
Pangeran Gu berdiri dengan tegar di tengah medan hantaman yang bertubi-tubi. Ia dengan pedang di tangan kanannya bertempur melawan musuh selama berjam-jam, dan pertempuran masih belum menunjukkan tanda akan berakhir.
Tiba-tiba, serangan tak terduga datang dari arah yang tak terduga. Tinju yang kuat mendarat di perut Pangeran Gu, membuatnya terengah-engah kesakitan. Saat ia mencoba mengatur napasnya, cambuk berapi memotong punggungnya dengan kejam, mengeluarkan suara menderita dari mulutnya.
Pangeran Gu berjuang untuk tetap berdiri, tetapi serangan terus datang. Kali ini, bola api yang menyala terbang menuju dirinya dengan cepat. Ia merasakan panas yang menyengat ketika bola itu melesat melewatinya dan mendarat di tanah di belakangnya, menyebabkan ledakan kecil dan mengirimkan pecahan bebatuan ke udara.
Pangeran Gu sekali lagi terdesak oleh serangan bertubi-tubi ini. Ia berusaha untuk mempertahankan diri, tetapi serangan musuh terlalu membuatnya kewalahan dan terlalu kuat. Ia merasa semakin lemah dan tak berdaya.
Namun, meskipun badannya terluka dan terbakar, semangat Pangeran Gu tidak pernah padam. Ia tetap bertahan dan melawan dengan sepenuh hati untuk melanjutkan pertempuran. Meski terdesak oleh serangan tinju, cambuk, dan bola api yang terus menerus, Pangeran Gu tetap masih terlihat tegar.
"Baiklah, sudah cukup berjuang. Menyerahlah Pangeran Gu." She Laode berseru
"Tidak, saya bisa melanjutkan pertarungan ini. Saya bisa mengalahkan kalian." Pangeran Gu menyangkal.
"Tidak. Saya melihat kekuatanmu, dan kamu bahkan tidak dapat mengerahkan gerakan pamungkasmu sama sekali. Kamu hanya terus bertahan hingga akhirnya melemah dan kalah." She Laode melakukan provokasi.
"Mustahil aku kalah…” Pangeran Gu menggumam tidak jelas.
"Kemenangan memang tidak selalu ditentukan oleh kekuatan fisik. Seringkali, keberhasilan datang dari kemampuan untuk memahami musuh, membaca peluang dan mengambil langkah-langkah yang bijaksana. Bahkan kecerdikan anda tidak berlaku di sini." She Laode menabur garam pada luka.
"Terima kasih, Belut Licin atas nasihatmu. Saya akan mempertimbangkan kata-katamu..." Pangeran Gu mengecam dalam kondisi tak berdaya.
"Baiklah taun tuan, sekarang mari kita bersatu kembali dan mempersiapkan diri untuk menghajar Pangeran Gu." She Laode meluruskan kembali tangannya. Suara cemeti cemetar berkali kali di udara.
__ADS_1
Pangeran Gu teringat kembali perjalannya menuju portas tigabelas dunia.
Dia melangkah maju ke dalam portal yang terbentang di hadapannya, siap untuk memasuki dimensi yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya. Namun, begitu ia memasuki portal, segalanya berubah. Cahaya menyilaukan memenuhi pandangannya dan ia merasakan tubuhnya terpental ke segala arah.
Saat ia membuka mata, ia menyadari bahwa ia tidak lagi dalam kondisi lorong portal sebagaimana mestinya. Ia seperti dirujak di tengah kekacauan, dengan latar belakang yang aneh dan tak dikenalinya. Langit terlihat seperti awan yang tergulung dan segala sesuatu berwarna-warni dan terdistorsi.
Dia diremas oleh ruang yang kacau dan waktu yang acak.
"Sial, Apa yang terjadi pada jalur ini?" kalimat yang masih hangat terngiang-ngiang saat berada di lorong portal pun terputar kembali.
Mantra dan jimat Bibi Bu yang sebenarnya mengacaukan lorong portal. Pangeran Gu memasuki portal dengan ratusan pengikut. Nampaknya sampai saat ini hanya dia yang selamat, itu pun dalam kondisi memprihatinkan.
Pangeran Gu menoleh ke arah portal yang makin menyempit oleh gugusan formasi bendera array dinamis. Harusnya beberapa orang berhasil menembus portal dalam kurun sekian lama.
“Jika aku masuk dan kembali ke dalam portal, niscaya tubuhku akan dirujak dan hancur. Aku pasti mati.” Pangeran Gu mulai berfikir keselamatan diri.
“Mohohohohoho….” Dengan sebuah sentakan. Portal seketika menutup dengan spontan dan sekilas pandang.
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
Pangeran Gu merasakan merinding dan mencekam akan rasa tanda bahaya. Dia tegar sejauh ini karena mengandalkan para jenderal yang akan tiba setelah kedatangan dirinya.
“Mustahil !!! Begitu mudahnya portal ditutup paksa.” Pangeran Gu mengutuk.
__ADS_1
“Mohohohohoho… Hanya tirai kelambu yang rapuh. Tak perlu heboh untuk itu.” Bibi Bu menangkap keseluruhan bendera array dan menyimpan kembali.
Demi Surga, membuat portal ini memerlukan waktu yang cukup lama, dengan persiapan dan sumberdaya dalam ukuran fantastis.
“Apa dunia ini sebenarnya?” Pangeran Gu bergidik ngeri.
“Tempat di mana ini bukan tempat bermain di mana kamu tidak bisa bebas dengan suka suka hatimu datang dan pergi begitu saja.” Mao Yu mencibir.
“Jerat dia, jadikan tawanan.” Mao Yu memutuskan koneksi fisik naganya. Dia kembali menjadi pemuda seperti biasanya.
Bibi Bu menyambarkan rantai hitam yang sangat dingin dan berat. Melilit dan mengunci segala daya Pangeran Gu. Keangkuhannya turut diborgol dalam keadaan yang sama tak berdayanya.
“Rasa seekor rusa tak kalah lezatnya…” Bibi Bu mengeluarkan panci dan pisau jagal.
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
Pangeran Gu rontok segala asa dan harapannya. Tatapan matanya kosong melompong, apakah dia berkunjung ke tigabelas dunia hanya untuk menjadi steak dan nugget?
Dia masih tak percaya, di belahan surga sangat dikagumi bahkan para bidadari rela mengantre hanya untuk melihatnya berjalan menyusuri pematang. Bahkan diantara generasinya, dia adalah salah satu permata yang diperhitungkan keberadaannya.
Berakhir dalam panci? Astaganaga !!!
“Informasi lebih berharga dari dagingnya.” She Laode menginterupsi.
__ADS_1
“Hanya memakan tubuh alias cangkangnya saja, jiwanya toh masih hidup. Kita bisa bertanya pada jiwa yang melayang-layang. Mohohohohoho….” Bibi Bu mempercepat merajang bawang dan sayuran.
“Tunggu…. Tungguuu…” Pangeran Gu terisak.