
Dari tombak menancap yang diikat Cheng An melihat keramaian dan hiruk pikuk orang memancing dan menambang garam.
Dengan mata sayu, Nian pun jelas melihat semua dengan mata kepalanya sendiri.
Dari balik ruang tahanan, Gadis api pun menyaksikan semuanya dari lubang ventilasi udara.
Mereka melihat dengan jelas Tiga Gou sebagai ancaman yang sangat nyata. Bukan untuk diri mereka sendiri namun untuk sekte maupun klan mereka. Kekuatan itu dinilai cukup untuk membuat kerusuhan di sana.
Mereka juga mau tak mau merasakan berdebar di dalam dada saat melihat ikan dengan mudahnya ditangkap hingga terkumpul menggunung di tepi danau.
Belum lagi satu tong garam kristal utama. Kekuatan mana yang tidak ngiler jika melihatnya.
Secara khusus, Nian memiliki rasa kebencian dan ketamakan yang paling ekstrim saat pemandangan tong penuh garam kristal utama tersaji di hadapannya.
Sejauh ini sekte hanya menerima garam level rendah. Jika sekte danau perak kini berhasil menambang garam utama akan lain lagi ceritanya. Wilayah ini masih di bawah yurisdiksi Sekte Pedang Bumi. Maka pihaknya lah yang paling berhak mengklaim kepemilikan garam kristal utama.
Nian makin gundah dia harus menemukan segala cara untuk bisa menghubungi ayahnya.
“Mungkin hari ini adalah bencana bagiku, namun ini juga hal yang sangat membahagiakan bagiku. Prestasi ini sangat layak kuterima, akulah penemu garam kristal utama. Hahaha...” Sorot mata Nian menunjukkan visi besar di masa depan.
Sementara Gadis Api makin gundah. Penyimpanannya disita, kekuatannya pun turut disegel. Dia juga terus memutar otaknya, namun belum ada secercah ide yang bisa dia jalankan untuk mengubah arah.
“Andai paman ketiga tidak tenggelam, cih. Kekayaan ini akan menjadi milik pribadiku.” Cheng An hanya bisa mengutuk nasibnya sendiri.
“Satu dari kalian tolong, tawanan ini sangat bau. Kalian cuci dia di danau.” Mao Yu melambai lambaikan tangan kanannya kepada pengikut Lei Teng sementara tangan kiri menutup hidung.
“Siap...”
“Ah, Haa.. Jangan... Jangan bawa aku ke danau. !!!” Nian takut dengan air danau. Dia mulai histeris dan meronta ronta.
Namun itu hanya gonggongan tanpa arti. Cheng An dibawa dalam keadaan terikat dengan tombak. Pengikut Lei Teng membawanya dengan menggotong seperti membawa hasil buruan.
__ADS_1
“Tidak... Jangan...”
“Tidak... AAAHHHHH....”
BYURRR....
Gulp... Gulp.... Cheng An dicelupkan berkali kali ke dalam danau hingga dia kembali basah kuyup dan menenggak beberapa liter air.
Sayang sekali, kekuatan yang berusaha dia kumpulkan dan mulai terkonsolidasi dalam tubuhnya menjadi nol kembali. Pandangannya menjadi sayu dan kosong saat dia diangkut kembali ke daratan dan ditancapkan di tempat semula.
“Bagus, dengan demikian acara makan akan berjalan dengan baik dengan hilangnya bau kotoran.” Mao Yu sangat puas.
Matahari hampir setinggi tombak. Meja makan disiapkan ekstra dengan kursi yang banyak.
Pengikut Lei Teng menyiapkan dalam waktu singkat. Mao Yu mengatakan kepada mereka semua akan ada banyak orang yang akan tiba. Perjamuan ini harus dilaksanakan dengan baik.
“Tuan muda, sangat banyak kursi.” Salah satu memberanikan bertanya.
“TUAN MUDA !!!” Semua pengikut Lei Teng yang mendengar jawaban Mao Yu berteriak.
“BERISIKKK !!!” Mao Yu membuang muka dan meninggalkan kerumunan. Kenapa semua orang selalu berisik dia mendengus.
“Astaga, murid pakar berhati sangat tulus dan mulia.”
“Kita diizinkan duduk dan bersantap dengan hidangan kelas surga.”
“Kebaikan murid pakar adalah kebaikan pakar.”
“Benar-benar tidak sia-sia mengikuti pakar. Lihat kita mendapatkan sesuatu di mana ini hanya impian belaka jika kita tetap menjadi kultivator pengelana. Pernahkah terlintas dalam pikiran kalian kita dapat menikmati ikan di danau perak? Dan melihat garam kristal utama?” Yang tertua selalu hadir memberikan kata kata mutiara.
“Ohhh...” Mereka merasakan rongga dada semakin longgar. Diisi dengan rasa haru dan trenyuh hingga penuh. Sangat full hingga mereka tak sadar meneteskan air mata.
__ADS_1
“Pakar, Panjang umur untukmu...”
Secuil garam dari sebongkah dimurnikan Wei Lan untuk digunakan sebagai garam memasak. Antusiasme pekerja makin menjadi-jadi.
Mereka tambah makin bersemangat hingga semua makanan sudah tersaji di atas meja.
Matahari telah naik hingga ketinggian tombak. Mereka mengukurnya dengan tombak menancap di mana Cheng An diikat di sana.
BELEGURRRRR......
Ledakan hebat terjadi di danau perak. Semua mata segera menyorotkan pandangan ke arah kejadian.
Perahu besar dengan bahan baja berwarna hitam kelam muncul dari dasar danau. Ornamen-ornamennya jelas terlihat dengan baik bahwa kapal baja ini dikerjakan dengan kecermatan yang tinggi.
Di ujung haluan terukir dengan gagah patung anjing laut dengan dua taring panjang berwarna keperakan.
IIIIIIINNNNNN IIIIIIINNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIII.......
Kapal telah stabil, bendera dikibarkan di atas kapal dengan gambar tower benteng yang digores dengan tiga cakar.
Orang paruh baya dengan rambut hitam bercampur putih berdiri paling depan. Kharisma dan kearifannya terpancar menusuk mata semua orang.
Berdiri di belakangnya seorang pemuda dengan paras kejujuran dan penuh rasa adil. Ada ketegasan dan ada pula rona kepolosan.
Satu lagi di belakang pria paruh baya berdiri seorang pemuda dengan baju besi hitam legam yang tipis, sangat fleksibel untuk pergerakan model apa pun. Dibalut dengan jubah hitam. Mengesankan rasa misterius dan angker.
Di belakangnya lagi berjajar puluhan orang yang mengenakan seragam serupa dengan pemuda terakhir. Pakaian besi serba hitam dibalut jubah hitam legam.
Perahu akhirnya menepi. Pengikut Lei Teng semakin takjub dengan kedatangan kapal mewah ini. Apakah mereka relasinya pakar?
Gila, sangat keren...
__ADS_1