Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Pedang Bambu


__ADS_3

Para murid meyakini dengan sepenuh hati bahwa wanita dewasa memiliki kekuatan yang kemungkinan sepadan dengan kepala sekte.


Namun mereka lebih dikejutkan lagi dengan biksu kuil benteng yang ternyata dengan mudah mematahkan segala trik wanita dewasa.


Bahkan biksu kuil memiliki kekuatan yang melampaui wanita dewasa. Biksu kuil tampaknya sedang bermain-main saja.


"Lady Chi dari Night Lily, Ingat namaku dan darimana asalku. Benteng ini akan dimasukkan ke daftar pemusnahan oleh guild." Wanita dewasa berteriak.


"Amithaba..."


Lady Chi kemudian terbang menjauh dari benteng secepat mungkin. Para murid melihat sebuah titik hitam di langit hingga akhirnya menghilang.


"Apakah benteng bermusuhan dengan Night Lily? Ah ini gawat kita semua bisa celaka karena ikut kena imbas."


"Apakah mungkin kita pergi dari sini? Jika kita pergi nama kita akan dicoret dari sekte."


"Ya, kita akan menjadi pengkhianat. Sekte akan memburu kita."


Para murid segera berdiskusi dalam kerumunan. Mereka diliputi rasa khawatir jika sewaktu-waktu benteng diserbu para ahli dari Night lily.


"Lupakan, mari kita terus berlari sesuai perintah Kakak Dewei." An Ming memerintahkan kerumunan untuk kembali fokus pada pelatihan.


***


Di tengah hutan belantara.


Di antara pohon-pohon besar.


Chen Dewei sedang berhadapan dengan Beruang Bulu Logam yang telah menjadi binatang buas level 6.


Beruang meraung keras memberikan sebuah tekanan dan teriakan intimidasi karena seseorang memasuki wilayah kekuasaannya.


Suara ini membuat lari segala hewan yang ada, burung-burung pun beterbangan karena ketakutan.


Chen Dewei tidak merasakan goyah. Dia dengan sikap mantap menghunus pedang bambu. Dia membuka posisi dengan meletakkan pedang secara vertikal di depan dahinya.


Menentukan dan menyiapkan lahan adalah meletakkan sebuah pondasi dari setiap tujuan dan kemauan. Tak peduli lahan berbatu, penuh gulma maupun berpasir.


Mencangkul adalah bagaimana kamu memulai sebuah tindakan untuk meneruskan maksud dari sebuah pondasi. Membuat tanah gembur memudahkan jalannya akar nantinya.


Membuat pematang adalah bagaimana kamu mengatur bagaimana tujuanmu menjadi terarah, lurus, rapi dan harmonis. Sekaligus menyiapkan benih apa yang akan ditanam.


Ketika biji ditanam maka kamu sudah menentukan impianmu.


Ketika biji telah bertunas itulah kelahiran dari sebuah impian. Dia telah menerobos tanah untuk menyambut kehadiran di bawah langit.


Langkah Pertama Jurus Pedang Bambu Pertanian : Kuhujam Bumi Dengan Akar, Kusambut Langit Dengan Tunas

__ADS_1


Sebuah flash vertikal dari pedang bambu melesat dengan kecepatan tak terlihat menuju arah Beruang Bulu Logam.


Beruang masih meraung hebat. Kemudian diam dan ambruk di tanah.


Chen Dewei menghela nafas panjang. Dia memutar pedang bambu dengan gerakan menawan, kemudian membungkuk dengan khidmad ke arah benteng.


"Hamba sangat beruntung dapat berada di sisi tuan. Hamba menghaturkan ribu terima kasih."


Para murid terkejut bukan kepalang saat melihat Chen Dewei pulang dengan menyeret beruang yang sangat besar.


Salah satu murid menyampaikan kepada temannya bahwa yang dibunuh kakak pertama adalah beruang bulu logam tingkat keenam. Tandanya di ujung bulunya yang runcing berwarna kemerahan.


Para murid sangat shock dengan melihat luka pada tubuh beruang. Sebuah luka tebasan vertikal dilakukan oleh serangan tunggal.


"Apakah ini dibunuh oleh kakak pertama ?"


Bahkan kami berempat puluh belum bisa memenangkan pertempuran melawan binatang buas level enam ini.


Mustahil, apa ranah kakak pertama hingga bisa menumpasnya seorang diri. Apakah kakak mengalami kemajuan pesat hanya kurun waktu tidak ada dalam dua bulan ?


Seluruh murid melihatnya dengan tatapan tak percaya.


Chen Dewei melempar beruang bulu logam di hadapan para murid.


"Kalian bersihkan untuk makan malam..."


Chen Dewei kembali ke ladang. Dia mulai mencangkul dan bertani kembali.


***


Seperti biasa aku dengan mudah menguasai tahap kedua dari Kultivasi Sembilan Jiwa. Aku sudah dapat menekan kekuatannya hingga di puncak.


Namun permasalahanku sepertinya sama dan akan menjadi masalah klasik seterusnya. Aku kesulitan menembus ranah berikutnya.


Mao Yu kemudian bangkit dari duduknya, dia beralih pandangan menuju jendela kamarnya.


Dia melihat Chen Dewei yang sangat giat bertani dan rombongan murid sekte yang berlari mengitari danau.


Hingga malam tiba, Mao Yu masih berada di jendelanya. Dia melihat api unggun besar, para murid sedang berpesta barbekyu dengan gembira.


Mao Yu melihat bulan sedang purnama.


Jauh di atas sana ada sebuah wilayah dengan ribuan sekte dan klan dengan kekuatan super. Mereka menyebutnya dengan Tanah Suci.


Bahkan mereka sendiri melebih-lebihkan bahwa mereka adalah Surga.


"Bagaimana keadaan Surga setelah Kekacauan Besar ?"

__ADS_1


"Apakan sekian era berlalu mereka sudah pulih seperti sedia kala ?" Mao Yu menggumam.


Kong Kecil yang berada di samping Mao Yu mendongakkan kepalanya. Mengikuti Mao Yu yang sedang menatap bulan.


"Bai Kong, Berapa kekuatan yang harus kumiliki untuk mengimbangi Surga ?" Mao Yu bertanya dengan pelan.


"Kekuatan Anda beserta seluruh kekuatan yang ada saat ini masih belum ada apa apanya jika dibandingkan dengan sekte terlemah di sana. Anda seperti melempar telur di atas batu." Bai Kong menjawab.


Suasana menjadi hening.


Suara tawa dan canda para murid terdengar dengan jelas.


Ketukan pintu terdengar, Mao Yu mempersilahkan Chen Dewei masuk.


"Kamu tidak ikut berpesta dengan mereka ?" Mao Yu tersenyum


"Aku tidak memiliki waktu untuk senang, Aku terus mengejar waktuku untuk pelatihanku. Aku ingin segera menjadi kuat." Chen Dewei mengatakan tekadnya.


"Tuan, aku telah menjadi pedang anda sekarang. Katakan kepadaku apa rencana anda dengan benteng ini ?"


Mao Yu kembali menatap bulan.


"Aku tidak memaksamu, jika terus mengikutiku kamu akan menjadi orang mati jika waktunya telah tiba."


"Jika ingin, kamu bisa pergi. Kamu telah mendapatkan apa yang kamu cari." Mao Yu menoleh kepada Chen Dewei dengan senyuman.


"Sudah kuputuskan, aku tetap tinggal di sisi anda."


"Kita sekarang akan menghadapi Night Lily, Kamu sekarang sudah mampu menjatuhkan beberapa ahli mereka terlepas apa kultivasimu saat ini. Karena kamu telah mampu membuat hatimu bertunas."


Chen Dewei memejamkan mata, dia membungkuk kemudian meninggalkan kamar Mao Yu.


"Bai Kong...."


"Ya, Tuan..."


"Apakah kamu tidak merindukan Surga ?" Mao Yu bertanya.


"Sejujurnya aku merindukan tanah kelahiranku di sana." Bai Kong menjawab dengan perasaan yang berat.


"Jika aku ke sana dan berhadapan dengan ras-mu, bagaimana perasaanmu ?" Mao Yu kembali bertanya.


Bai Kong "..."


Suasana kembali hening, pesta di tepi danau nampaknya telah usai. Para murdi kembali ke tenda untuk beristirahat. Hanya menyisakan beberapa saja yang masih di sekitar api unggun.


"Bai Kong, Karena kesetiaanmu aku akan mengampuni ras-mu nantinya."

__ADS_1


Bai Kong segera bersujud di hadapan tuannya.


"Terima kasih atas pengampunan anda Tuanku." Bai Kong merasa hatinya lega.


__ADS_2