
Situasi danau kembali hening, Mao Yu merasa lega telah berhasil menyingkirkan kerumunan besar.
Dia seperti telah baru saja menyadari kalau enggan atau tidak nyaman jika berada di tengah kerumunan besar.
Keempat teman mudanya pun turut pergi bersama pasukan, dia juga sedikit menyesalkan. Mao Yu masih ingin banyak ngobrol dengan mereka.
Ah sudahlah, mereka hanya sebentar saja pergi. Setelah selesai urusan dengan sekte pemandangan (gunung lembah samudra) cepat atau lambat pasti akan dipertemukan lagi.
Lei Teng sekarang menjadi anak ayam di depan Mao Yu. Dengan dipertontonkan di depan matanya sendiri bagaimana anak ini sangat dihargai Klan Wang, tak sekalipun Lei Teng menjadi berani di hadapannya.
“Lei Teng, bermainlah peran kalau semua hal yang terjadi ini kamulah yang menjadi aktor di balik semuanya.”
“Banyak pengamat melihat dan aku tak suka jadi pusat perhatian.” Mao Yu menggumam.
Bagai disambar geledek kepala Lei Teng langsung mati rasa. Aku pun juga hidup dengan cara sembunyi-sembunyi. Tuan muda malah menyuruh tampil sebagai pakar.
Dengan kepastian aku akan diincar kekuatan besar jika dunia mengenalnya sebagai guru utama Klan Wang. Klan Wang memiliki banyak musuh dan konflik. Mereka semua akan memasukkanku ke daftar pembunuhan. Lei Teng membatin.
‘Tuan, apakah akan berjalan dengan baik jika seperti ini?” Lei Teng menyampaikan rasa khawatir.
“Tenang saja, aku melindungimu dari bayang-bayang.” Mao Yu menjawab.
Lei Teng mengangguk, meskipun tidak membasmi rasa khawatir sepenuhnya, dengan jaminan dia mendapatkan dukungan. Setidaknya bisa merasa sedikit lebih tenang.
Garam kristal utama telah mencair kembali. Seluruh lantai telah terpecah dengan bongkahan-bongkahan garam tenggelam kembali ke dalam danau satu per satu.
Kondisi danau kembali seperti ke sedia kala.
Di atas perahu duduk Lei Teng dan Mao Yu yang sedang mendayung perahu menuju ke tepi. Kong Kecil menghapus perisai pelindung yang melingkupi danau.
__ADS_1
Pengamat dapat menyaksikan kembali wajah danau yang bersinar kemilau dengan perahu yang bergerak lamban menuju ke tepian.
“Tuan, apa rencana anda setelah ini?” Lei Teng yang seluruh hidupnya penuh dengan kehati-hatian dan waspada tergerak untuk menanyakan pertanyaan ini.
Dengan hal yang sudah menjadi tabiatnya, pikirannya akan terus berjalan dengan segala analisis dan resikonya.
“Hmmm, kalau rencana jangka pendek aku ingin meratakan Sekte Api Phoenix dan Sekte Pedang Bumi.” Mao Yu menjawab singkat.
“Dimengerti.” Lei Teng menjawab dengan mata terpejam. Dia berusaha menenangkan diri.
Sekte Api Phoenix memiliki leluhur api yang masih hidup hingga sekarang, sedangkan Sekte Api Phoenix memiliki leluhur Mad Sword yang kegilaannya masih diceritakan dari berbagai generasi.
Kedua sekte di atas memiliki pondasi yang sangat kokoh. Bisa dikatakan mereka memiliki kekuatan yang seimbang.
Dari era yang sangat lama belum pernah ada cerita bahwa kedua sekte di atas mengalami kesulitan dalam sebuah konflik. Mereka selalu memenangkan setiap perseteruan dengan siapa pun.
Apakah mudah menjatuhkan keduanya? Bagaimana caranya.
“Mudah saja, bunuh.” Mao Yu menyahut.
“Oh, Baiklah...” Lei Teng menghela nafas panjang. Dia tak lagi ada ide untuk melanjutkan pertanyaan. Masalah kemampuan Mao Yu mampu atau tidak dia juga enggan berspekulasi. Semuanya terlalu memusingkan baginya.
Perahu dengan gerak perlahan telah sampai ke tepian, keduanya meloncat untuk kembali ke daratan. Mao Yu menyampaikan kepada Lei Teng bahwa dia akan beristirahat di pondoknya.
Demikian juga Lei Teng ingin melakukan hal yang sama. Apa yang terjadi barusan membuatnya sangat lelah secara mental. Dia perlu mengambil waktu untuk memulihkan kondisinya.
“Apa pun yang terjadi, jangan ganggu aku okey...” Mao Yu mengedipkan sebelah matanya.
Lei Teng mengangguk.
__ADS_1
Memasuki pondok mungil, masih di ruang yang sama dengan seperangkat meja kursi dan dipan di dalam pondok Mao Yu.
Mao Yu mengambil duduk di salah satu kursi. Pandangannya mengunci pada Kong Kecil yang sedang tidur di atas ranjang dengan seekor kucing oranye.
“Raja ngorok!” Mao Yu memelototi.
Indera Mao Yu menangkap segerombolan orang mendekati bangunan sekte. Orang-orang yang berkerumun di sekitar danau berbondong-bondong merengsak kemari.
“Sepertinya menuju pondok Lei Teng. Hihihi... biarkan Lei Teng menghadapinya. Aku terlalu malas berhadapan dengan banyak orang.”
“Hmm, ada satu orang yang nyasar, dia menuju ke pondokku.”
Tok tok tok...
Terdengar ketukan lembut.
Mao Yu sudah sangat malas dan enggan namun terpaksa dia mempersilahkan tamunya masuk.
“Masuklah...”
Pintu terbuka, seseorang pria memasuki ruangan. Dengan klik suara pintu tertutup kembali si tamu menyapa tuan rumah.
“Duduklah...”
Seorang pria tinggi mengambil tempat duduknya, dia mengenakan jubah brokat dengan warna coklat kayu. Sorot matanya menandakan usianya jauh lebih tua dari penampilannya.
“Salam tuan, Hamba adalah Wang Du. Yang tertua dari Klan Wang.” Dia memperkenalkan dirinya.
Wang Du tak dapat menipu dirinya sendiri untuk tidak grogi di depan pemuda yang nampak biasa di hadapannya.
__ADS_1
Mata Mao Yu berbinar terang dengan senyum yang mengembang lebar.
“Bagus..”