekal. Nasibnya terbalik hanya seperti memutar telapak tangan. Runtuh hanya dalam satu malam." Teman berjubah abu-abu melanjutkan dengan nafas panjang.
"Oh ya, Benar... Aku akan lebih berhati-hati lagi. Terima kasih telah mengingatkan." Dia segera menjawab.
***
Mao Yu tiba di alun-alun. Pengunjung sangat ramai hingga memenuhi luar area. Di dalam alun alun berjajar rapi stand-stand yang didirikan dengan jarak yang teratur.
Mao Yu mengamati ada antrian panjang mengular. Terdiri dari para remaja, pria berumur dan beberapa tua menunggu giliran untuk membeli tiket masuk.
Setelah membawa tiket mereka akan diperkenankan memasuki bazar dan memilih sekte atau klan idaman mereka untuk mendaftar bergabung.
Itu pun jika mereka memenuhi kualifikasi. Jika tidak mereka harus memilih sekte atau klan lainnya.
"Li Hua ambil pendaftaran." Mao Yu memberi perintah pada Li Hua
"Tuan muda ingin bergabung dengan sekte ?" Li Hua bertanya-tanya.
"Pendaftaran stand." Mao Yu menjawab ketus.
Li Hua langsung meloncat segera menuju tenda panitia. Dalam hati tuan muda ini akan melakukan hal-hal aneh apalagi, keluhnya.
__ADS_1
"Hei anak orang kaya, ambil antrian jika ingin mendaftar. Kamu diam di situ jangan-jangan ingin memotong antrian ?" Pendaftar remaja dengan badan kekar nyolot kepada Mao Yu.
Oh, sungguh ini adalah masalah klasik di mana pun cerita ditulis. Kalau ndak di kedai ya di antrian model seperti ini pasti akan muncul masalah.
"Betul, jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya lantas bisa semaumu sendiri. Kami antri mulai tadi malam, cepat ambil posisi di paling ekor sana !" Yang lain segera menimpali.
"Betul.. Betul,,, " Beberapa yang lain tersulut emosinya.
Ketika Mao Yu hendak membalas dengan mengucapkan beberapa kata. Namun dua orang berbadan tegap dan berseragam pengawal menghampiri dan menghardiknya.
Mao Yu mengerutkan kening.
Mao Yu mengenali seragam yang mereka pakai serupa dengan pengawal Klan Xin yang dia hajar saat keluar dari hutan.
"Aha, kalian pasti orang-orang Klan Xin. Biarkan aku menebak, pasti gadis payah yang menjadi tuanmu berada di sekitar sini. Kulihat kalian hanya berdua, apa klan sudah tak mampu membayar teman-temanmu yang lain ?"
Sebuah kata tusukan yang sangat berani di muka publik. menyinggung Klan Xin di hadapan ribuan orang.
"Kurang ajar, kalian berdua sikat dia." Xin An muncul dengan wajahnya yang bercadar.
Beberapa orang yang mengenali suara manis ini langsung menyuarakan dengan keras. Dia Putri Kedua Klan Xin.
Informasi ini membuat seluruh antrian menjadi gaduh. Beraninya anak ini berurusan dengan Keluarga Xin. Dipastikan tamat sudah nasib anak ini.
Dua pengawal segera menghunus pedang dan mulai menyerang.
Mao Yu mengeluarkan tongkat jo besi dan memutarnya di udara.
Tebasan demi tebasan pedang dia hindari dengan lincah. Cukup mundur satu langkah sudah keluar dari area tebasan.
Sesekali Mao Yu juga menangkis dengan tongkatnya. Pertarungan mereka sangat menarik perhatian publik. Keramaian ini tak satu pun ada yang berani campur tangan bahkan melerai. Atau mereka ikut celaka tersambar kemarahan Klan Xin.
Sebuah tebasan samping pedang diarahkan pada pinggang Mao Yu.
Mao Yu menghindarinya dengan melesat ke tanah mengambil posisi di bawah jalur serangan pedang. Sekaligus mengambil gerakan kaki untuk menjegal lawannya.
Namun sayangnya itu tak cukup kuat. Pengawal tak langsung ambruk, hanya terganggu keseimbangannya saja.
Dengan sebuah gaya hip-hop Mau Yu kembali berdiri dan mengulang gerakan sapuan pada kaki penjaga sekali lagi. Kali ini dengan sabetan tongkat.
Gedebuk... Pengawal yang sudah hilang keseimbangan mendapat serangan di kaki dari tongkat besi. Langsung membuatnya jatuh.
Dagg... Pukulan tongkat besi mendarat di dahi pengawal yang jatuh membuatnya terkapar pingsan.
__ADS_1
Dengan sedikit gerakan provokasi memainkan jari membentuk gerakan aneh. Mao Yu memancing kemarahan seorang pengawal yang tersisa.