
Di kedai salah satu ibukota besar.
“Katakan dengan jelas !!!” Seseorang berteriak
“Ulangi sekali lagi !!!” Seseorang sudah mulai tak sabar.
“Benarkah begitu?”
Suasana kedai di perkotaan semua membahas hal ini. Menjadi hot news dalam sekejap seperti wabah melanda suatu negara.
Pemberitaan tentang Klan Wang yang menumpas musuh bebuyutan mereka, Sekte Pemandangan. Sekaligus pergerakan selanjutnya Klan Wang menuju Sekte Api Phoenix.
“Aku takut Klan Wang menggigit apa yang tak akan sanggup mereka kunyah di Sekte Api Phoenix.”
“Jika dibandingkan dengan Sekte Pemandangan, Sekte Api Phoenix jauh lebih gahar lagi. Kekuatan mereka berkali kali lipat dari Sekte Pemandangan.”
“Menurutmu apakah rencana Klan Wang adalah rencana buta?”
“Maksudmu apakah mereka bodoh?”
“Hei pelankan suaramu!”
“Maaf...”
“Sepetinya Klan Wang akan menulis ulang sejarah dunia keempat.”
“Kenapa kamu berfikir demikian ?”
“Kepercayaan diri mereka adalah jawabannya. Bagaimana mungkin mereka berani bergerak tanpa kartu as.”
“Benar juga perkataanmu.”
“Kita lihat saja kalau begitu.”
“Oke, Baiklah...”
Klan Wang mendirikan tenda tepat di ujung hidung Sekte Api Phoenix. Mereka memilih lokasi dengan padang rumput terbuka.
Para prajurit beristirahat dalam keadaan siaga. Mereka tak mau kendur sedikitpun dalam berkultivasi meskipun dalam kondisi militer sedemikian rupa.
Garam Kristal Utama di masing-masing tangan prajurit berpendar menghasilkan gelontoran energi yang membasuh meridian tak ada habisnya.
Mereka diperkuat, mereka meningkat, dan mereka direstukturisasi.
Petinggi Klan Wang berada di aula utama. Saat ini mereka sedang menerima utusan dari Sekte Api Phoenix. Seorang tetua dengan penampilan yang masih sangat muda.
__ADS_1
Tampaknya tetua muda ini telah lulus dari perhitungan sesepuh. Menjadikan dirinya sebagai pilar pendukung kekuatan Sekte Api Phoenix di era ini.
“Tetua Ketigapuluh memberi salam kepada Patriark Klan Wang.” Dia memberi salam pembuka.
“Salam kebaikan untukmu pula tetua, duta Sekte Api Phoenix.” Wang Ji membalas.
Tetua Ketigapuluh duduk dengan sedikit arogan, dia mempermainkan gelas kaca yang berisi anggur.
“Apakah kalian benar-benar merencanakan ini?” Tetua Ketigapuluh membuat pertanyaan dengan sedikit tekanan.
Wang Ji menenggak gelas anggurnya.
“Silahkan dinikmati anggurnya, kami barusaja memanasi. Anggur ini terbaik saat suhu sedang hangat.” Wang Ji tersenyum.
Namun Tetua Ketigapuluh hanya melihat sekilas cairan keunguan di dalam gelas kaca. Dia kembali memainkannya, membuat cairan anggur bergoyang-goyang.
Wang Ji meletakkan tangannya di atas meja.
“Tentang ini, Bukankah sia sia kalau kamu sejauh ini datang tanpa hasil.” Wang Ji berbicara pelan.
“Aku hanya khawatir jika kamu dan klan mu tidak akan pulang lagi ke rumah.” Tetua Ketigabelas meletakkan gelasnya. Anggur masih sedikit bergoyang.
“Khawatir? Hahaha... Aku lebih khawatir lagi jika aku pulang ke rumah tanpa melakukan apa pun di sini.” Wang Ji menuangkan kembali anggur di gelasnya yang kosong.
“Patriark, kurasa kamu terlalu keras kepala. Apakah kamu tidak menyayangkan jika kehilangan banyak anggota keluargamu di tanah api?”
Tetua Ketigabelas berdiri dari tempat duduknya.
“Baiklah kalau kamu bersikeras, kamu bisa mengubah pendirianmu sebelum aku memasuki gerbang Sekte Api Phoenix. Panggillah aku, aku akan mendengarkanmu.” Tetua Ketigabelas
Tetua Ketigabelas tiba di pintu keluar tenda. Dia berbalik ke arah Wang Ji
“Apa yang kamu inginkan terhadap Sekte Api Phoenix?”
“Kami menginginkan sebuah bendera menancap di halaman depan mansion utama kalian. Lalu apa yang akan kalian lakukan terhadap kami?” Wang Ji balik bertanya.
Tetua Ketigapuluh mengambil langkah menuju luar tenda utama.
Wang Ji mendengar dengan jelas melalui telinganya sendiri apa yang diucapkan Tetua Ketigapuluh.
“Pemusnahan.”
Wang Ji kembali menenggak dan mengosongkan gelas anggurnya dama sekali hirup.
Di gubuk kecil sisi seberang dari Sekte Danau Perak.
__ADS_1
Tiga orang duduk di meja bundar kecil dengan punggung yang lurus. Mereka sesekali menyeka keringat yang mengembun di dahi mereka.
“Tak kusangka kita duduk bertiga seperti ini dalam satu naungan.” Satu-satunya suara perempuan terdengar dari ketiganya.
Suaranya sedikit kesal, namun mau bagaimana lagi nada berikutnya menunjukkan kepatuhan mutlak.
Tiga emperor sedang duduk dengan rukun dan mencoba saling memahami dan bersahabat.
“Aku tidak percaya tuan muda sangat pemurah.” Emperor Myriad Mountain menimang cincin dengan tahta permata hijau di jari manisnya.
“Kelamahan Hukum Pelayuan adalah menguras vitalitasku sendiri. Aku akan dipaksa hidup lebih singkat saat mengedarkan kekuatan penuhnya.”
“Namun berkat harta utama surgawi cincin ini. Memasok energi hidup dan vitalitas tak ada hentinya ke pembuluh kehidupanku. Aku menjadi emperor dengan hukum pelayuan tak ada batasnya. Hahaha....”
“Emperor Red Glow, Apa guci itu?” Emperor Myriad Mountain menyela.
“Guci Pupuk.”
“Aokaokaokaokoaao.... Apa itu?” Kedua emperor mau tak mau berusaha menahan tawa.
“Diam !!!”
“Aokaokaokaokoako....”
Dengan jentikan lembut Empress Fire Phoenix meletakkan sehelai bulu berwarna merah menyala. Sedikit seperti memberikan efek seperti terbakar dengan api energi yang sangat halus.
“Bukankah kalian melihat dengan mata kepala sendiri. Lady Bu menangkap Burung Phoenix asli dengan jaringnya? Aku tak menyangka leluhur keramat yang begitu luhur rela mencabut sehelai bulunya sendiri hanya dengan permintaan kasual.”
..... atau kucabuti seluruh bulu mu !!!
“Hiii... “ Kedua emperor bergidik teringat kembali Mao Yu mengatai burung.
Permintaan kasual? Nyonya, itu ancaman. Huhuhu...
“kekuatanku akan tumbuh pesat dengan afinitas bulu orisinil yang sangat otentik ini.” Empress Fire Phoenix mulai menjadi-jadi.
“Emperor Red Glow, apa maksud Tuan muda menempatkan kita di sini? Aku menangkap keberadaan kita di sini bukan sekedar untuk melindungi Danau Perak” Emperor Myriad Mountain bertanya.
Wang Kun menghela nafas panjang dan menatap mata kedua emperor dengan sangat perhatian.
“kalian tahu tentang dua orang yang ditangkap tuan muda? Mereka adalah orang Cheng.”
“APAAA ???”
“Tuan muda ingin wisata ke Castle Black. Sepertinya dia tidak cukup menggunakanku sebagai satu satunya pemandunya.” Wang Kun menutup matanya.
__ADS_1
INNNNN.... IIIIIINNNNNNNNNIIIIIIIIIIIII.................