
Di bawah pohon willow besar, Mo Tian duduk seorang diri. Dia tampak merenung dengan pandangannya melihat gugusan awan yang bergerak pelan.
Dalam imajinasinya kadang awan berbentuk menyerupai kelinci, kadang muncul perahu, dan kadang menjadi kepala badak.
Dia hanya tersenyum saja, dia sangat menikmati hiburan yang menurutnya sangat menyenangkan. Sebuah hiburan yang murah karena hanya memandang gumpalan awan.
Mo Tian banyak menghabiskan waktu luangnya di bawah pohon ini beberapa hari terakhir. Tampaknya ada sesuatu yang telah mengikat hatinya di sini.
Dari belakang pohon muncul seorang pemuda berpakaian hitam yang mengagetkannya. Tanpa basa basi Mo Tian segera berdiri, dan kemudian terjadi adu jotos antara keduanya.
Pukulan demi pukulan, tangkisan demi tangkisan dan tendangan demi tendangan.
Terkadang keduanya bergumul bergulat di tanah dalam waktu yang cukup lama.
Hingga sore hari telah tiba.
Dua pemuda terbaring menikmati pemandangan langit senja di bawah pohon willow dengan wajah babak belur.
"Kenapa kamu lama sekali di Ibukota Pusat ?" Mo Tian membuka percakapan.
"Banyak hal kulakukan di sana." Mao Yu menjawab.
"Klan Xin telah hancur, Xin Feng tak terlihat lagi di Kota Kekaisaran semenjak itu. Ayahku membatalkan pertunangan." Mo Tian curhat.
"Apa kamu tidak patah hati ?" Mao Yu menggoda.
"Tidak, Justru aku bersyukur." Mo Tian memejamkan matanya.
***
Malam harinya sesuai rencana, Mao Yu dan Shen Mubai mengunjungi kediaman penguasa Kota kekaisaran. Mereka diterima di aula utama Klan Mo.
Mo Shan menyambut mereka di kursi utama dengan puteranya Mo Tian di sampingnya.
Seluruh penatua Klan Mo berjumlah tujuh orang juga turut hadir di aula.
Shen Mubai memberikan salam hormat dan kalimat basa basi pembukaan kunjungan. Namun konsentrasi Mo Shan tampaknya beralih ke hal lain.
Mo Shan melihat dua muda, Mao Yu dan Mo Tian memiliki keadaan yang sama. Yaitu mereka berdua malam ini sama-sama memiliki wajah bonyok.
__ADS_1
Dengan memperhatikan bekas luka-luka keduanya, tampaknya mereka mendapatkan pemukulan di waktu sama. Ah, mereka sepertinya habis berantem.
Di usia senja ini tampaknya Mo Shan menemukan rasa lega di hatinya. Beberapa rantai yang menjerat pikirannya seolah putus dan lepas begitu saja.
Rasa khawatir akan masa depan putra bungsunya jika dia telah wafat kelak langsung menghilang. Saat dia melihat ekspresi malas Mao Yu mendengarkan kalimat basa basi Shen Mubai.
Akhirnya telah tiba giliran Mao Yu berbicara.
"Kepada tuan penguasa kota, saya memiliki permintaan." Mao Yu memulai.
"Sebutkan... " Mo Shan membalas.
"Kami memohon hak penggunaan lahan di wilayah utara ibukota. Dimulai dengan jarak 10 mil dari gerbang utara. Di antara sungai Yin dan sungai Yang. Terus ke utara hingga kedua sungai bersatu." Mao Yu mengutarakan permintaan.
Para tetua langsung terkejut, beberapa di antara mereka berdiri dari kursi.
Diskusi langsung pecah di antara mereka. Luasan wilayah yang diajukan Mao Yu terlalu besar. Membentang di lahan hampir 1.000 hektar. Hampir semua pentua menyatakan keberatan.
Mo Tian juga terkejut dengan permintaan Mao Yu, karena di lokasi yang disebutkan itu terdapat pohon willow besar di mana dia sering ngadem di sana. Juga tempat rutinan berantemnya bersama Mao Yu.
Mo Shan membuat gerakan tangan untuk menenangkan penatua.
"Aku akan mendirikan Benteng Tua Leluhur." Mao Yu menjawab singkat.
Para penatua kali ini hanya diam menatap Mao Yu dengan ekspresi ketidaksetujuan. Mo Shan pun juga memiliki dilema dalam hatinya.
Ketika beberapa waktu hening berfikir, Mo Shan memandang putranya. Dia melihat dalam sorot mata putranya sebuah kemauan kuat dan isyarat desakan pada ayahnya untuk mengabulkan.
Hingga akhirnya Mo Shan memiliki kemantapan dalam memutuskan.
"Lakukan, dengan sebuah syarat." Mo Shan memberikan statemen.
"Patriark..." Para penatua serempak mempertanyakan.
Mo Shan tersenyum lebar kepada seluruh penatua. Senyumnya sungguh adem membuat para penatua meredamkan gejolak gejolak di pemikiran mereka.
Mereka pun terdiam dan dapat mengendalikan dorongan ego mereka saat patriark membuat keputusan. Mereka menguatkan keyakinan bahwa keputusan patriark pasti akan membawa manfaat dan kebaikan di masa depan.
"Aku tidak lama lagi tinggal bersama kalian semua. Aku pun tak pernah memohon suatu permintaan kepada kalian. Kali ini aku meminta untuk pertama kali dan yang terakhir kalinya. Tolong dukung keputusanku." Mo Shan mengatakan dengan nada sejuk.
__ADS_1
"Patriark.... " Para penatua langsung menjadi melankolis.
Pandangan Mo Shan kembali kepada Mao Yu dan Shen Mubai.
"Syaratku adalah menjadikan Shen Mubai sebagai guru nasional Klan Mo. Berperan mendampingi Mo Tian saat menggantikanku nanti." Mo Shan menguncikan posisi kuat klannya pada rencana besar Mao Yu.
Syarat dari Mo Shan menyentuh hati Shen Mubai, maksud kakak angkatnya ini adalah menitipkan putranya di bawah pengawasanku. Dia mempercayakan putranya kepadaku. Oh, Mo Tian keponakanku.
Akhirnya pertemuan malam ini selesai. Semuanya bubar dengan keputusan suara bulat menyatakan persetujuan.
Namun Mao Yu tetap berada di Klan Mo. Kini dia bersama Mo Shan duduk berdua di taman halaman tengah.
Mo Shan menuangkan teh untuk Mao Yu. Mereka tampak sedang berbincang.
Mo Tian hendak menemui ayahnya untuk mendiskusikan sesuatu. Namun dia melihat ayahnya sedang berbicara dengan Mao Yu, sontak dia langsung menghentikan langkahnya.
Dia berhenti dan menempel di balik sebuah pohon besar. Tak sengaja mendengarkan beberapa percakapan mereka.
"Kakek berumur, tak kusangka kamu lihai dengan menempatkan Shen Mubai sebagai pengayom sektemu. Untuk menjadi pendamping penerusmu nanti." Mao Yu menyesap tehnya.
"Itu yang terbaik bagi Klan Mo. Bentengmu akan menggerus 13 dunia, ini juga akan membawa kemuliaan bagi Klan Mo. Saat bertemu dengan leluhurku nanti mungkin aku bisa menjadi sombong. Hahaha... " Mo Shan tampak bahagia.
"Pintu belakang engselnya mulai retak. Bagaimana jika klanmu kebanjiran dan tenggelam ?" Mao Yu meletakkan cangkir.
"Kami menempati tanah ini di dataran rendah. Tenggelam karena banjir sudah menjadi resiko yang kami ambil. Kami tidak akan menyalahkan air atau siapa pun." Mo Shan menghela nafas panjang.
Suasana menjadi hening sesaat. Suara jangkrik dan katak terdengar dengan jelas.
"Klan Su." Mao Yu berkata.
"Telah meninggalkan dunia pertama. Ke mana perginya tidak tercatat. Era yang sangat lama." Mo Shan tampak mengingat hal yang dikubur.
"Banyak hal yang menjadi misteri di bawah tanah Kota Tua Leluhur." Mo Shan menuangkan teh.
"Namun tidak semuanya harus digali." Mao Yu mengambil cangkirnya.
"Juga tidak perlu diketahui orang lain. Hanya akan mendatangkan bencana di awal waktu." Mao Yu menyesap tehnya.
"Itu semua bagiku tidak penting. Bagiku yang paling penting adalah putraku Mo Tian. Kumohon dengan sangat jadilah sahabat yang baik untuknya." Shen Mubai meletakkan poci teh dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sudah kulakukan." Mao Yu menyesap habis teh, dia meletakkan cangkirnya.