Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Kunjungan


__ADS_3

Pada malam hari di ruangan khusus tamu penting Paviliun Shen.


Shen Mubai menerima seorang tamu pria berjubah mewah dari kain beludru. Dia berumur sangat tua. Dia adalah Mo Shan, Patriark Klan Mo sekaligus Tuan Kota Kekaisaran.


Rambutnya putih panjang diikat, begitu juga dengan jenggotnya. Dia tampak sangat renta namun sorotan matanya menolak untuk merasa tua. Terlihat Mo Shan dengan penampilan ini, bisa terlihat dia adalah orang cukup tegas sesuai kapasitasnya sebagai tuan kota.


"Kali ini aku dapat menemuimu di kediamanmu sendiri. Kamu adalah orang yang paling sulit dicari, cukup banyak waktumu kau habiskan berkelana di luar kota bersama karavanmu. Aku baru-baru ini mendapat kabar sepertinya kamu berencana ingin menetap di kota kekaisaran. Maka kuputuskan aku harus segera menemuimu." Mo Shan memulai percakapan.


"Bisnismu makin mapan, pijakanmu makin kuat sejak menetap di sini. Bahkan hari ini kota kekaisaran berguncang dengan kabar sebuah kedai menyajikan sake berkualitas. Kamu dalangnya, huh?" Dia melanjutkan dengan tatapan yang fokus ke mata Shen Mubai.


"Bukankah dalam hidup ini kita harus selalu melangkah menuju lebih baik?" Shen Mubai membuat pernyataan dengan senyuman.


"Hohoho... Kamu selalu berpandangan begitu sejak dulu. Sejujurnya aku takut sejak saat itu kamu telah berubah." Mo Shan berhati-hati mengungkapkan kalimat ini.


Shen Mubai menghela nafas panjang. Mengerti apa yang dimaksud oleh Mo Shan. Dia terus menerus menghela nafas panjang seolah melonggarkan dadanya yang terikat oleh tali.


"Kamu tahu perbuatan adikku tidak ada hubungannya dengan Klan Mo. Kamu sampai sekarang masih kuanggap tetap sebagai adikku. Sejak saat itu Mo Li tidak pernah kembali ke klan, seakan dia memutuskan hubungan dengan kami." Mo Shen mengatakan dengan perasaan yang bercampur aduk.


"Itu sudah menjadi jalan takdir. Aku tidak pernah mempunyai pikiran buruk tentangmu Kakak. Dan juga seluruh Klan Mo. Namun tidak berlaku hanya satu orang saja, yaitu Mo Li." Shen Mubai menyipitkan matanya.


Aura Shen Mubai bangkit dan menyeruak ke seluruh ruangan. Aura penuh dendam dan kebencian menyebar. Dia tidak pernah melupakan perbuatan Mo Li kepadanya. Dia masih memiliki komitmen pada dirinya sendiri untuk menuntut keadilan atas dirinya.


Shen Mubai seakan tersadar kembali ke dunia nyata setelah Mo Shan mengetukkan tangannya beberapa kali ke meja.

__ADS_1


"Ah, Itu adalah masa lalu. Hahaha.... Kakak telah datang ke sini. Kenapa tidak mencoba sake pembakar naga?" Shen Mubai segera mengambil sebotol. Menuangkan dengan pelan di atas cangkir.


Keduanya melupakan etika ketika suasana telah berubah menjadi hubungan kakak-adik. Mereka berdua segera menyambar cangkir dan menenggaknya.


"Fiuhh.... Sungguh hebat sesuai dengan namanya. Ini benar-benar membakar semangatku. Hahaha...." Mo Shan sangat puas dengan citarasa sake ini.


"Kalau begitu kita tambah lagi. Hahaha... !" Shen Mubai menantang Mo Shan minum dengan suasana hati yang membaik.


Setelah beberapa putaran mereka telah sampai pada batasnya. Kegembiraan yang dirasakan Mo Shan barusan adalah kebahagiaan sesaat. Setelahnya pandangan menjadi sayu menatap Shen Mubai.


"Aku mengkhawatirkan putra bungsuku, Mo Tian." Mo Shan mendadak menjadi tua setelah menyampaikan ini.


"Jujur saja aku sudah dalam batas mempertahankan hidupku. Aku merasa saatku wafat hampir tiba. Anak itu akan memikul beban berat menjadi penggantiku. Kurasa aku merasa bersalah mendapatkan seorang putra lagi di usia senja." Mo Shen seperti sedang mengeluh.


"Dia suka memukuli orang seenaknya sendiri dan memasukkan ke pertambangan dengan semena-mena." Shen Mubai mengatakan sebuah interupsi.


"Yang ditangkap adalah kriminal, mata-mata luar, pembuat onar, provokator dan orang-orang yang berpotensi merusak ketertiban kota kekaisaran. Aku yang memberinya daftar nama, dia yang memburunya. Jika ingin menyalahkan maka salahkan aku." Mo Shan menyatakan dengan tegas.


"Bagaimana dengan pria pemilik kedai Hwa?" Ada satu hal yang masih mengusik pikiran Shen Mubai.


"Itu satu orang di luar catatanku. Mo Tian menjebloskan karena perintah Xin Feng. Kau tahu dia tak punya pilihan selain mematuhinya. Kami bukan tandingan Klan Xin dan Night Lily." Mo Shan menjawab dengan pasrah.


"Oh, begitu rupanya. Oh ya, bagaimana pertunangan Mo Tian dengan putri kelima Klan Xing?" Shen Mubai melanjutkan pertanyaannya.

__ADS_1


Mo Shan menggebrak meja dengan tangannya. Matanya berubah menjadi merah darah penuh dengan amarah membara. Dia hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri namun hanya sesaat. Dengan nafas panjang dia dapat mengatasinya.


"Proposal sepihak Klan Xin, Demi tambang kristal jade di wilayah hutan timur. Penemuan tambang ini faktanya adalah bencana besar bagi Klan Mo." Mo Shan menjawab.


"Yang lebih kukhawatirkan adalah selain kekuatan dari benua kita yang mengincar tambang. Kekuatan besar dari luar benua kita kini juga sudah memulai memasang mata kepada kami. Daerah Archipelago, Hutan Rawa Hijau, Pegunungan Salju, dan Gurun Dewa." Mo Shan menjelaskan keadaan.


Dia merujuk pada daerah besar yang sebanding dengan benua yang mereka tinggali saat ini. Di sana sekte dan klan jauh lebih makmur dan maju. Jika diurutkan daerah benua merupakan daerah paling pelosok dan terlemah di antara semuanya.


"Bagaimana setelah aku wafat nanti Mo Tian akan memikul semuanya ini nanti? Itu yang selalu kupikirkan. Namun setelah melihatmu sekarang aku punya sedikit harapan." Mo Shan sedikit tersenyum. Dia seperti memiliki sebuah solusi.


"Apa itu ?" Shen Mubai bertanya dengan raut muka penuh penasaran.


"Keajaiban. Sebagaimana kamu mendapatkan keajaiban. Aku juga percaya Mo Tian juga akan mendapatkannya juga." Mo Shan kemudian terbatuk-batuk dengan hebat.


"Kakak... " Shen Mubai bangkit dan merasa sangat khawatir.


Mo Shan memberi kode dengan tangannya untuk membuat Shen Mubai duduk kembali. Juga memberikan kode kepadanya keadaan baik-baik saja. Shen Mubai patuh namun dalam hati masih menyimpan rasa kekhawatiran.


Setelah mereka melanjutkan perbincangan hingga malam telah larut. Akhirnya Mo Shan menyatakan pamit untuk undur diri. Shen Mubai mengiyakan dan membawakan beberapa botol sake pembakar naga sebagai suvenir.


"Tak akan kubiarkan kakak kehabisan stok. Kakak harus mabuk tiap malam. Kupastikan aku tidak akan telat mengirimkan untukmu." Shen Mubai bercakap-cakap mengantarkan Mo Shan hingga ke gerbang luar paviliun.


Keduanya tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


__ADS_2