
Leluhur Wang berjalan dengan terburu-buru pada suatu tempat di hutan belantara Klan Wang.
Hutan lebat yang memancarkan aura keangungan kuno. Tanaman dan pepohonan bisa ditaksir berasal dari sebuah generasi yang jauh di masa lalu.
Hutan ini menjadi kediaman Klan Wang sejak leluhur moyang mereka memutuskan untuk menancapkan akarnya di sini.
Inilah identitas sejati yang diakui para kekuatan besar lainnya.
Pepohonan menyediakan energi yang sangat padat. Sangat menyuburkan kultivasi para keturunan Wang.
Bahkan beberapa kekuatan iri, ingin mengambil bagian untuk mereka sendiri.
Meskipun Klan Wang mengalami kemunduran hebat hingga masa kini. Klan ini masih sangat disegani karena kepiawaian mereka dalam percaturan politik di dunia keempat.
Selain itu keberadaan leluhur kuno mereka masih membayangi, seandainya masih hidup tentu penyinggungan terhadap Klan Wang akan mengundang malapetaka bagi mereka sendiri.
Meskipun keberadaannya hingga kini hanyalah sebuah asumsi dan rumor-rumor belaka.
Wang Kun menghentikan langkahnya di suatu tempat. Tepatnya di sebuah wilayah yang sangat rimbun vegetasinya.
Wang Kun menyibakkan jubahnya, dia mengedarkan persepsi ke segala arah hingga cakupan yang sangat luas.
Memastikan segalanya aman, dia memejamkan mata. Berkhidmad penuh dalam mengheningkan cipta.
Mulutnya komat kamit, sepertinya menyanyikan sebuah lagu dengan bersenandung secara lirih. Jika seseorang berada didekatnya, pasti akan bertanya-tanya lagu apa yang dinyayikan oleh pak tua ini. Sangat tidak jelas kata-katanya.
Tak beberapa lama Wang Kun menyelesaikan baitnya, dia membuka mata dengan sangat pelan.
Wang Kun mendapati dia berada di tempat sama. Namun dunia tampak sama sekali berbeda dari yang terakhir dia lihat.
Wang kun tidak melihat warna, di sini dia melihat segalanya hanya berwarna abu-abu.
__ADS_1
Dedaunan, rumput, daun kering dan pohon segalanya berwarna abu-abu.
Begitu pula dengan energi, tak ada riak energi spiritual sama sekali di sini. Hanya energi samar-samar dari kematian.
Wang Kun menunduk beberapa kali kepada peti mati batu di depannya.
“Salam Leluhur Kuno, Wang Kun meminta audiensi...” Wang Kun berbicara dengan tenang dan sangat sopan.
Peti mati batu berderak dengan suara gemericit yang sangat menggelitik. Membuat bulu bulu menjadi merinding.
Ketika tutup peti terbuka, bangunlah dari dalamnya sebuah sosok.
Jemarinya yang kurus berbalut tulang memegang bibir peti. Tersibak seseorang yang cukup tinggi dari orang pada umumnya dengan kondisi sangat memprihatinkan.
Pria itu tampak separoh tubuhnya di sisi kiri kurus kering hanya tulang yang membalut kulit, sedang sisi tubuh kanannya terpanggang matang dagingnya.
Bahkan asap masih sedikit mengepul darinya. Menyebarkan aroma panggangan gosong.
“Salam Leluhur Kuno...” Wang Kun sekali lagi memberi hormat.
Inilah sosok tertua yang menjadi anggota Klan Wang yang dikenal hingga saat ini. Tak akan pernah muncul jika situasi klan berada di ambang kehancuran.
Inilah kartu truf tersembunyi. Hanya Wang Kun saja sebagai leluhur yang mengetahui keberadaannya.
Seumur hidup pun Wang Kun baru pertaka kali ini melihat leluhur kuno.
“Situasi apa yang membuatmu membangunkanku ?” Leluhur Kuno berkata dengan suara parau.
Suaranya mengedarkan energi kematian. Wang Kun pun harus menahan dengan segenap kemampuannya.
Hukum bergetar bersama dengan suara leluhur kuno. Satu kata rasanya seperti membawa seluruh dunia.
__ADS_1
Jadi inilah kekuatan seorang Raja, Wang Kun tak henti-hentinya kagum dan bangga. Sungguh merasa terhormat Klan Wang memiliki sosok seprti leluhur kuno ini.
“Apa kamu merasa aneh melihatku, cucuku...” Leluhur Kuno berkata dengan parau. Di balik katanya yang singkat ini tampak sebuah mata berkaca-kaca yang menunjukkan rasa cinta yang mendalam kepada keturunannya.
Memang selama beberapa generasi, tahun tak terhitung lamanya Leluhur Kuno pertama kali ini menemui seseorang. Apalagi ini adalah cucu lintas generasinya. Rasa rindu yang sangat dia tahan dalam kurun waktu yang panjang seperti telah diobati.
“Leluhur Kuno... Tubuh Anda....” Wang Kun sangat terkejut sekaligus khawatir.
“Raja Mountain Myriad mengeringkan dan mematikan sebagian tubuhku...” Leluhur Kuno menggerakkan jari-jari tulangnya. Tampak rapuh, seandainya berjabat tangan. Tangan itu akan hancur menjadi ruas-ruas jari yang tersebar.
“Di mana Raja Mountain Myriad?” Dia melanjutkan.
“Sejak pertarungan dengan Anda, dia menghilang. Keberadaannya tidak diketahui, rumor beredar dia terluka parah dan bersembunyi. Masih hidup atau meninggal tak ada yang tahu.” Wang Kun menjawab.
“Cih...” Leluhur Kuno meludahkan darah akibat rasa kemarahannya.
“Saat ini, tiga muridnya melanjutkan aspirasinya. Mereka mendirikan Sekte Lembah, Sungai dan Samudra. Kian generasi mereka menguat secara signifikan.”
“Leluhur Kuno, Anda terbakar.....” Wang Kun merasa sangat prihatin.
“Aku dibakar oleh Api Abadi milik Raja dari Sekte Api Phoenix, dia menyergapku...”
“Bahkan bajiangan Mountain Myriad pun turut menyerangku dengan pamungkasnya. Betapa memalukannya mereka... Raja dari Sekte Api Phoenix merebut senjata dao-ku.” Leluhur Kuno tampak sangat marah kali ini.
Wang Kun membayangkan betapa sakitnya penderitaan yang dialami Leluhur Kuno. Era demi Era menahan pelayuan tubuh, dimana qi terus menerus bocor.
Sedangkan juga dia harus menahan luka bakar yang terus menerus mendesis di tubuhnya.
Kurun lama berbincang, akhirnya sampai pada pokok intinya.
“Keturunan, Ada hal penting apa kamu menemuiku, Aku tak bisa berlama-lama. Aku harus kembali ke petiku untuk menyetabilkan keadaanku.” Leluhur Kuno bertanya.
__ADS_1
"Aku membawakan sesuatu untuk ditunjukkan kepadamu Leluhur..." Wang Kun tersenyum misterius.~~~~