
Mao Yu melangkahkan kakinya menuju halaman sekte.
Pagi ini dia mendapatkan jadwal untuk mengikuti tes penerimaan. Yah, hanya formalitas belaka. Karena kekurangan murid mereka diterima tanpa syarat apa pun.
Ketika memasuki halaman alangkah Mao Yu terkejut melihat ketua sekte dan Zen Li mengalami babak belur di sekujur tubuhnya.
“Kalian berkelahi ?” Mao Yu memiringkan kepalanya.
“Kami dipukuli murid Sekte Pedang Bumi. Mereka mengambil upeti tahunan, melihat sekte memiliki murid baru mereka melakukan salam perkenalan.” Kepala Sekte Tang Shang berkata dengan parau
Dia selama ini hanya mampu menahan dan menahan saja. Dia tak kuasa sedikit pun membalas. Lagipula dialah sebagai satu-satunya orang yang tersisa dia tidak boleh mati. Demi melanjutkan warisan sekte.
Sangat berat beban yang dia pikul.
“Apakah tiap kali mendapati murid baru mereka akan berbuat seperti ini?” Mao Yu bertanya.
“Iya, tak hanya saat upeti tahunan. Setiap kali mereka lewat pasti melakukan hal yang sama. Bahkan jika mereka sedang marah, mereka melepas stress di sini untuk memukuli kami semua.”
“Zen Li, maafkan sekte tidak dapat melindungimu dengan baik. Ini bekum terlambat jika kamu mengubah niat untuk menuju ke tempat lain.” Kepala Sekte Tang Shang pasrah.
Mao Yu menduga pantas saja tidak ada murid baru di sini. Mereka tak akan sanggup atas teror dan penganiayaan murid dari Sekte Pedang Bumi.
“Tidak Kepala Sekte Tang Shang, aku memutuskan akan berada di sini.” Zen Li memutuskan tanpa keraguan.
“Terimakasih, Kuharap kita bisa bertahan ke depannya.” Kepala Sekte Tang Shang menghela nafas panjang.
“Lalu Mao Yu bagaimana denganmu, akankah kamu tetap tinggal seperti temanmu Zen Li ?”
“Tentu, aku akan di sini. Aku tak punya tujuan lain.” Mao Yu menjawab.
__ADS_1
Keduanya merasa lega. Terutama Kepala Sekte Tang Shang, sekte ini akan mulai hidup. Meskipun harapannya seperti cahaya kunang-kunang di malam gulita. Yah, setidaknya masih ada harapan.
“Baiklah, kita mulai tes.” Kepala Sekte Tang Shang mengeluakan kristal seukuran bola kepalan tangan. Berwarna kusam dan sedikit retak-retak pada permukaannya.
Astaga, bahkan yang dimiliki adalah batu uji kelas terendah. Sekte ini berada dalam kemunduran yang hebat. Mao Yu membatin.
Zen Li meletakkan tangannya di permukaan batu, cahaya muncul dengan perlahan berwarna biru dengan sangat lemah dan buram.
Bakat yang sangat buruk. Afinitas air, cocok dengan kultivasi yang dipraktikkan di dalam sekte. Namun Zen Li sangat buruk bakatnya. Kepala Sekte Tang Shang tetap tabah, meskipun begitu dia mendapat murid baru.
Giliran Mao Yu melakukan hal yang sama.
Kepala Sekte Tang Shang “ ... “
Zen Li “ ... “
Bola uji tidak merespon sama sekali. Mengindikasikan bahwa Mao Yu adalah manusia fana sejati. Kultivasinya akan lambat seperti siput.
Kepala Sekte Tang Shang tetap menaruh rasa syukur, meski hasil dari kedua muridnya tak sesuai harapannya.
Harapan yang selama ini dia impikan adalah mampu merekrut murid dengan bakat bagus. Sehingga di masa depan bisa membalik Sekte Pedang Bumi.
Meskipun dia menyadari bahwa anak dengan bakat bagus pasti akan memalingkan wajah ke sektenya. Tentu mereka akan berbondong-bongdong menuju sekte yang lebih masyhur.
Zen Li dan Mao Yu kemudian menjalani sesi pelajaran tentang kultivasi.
“Aku merasa roh danau perak telah bangkit.” Seorang ahli tak jauh dari danau berkata.
“Aku pun sama, setelah berbagai generasi akhirnya kali ini roh danau tampak mulai ada geliat. Energi danau sedikit lebih kuat dari normalnya.” Ahli lain berkata.
__ADS_1
“Bisa jadi ini adalah titik awal bangkitnya mereka. Namun mereka akan mulai dari mana, sementara mereka dalam tekanan langsung Sekte Pedang Bumi” Ahli tertua berpendapat.
Ketiga ahli akhirnya merasa prihatin. Mereka bertiga menggeleng gelengkan kepalanya.
Mao Yu diam dalam sikap zen seolah memperhatikan apa yang diajarkan Kepala Sekte Tang Shang. Berbeda sebaliknya dengan Zen Li dia sangat antusias dalam menyerap materi.
Zen Li bisa dibilang sebagai anak yang cukup cerdas. Dia dengan mudah menyerap apa yang diajarkan Kepala Sekte Tang Shang padanya.
Sesi pembelajaran usai. Zen Li segera memasuki makarnya untuk berlatih.
Mao Yu pun mengambil wisata santai berjalan di salah satu pesisir danau perak yang sangat luas. Dia berjalan menyusuri hingga sampai malam hari.
Akhirnya menemukan cahaya dari api unggun. Di sisi pesisir danau perak yang cukup jauh dari lokasi sekte Singa Perak.
“Kepala sekte bodoh nampaknya menemukan seorang murid yang cukup bodoh pula. Hahaha....” Murid berwajah kotak terbahak-bahak.
“Aku berharap selalu mendapat murid. Jika mereka bubar siapa yang akan kita pukuli lagi. Ahahaha... Kakak minum araknya !” Murid berwajah segitiga tampak sangat menyebalkan.
Kedua murid Sekte Pedang Bumi tak henti-hentinya terus berkelakar tentang Sekte Singa Perak yang kini menjadi sekte badut.
“Yoooo... Kalian... !!!” Mao Yu menunjuk kedua murid Sekte Pedang Bumi dengan sedikit gerakan provokasi.
“Siapa kamu ?” Murid berwajah segitiga sedikit terkejut. Namun tak berapa lama kemudian mereka berdua terpingkal pingkal.
“Bwahahahaha.... “
Bocah tanpa kultivasi berlagak sombong. Salah seorang dari keduanya meraba kultivasi Mao Yu dengan kekuatan persepsinya.
“Dia datang kemari untuk meminta pemukulan. Sepertinya dia terlewat pada sesi pagi tadi.” Murid berwajah segitiga terbahak-bahak.
__ADS_1
“Baik bocah, datanglah ke paman.” Murid berwajah kotak meregangkan tubuhnya. Suara jemari bergeretak dengan suara renyah saat ditekuk. Siap memberi pelajaran bocah dari Sekte Singa Perak.