Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Kesurupan


__ADS_3

Dupa Lin Fan tak menyebarkan asap berwarna dan tak pula berbau. Dalam balutan angin lembut yang berputar melingkar di camp Sekte Api Phoenix. Disebarkan dengan merata.


Mengisi setiap celah tenda dan memasuki tenda.


Seluruh pasukan dalam camp menghirupnya secara terus menerus. Memberikan efek memerah pada bola mata.


Kini seluruh prajurit camp Sekte Api Phoenix terinfeksi oleh pencemaran dari asap dupa beracun.


Para prajurit berhenti dari semua aktifitasnya. Mereka diam mematung dengan pandangan kosong.


Beberapa dengan kultivasi tinggi memiliki resistensi yang cukup kuat untuk menahan. Namun sayangnya akal sehat mereka pun perlahan tergerus.


Melihat para rekan yang diam mematung, mereka yang masih memiliki kesadaran yang mulai tercemar tak bisa melakukan hal apapun.


Mereka merasakan linglung.


“Cucu dan keponakan, menyamar dan berbaurlah dengan pengamat sipil. Jaga diri kalian.” Li Hua mengarahkan Gadis Api dan Nian.


Mereka berdua mengangguk dan segera menghilang dari pandangan.


Fang Yi memasang anak panah pada longbownya. Postur tubuhnyanya tegak, busurnya melintang dengan posisi vertikal sempurna.


Tali busur ditarik hingga pada batasnya.


Otot lengannya mengeras seperti berlian, jarinya mencengkeram dengan kuat pangkal mata panah yang dilengkapi dengan bulu angsa berwarna putih kemilau. Pandangan dari sebelah mata yang terbuka seperti tatapan seekor elang.


Anak panahnya terbuat dari logam seperti perak sedang mata tajamnya berwarna perunggu gelap yang mengisap cahaya matahari.


Jika diperhatikan dengan jelas, terdapat rune rumit pada ujung tajamnya.


Dengan jubahnya yang berkibar, tali busur dia lepaskan.


Bulu angsa yang lembut melewati pelipisnya. Busur dia jatuhkan dengan momentum yang selaras dengan lepasnya anak panah.


Shoooo....


Tetua ke 21 berada di tengah camp Sekte Api Phoenix melihat titik kecil dari bola matanya yang memerah. Berasal dari angkasa menuju lokasi camp.


Dia hanya memandang dan berkedip beberapa kali.


Dia tidak membuat gerakan ataupun antisipasi, pikirannya seperti ingin melakukan sesuatu.


Dia pun secara naluriah memerintahkan anggota tubuhnya untuk bergerak. Namun, ada pikiran lain yang mendominasinya untuk tak melakukannya.

__ADS_1


Jlebbb....


Tetua ke-21 memegang anak panah yang menancap tepat di jantungnya. Darah berlumuran dari sisi punggung yang ditembusnya.


“Serangan Klan Wang !!!” Tetua ke-21 berteriak sebelum dia ambruk di tanah dalam keadaan tak bernyawa.


IIIIIINNNNNN IIIINNNNNIIIIIIIIIII...............


Pengamat berdiri dari tempat duduknya.  Mereka menampar pipi temannya berulangkali. Memastikan apa yang dilihatnya adalah nyata.


Fakta !


“Ini bukan ludruk atau sandiwara kah?” Pengamat magang terpana.


“Barusaja salah satu tetua Sekte Api Phoenix jatuh oleh tembakan panah.”


“Gila...”


“Apakah dia mati?”


“Bagaimana panah begitu mudah membunuh?”


“Panah itu beracun? Atau harta tinggi?”


AAAAAARRRRRRRGGGGG.......


AAAAAARRRRRRRGGGGG.......


AAAAAARRRRRRRGGGGG.......


AAAAAARRRRRRRGGGGG.......


AAAAAARRRRRRRGGGGG.......


Teriakan sahut menyahut dalam camp Sekte Api Phoenix.


“Apa yang terjadi?”


“Mereka... mereka membantai rekan sendiri !!!”


“Apa mereka sudah gila ???” Pengamat kebingungan.


Benar sesuai apa yang dilihat oleh para pengamat. Prajurit Sekte Api Phoenix seperti sedang kesurupan.

__ADS_1


Mata mereka merah seperti iblis. Mereka menghunus pedang, tombak dan senjata tinggi. Menyabetkan pada rekan sendiri.


Tak peduli mereka prajurit biasa, komandan kompi, maupun komandan batalyon. Mereka mengamuk secara acak bertarung dengan rekan sendiri.


Teriakan demi teriakan saat


Darah mengalir seperti sungai, menggenang seperti danau. Tubuh tak bernyawa bergelimpangan di mana mana.


Panah panah dari squad Fang Yi, Benteng Tua Leluhur. Melesat satu per satu, terlihat acak namun mereka menyasar kepada para komandan kompi dan batalyon.


AAAAAARRRRRRRGGGGG.......


AAAAAARRRRRRRGGGGG.......


AAAAAARRRRRRRGGGGG.......


Mereka para komandan yang kekuatannya di atas para prajurit cukup banyak menghabisi rekan sesamanya. Dirasa cukup kenyang membunuh, panah-panah dari squad Fang Yi diarahkan pada mereka.


Mereka pun berjatuhan seperti rusa yang diburu.


Fang Yi fokus pada delapan tetua batalyon terlepas dari komandan utama. Panahnya lepas dari busur dengan kecepatan cahaya.


Melesat melintasi bangunan tenda diantara hiruk pikuk tentara Sekte Api Phoenix yang saling membunuh sesama rekan sendiri.


Panah Fang Yi menjatuhkan tetua satu per satu dengan sangat mudah. Targetnya seperti buruan yang sedang mabuk. Kurang fokus, perhatian dan tanpa perlawanan.


Fang Yi dengan santainya menarik busur satu demi satu. Tanpa hambatan maupun gangguan.


Tidak semua prajurit tenggelam dalam kesurupan. Beberapa masih bisa mempertahankan kesadaran walau sedikit. Mereka yang mampu bertahan memilih bersembunyi.


Mereka sibuk mengirimkan sinyal komunikasi kepada markas pusat Sekte Api Phoenix untuk meminta bantuan.


Namun sayang, origami Li Hua berupa tiga burung yang terbang di atas langit camp Sekte Api Phoenix menyambar berbagai macam sinyal komunikasi mereka semua.


Nahas bagi prajurit unik yang masih sanggup mempertahankan kewarasannya. Panah-panah dari squad Fang Yi memburu mereka satu per satu.


Biarkan yang saling membunuh, buru yang prajurit bersembuyi dengan panah. Sedangkan prajurit yang melarikan diri ke hutan menjadi mangsa dan buruan Tiga Gou.


Tetua pertama mendapatkan info dari petugasnya. Dia membanting tangan di meja kerjanya hingga mengubahnya menjadi debu halus.


“Gila !!!” Dia terkejut.


“Patriark secara pribadi beserta beberapa tetua dan pengawal pribadinya menuju camp.” Petugas melanjutkan.

__ADS_1


“Double Gila !!!” Tetua Pertama memegang kepala dengan kedua tangannya


__ADS_2