
Penggalian tambang beberapa hari lalu mendapati sebuah lorong gelap dan panjang di kedalaman yang sangat pekat. Beberapa pekerja sempat memeriksa lorong namun mereka tak mendapatkan apa-apa selain lorong tersebut tak memiliki ujung.
Misi untuk menjelajahi dibuka khusus untuk Benteng Tua Leluhur di mana kualifikasi khusus hanya untuk murid area dalam dan asisten pengajar. Mengingat potensi bahaya yang belum terkuak di kedalaman.
Beberapa pakar menilai kiranya lorong akan mengarahkan pada jantungnya Kristal Utama. Namun ini hanya spekulasi saja.
Ada yang mengatakan kemungkinan terkait dengan makam kuno atau warisan.
Apapun yang dikemukakan pakar pada ujungnya adalah mereka melihat adanya potensi harta luar biasa yang tersimpan. Mereka harus menjelajah dan mendapati hadiah utama sesegera mungkin.
“Misi untuk dua orang ?” Mao Yu menatap Asisten Ning dengan sorot mata tajam.
“Kita bekerja sama dengan baik Asisten Yu, tolong…” Asisten Ning tersenyum dengan penuh rasa misteri.
“Berangkat saat ini juga ?” Mao Yu protes.
“Tidak baik menunda, apa kamu takut melewatkan jam tidur siang anda Asisten Yu?” Asisten Ning mengejek.
“Bah… Apa itu tidur siang berangkat sekarang juga.” Mao Yu berwajah merah.
Di sepanjang jalan dengan menaiki kereta. Mao Yu terus berfikir tentang lorong yang ditemukan para penambang. Mao Yu merasakan ketegangan setelah cukup lama tak merasakan yang demikian ini.
Mereka menggali terlalu dalam hingga hampir menyentuh lubang cacing, sungguh sial. Ekspedisi ini bukan untuk mencari harta namun hanya untuk menemukan petaka.
Untuk berjaga-jaga Mao Yu meminta bantuan kepada She Laode untuk hadir dan terus mengawasi area pertambangan. Sementara Bai Kong tetap di dunia keempat sebagai dukungan belakang dalam konfrontasi melawan Klan Cheng dan Sekte Pedang Bumi.
__ADS_1
“Kenapa wajahmu sangat gugup Asisten Yu? Apakah ini pertama kali anda mengikuti ekspedisi?” Asisten Ning menggoda.
“Bah, aku hanya mual karena mabuk kereta.” Mao Yu mendengus.
“Hahahaha… Aku punya permen mint. Sangat bagus untuk meredakan stress. Silahkan dicicipi.” Asisten Ning menyodorkan beberapa butir permen dengan warna hijau. Namun Mao Yu mengabaikannya.
“Yow, Kita sudah sampai.” Asisten Ning bersorak.
Mereka berdua lantas turun. Mao Yu bernostalgia dengan kondisi tambang saat ini. Tak banyak perubahan berarti pada area luarnya. Hanya saja beberapa bangunan menjadi sedikit lebih tinggi dan besar.
Mulut gua menjadi jalan masuk satu-satunya ada di hadapan mereka berdua. Bagi Mao Yu hanya dua prioritas dia berada di sini.
Pertama adalah untuk menjemput Shen Yangxuan. Yang kedua adalah untuk memeriksa lubang cacing yang menghubungkan tigabelas dunia dengan semesta luar.
Mao Yu dan Asisten Ning berjalan menyusuri gua yang basah dan gelap. Mereka menggunakan peredaran energy untuk menentukan arah alih alih menggunakan obor atau batu penerang.
“Aku akan mengambil arah kiri.” Mao Yu membuat pernyataan.
“Kanan, sesuai arah yang ditunjukkan oleh peta.” Asisten Ning tidak setuju dengan keputusan Mao Yu
“Kita berpisah.” Mao Yu ketus dan membuat langkah ke lorong sebelah kiri. Meninggalkan Asisten Ning dengan muka masam.
Tidak seperti sebelumnya di mana dia harus melalui beberapa tahapan dalam membuka jalan tersembunyi. Mao Yu yang sekarang cukup menapaki beberapa langkah sudah menembus beberapa ruang yang terisolasi di hadapannya.
Hingga dia tiba di dalam sebuah ruangan temaram oleh sinar redup batuan alam. Ruangan yang memiliki udara lebih dingin, dinding batu yang basah dan suara air memercik dari atas stalaktit.
__ADS_1
Mao Yu mengungkapkan sosok dengan perawakan badan besar yang gagah sedang bermeditasi. Orang itu seperti tidur dengan melupakan semua apa yang terjadi di dunia selama ini.
“Kakak Yang…” Mao Yu menyapa dengan hangat.
Sosok itu membuka mata dengan tegas. Sorot matanya tajam mampu menelan nyali ratusan ribu musuh yang menatapnya.
“Adik Yu….” Pria besar itu bangkit dari Samadhi dan berjalan tergopoh-gopoh menuju Mao Yu untuk kemudian merangkulnya.
Shen Yangxuan sangat besar sekarang, Mao Yu yang berukuran tinggi normal manusia pada umumnya hanya setinggi dada Shen Yangxuan. Dia tenggelam dalam dekapan erat Shen Yangxuan di mana lengannya yang kokoh dan tebal sepeti baja merekat pada Mao Yu.
“Hahahaha… Kakak Yang aku bisa mati dan menjadi perkedel.” Mao Yu sangat gembira bertemu kembali saudaranya.
“Hahahaha… Adik Yu kamu semakin bertambah dewasa. Kuharap kekuatanmu harus lebih jauh dari yang kupunyai.” Shen Yangxuan melepas pelukan kuatnya.
Mao Yu mengeluarkan anggur dan buah-buahan. Shen Yangxuan bagai singa kelaparan mengunyah dan menenggak hidangan yang disajikan.
Mereka berdua saling bercerita dan tertawa terbahak-bahak.
Mao Yu menceritakan semua perjalannya hingga sekarang. Terutama bagian pendirian dan pengoperasian Benteng Tua Leluhur. Shen Yangxuan sangat takjub dengan prestasi adiknya. Dia terkagum-kagum mendengar detil tiap Mao Yu bercerita.
“Aku senang mendengar Paman Mubai baik-baik saja dan mendapat tempat yang bagus. Adik jangan simpan semua masalahmu sendirian. Aku kakakmu meskipun masih sangat terbatas akan terus mendukungmu. Dan menjadi tukang pukulmu seterusnya. Kamu ingat Mo Tian yang kupukul saat di Bakmi Hwa? Hahahaha….”
“Hahaha… Anak itu Mo Tian sekarang menjadi anak yang berbakti. Dia di Benteng Tua Leluhur menjabat sebagai eselon utama. Kakak juga bisa memilih jabatan di sana dengan bebas.” Mao Yu sangat gembira.
“Aku tidak tertarik dengan jabatan dan birokrasi. Sebut saja orang mana yang harus kupukul. Akan kubuat dia babak belur untukmu. Hahahaha…” Ledak tawa Shen Yangxuan menggema dalam ruangan gua.
__ADS_1
Mao Yu kemudian juga turut tertawa terbahak-bahak.
“Kakak aku suka pikiran lugasmu.”