
Satu daun diperebutkan dengan mempertaruhkan nyawa.
Ribuan ahli yang menjadi pesaing mati karena jebakan dan bahaya makam.
Ribuan lagi mati karena bertarung untuk saling berebut.
Mereka berdua akhirnya berhasil dengan sebuah keberuntungan yang hebat. Mereka harus membaginya dua. Berkat itu nama dan sekte mereka melambung menjadi top global.
Kini mereka berdua menggenggam masing-masing daun yang sama dan utuh. Di atas mereka masih ada ratusan ribu daun yang sama bergelayutan.
Dengan daun utuh di tangan mereka, ini akan lebih melambungkan sekte mereka menjadi sekte tak tersentuh.
Daun di tangan mereka mengabarkan segudang dao yang datang bergelombang-gelombang seperti ombak di laut yang tak akan pernah bisa berhenti.
Dua tua meneteskan air matanya. Oh kami sungguh konyol. Dunia telah mempermainkan kita.
Pemuda di depan mereka tanpa kultivasi. Namun pohon ini patuh padanya. Ini menunjukkan kalau pemuda ini adalah maha-ahli yang tersembunyi. Kata-kata yang ditulis di monumen batu bukan candaan sama sekali.
Kali ini kengerian mulai merangkak di pikiran mereka.
Salah kata yang menyinggung pemuda ini bisa mendatang nasib penghancuran sekte.
Dua tua kemudian bersujud pada Mao Yu. Mereka merasa menyesal telah bersikap kasar dan mereka meminta maaf dengan rasa khawatir yang hebat.
"Bangunlah, Itu bukan apa-apa..." Mao Yu menerima maaf mereka.
Namun keduanya belum mau bangun dari sujudnya hingga Zhao bersaudara kembali membantu mereka bangkit dan mengambil tempat duduknya kembali.
Jika para bigshot melihat dua tua ini bersujud maka gemparlah seluruh langit. Mereka berdua adalah panutan dari sejuta umat di wilayahnya.
Kesombongan dua tua kini menguap. Mereka duduk di kursi layaknya jompo sejati.
Ketika akal sehat mulai mendominasi mereka melihat monyet kecil yang tidur telentang di atas salah satu dahan pohon willow.
Perut Kong Kecil membentuk bola karena kenyangnya makan. Dia sangat nyenyak hingga mendengkur keras.
Kembali ke sekte mereka berdua, dalam pikiran mereka terbayang satu dengkuran merubah awan menjadi gumpalan hitam dengan cepat. Dengkuran kedua mendatangkan ribuan baut petir layaknya petir kesusahan surgawi.
Tiap dengkuran demi dengkuran menjadikan sekte mereka bermandi petir hingga seluruhnya menguap menjadi ketiadaan.
Bahkan peliharaannya adalah monyet tak tertandingi.
Ohohohoho.... Kini dua tua makin kempis lagi tak berdaya seperti anak ayam. Mereka menyusut di sudut tak berkutik. Dengan tangis siap meledak kapan saja.
Dua tua meletakkan daun di atas meja dan menggesernya ke arah Mao Yu.
"Kami tua bangka tidak tahu diri sangat tidak layak untuk daun ini. Mohon Tuan Muda mengambilnya kembali." Nyonya Han tertunduk.
"Kakak, Kenapa paman dan bibi ini menjadi aneh. Ini kan hanya daun." Zhao Ren bergumam.
"Ah, Iya juga sih." Zhao Yan sepakat.
__ADS_1
Zhao Ren kemudian memanjat pohon willow. Dia mematahkan sebuah ranting yang cukup besar dengan ratusan dedaunan yang menempel.
"Paman, Bibi apa ada yang aneh dengan selembar daun sih. Ini kuambilkan satu ranting, mungkin cukup untuk mengenyangkan anak domba peliharaan kalian."
Zhao Ren melambai-lambaikan ranting yang dia patahkan kepada dua tua.
Tua Ji " ... "
Nyonya Han " ... "
"Aaa... Aaa... " Mereka berdua tergagap gagap dengan kedua tangan mereka menunjuk ke arah Zhao Ren di atas pohon.
Mereka berdua pingsan.
Tengah hari tiba. Dua tua akhirnya siuman dan mulai merapikan penampilan. Mereka berusaha menerima kenyataan yang membuat mereka menjadi gila hari ini.
Sungguh gila bagaimana anak kecil Zhou dapat mematahkan rantingnya. Bahkan kami tua-tua dari seluruh dunia keenam dan kesembilan digabungkan bahkan belum tentu bisa melepas satu lembar daun dari pohon.
"Paman Bibi. Minumlah... Saat ini kami hanya memiliki air saja." Zhou Yan mempersilahkan keduanya untuk minum setelah kejadian yang membuat mereka berdua lelah.
Dalam ranah mereka saat ini. Keperluan akan makan dan minum menjadi tak penting lagi. Namun karena hal barusan sangat mengguncang mereka.
Mengubah mereka menjadi jompo beneran. Entah kenapa tenggorokan mereka merasakan haus.
Tanpa pikir panjang keduanya mengambil gelas dan menghabiskannya.
"IINNN... IIINNNNNIIIII ......."
Air Suci... Ini Air Suci. Eh, Lihat kura kura itu. Dia tidur telentang di bawahnya. Dia menggunakan air suci untuk mandi. Membasuh bagian bawah tubuhnya.
"Ohohohoho....Nyonya Han izinkan aku pingsan lagi."
"Baikah Tua Ji aku juga akan menyusulmu di alam mimpi"
***
Waktu mulai menunjukkan agak sore. Panas matahari mulai melemah.
Dua tua lesu tak berdaya di kursinya masing-masing.
"Zhao Yan, Zhao Ren. Paman dan Bibi ini menjadi tua renta. Kalian tidak ikut mengantarkan mereka pulang saat malam sudah gelap ? Aku takut mereka nanti akan tersesat dan jatuh di jalan." Mao Yu bercakap.
"Ikutlah kalian bersama paman dan bibi. Barangkali kalian mendapatkan mainan yang bagus di sana." Mao Yu menambahkan.
Tua Ji dan Nyonya Han mendapatkan kembali jiwanya seketika. Ucapan ahli di depan mereka adalah sebuah pertanda tersembunyi.
Sebagai kultivator ribuan tahun. Otak mereka juga makin paham dengan ikhtisar-ikhtisar seperti ini. Mereka segera menangkap maksud sang ahli.
Dia telah mengampuni kami, bahkan membentuk ikatan dengan kami. Kesempatan ini tidak boleh dilewatkan begitu saja.
"Kalian berdua anak baik. Datanglah bersama bibi... Tua di samping bibi ini pemarah. Kalian nanti bisa sial karena dimarahi terus." Nyonya Han mengeluarkan ekor rubah pertama.
__ADS_1
"Hohohoho... Kalian anak manis akan terlantar jika bersama bibi. Dia memasang satu bulu alis palsunya bisa memakan waktu 100 tahun. Kalian akan menjadi tua duluan." Tua Ji mengoleskan seluruh wajahnya dengan bedak putih. Dia mulai menjadi badut.
"Tua Ji ini sangat buruk mengasuh anak. Murid terakhir yang dia punya minggat karena ndak betah." Nyonya Han mengeluarkan ekor rubahnya yang kedua.
"Hohohoho... Bibi suka belanja. Memilih satu daleman bisa makan waktu 200 tahun. Kalian sudah punya cucu nanti." Tua Ji mulai mengolesi kedua pipinya hingga membentuk lingkaran merah.
Demikian seterusnya dua tua ini duel kata-kata hingga Nyonya Han sepenuhnya menjadi rubah ekor sembilan dan Tua Ji memasang bola merah bundar di hidungnya, menjadi badut sempurna.
Zhou bersaudara hanya bengong dengan saling pandang.
"Kalian ini tua rewel sekali. Ambillah satu-satu." Mao Yu sebal.
Senja akhirnya datang. Dua tua pulang dengan masing-masing menggenggam selembar daun willow. Mereka berdua memperlakukan daun itu melebihi sayang pada nyawanya sendiri.
Zhou Ren mengikuti Tua Ji, sedangkan Zhou Yan mengikuti Nyonya Han.
"Kami akan merawat dengan baik keduanya Tuan, Tidak perlu khawatir dengan keadaan mereka." Dua tua menyatakan pamitan.
"Aku mengerti." Mao Yu tersenyum.
Mereka berempat berjalan meninggalkan pohon willow.
"Ah, Tunggu Zhao Ren..." Mao Yu berteriak.
Mao Yu berlari menuju mereka berempat hingga nafasnya tersengal sengal. Zhao Ren juga berlari dengan pedang besar di punggung ke arah tuannya.
"Ini, Kalian melupakan sesuatu. Bibi dan Paman dari siang hingga sore belum pulang. Aku khawatir anak domba mereka belum diberi makan. Ini ranting yang kamu ambil siang tadi dari atas pohon." Mao Yu menyerahkan ranting daun willow kepada Zhao Ren.
Dahi dua tua berkedut-kedut saat mendengar Mao Yu.
"Oh iya mereka kan punya rumah yang berbeda." Mao Yu teringat.
Mao Yu mengambil kembali ranting dari tangan Zhao Ren dan mematahkan menjadi dua dengan bunyi krak, sangat mudah. Kemudian menyerahkan kembali pada Zhao Ren.
Dua tua terbelalak.
Zhao Ren berlari kepada dua tua menyerahkan kepada masing-masing ranting penuh dengan dedaunan hijau.
"IINNN... IIINNNNNIIIII ......."
Tua Ji " .... "
Nyonya Han " ... "
Mereka masing masing memegang ranting di tangan. Mereka merasakan getaran dao dari ratusan daun seperti memegang seluruh dunia di telapak tangan mereka.
Mereka tidak kuat menyangganya, lalu ambruk pingsan.
"Bah, begini kalo orang tua bepergian sendirian. Mereka gampang kumat darah rendah dan pingsan sewaktu-waktu. Kalau mereka ambruk di pinggir sungai bisa dimakan buaya." Mao Yu mengomel.
Zhou Ren " ... ? ... "
__ADS_1
Zhou Yan " ... ? ... "