
Di tengah kepulan asap dan debu bercampur menjadi satu.
Karena tebalnya para penatua dan murid tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi pada Mao Yu dan Penatua Pertama di arena duel.
Mao Yu menghentikan langkah di depan Penatua Pertama yang tertunduk kelelahan dan kesulitan bergerak karena seluruh organnya telah bergeser.
Seluruh tubuhnya masih bergetar, dia tidak dapat menggerakkan tubuhnya dengan baik. Dia pun hanya bisa batuk-batuk dengan kuat dengan disertai ludahan darah.
"Ada wasiat untuk murid sektemu ?" Mao Yu berkata.
" ... " Penatua Pertama kesulitan bicara.
Bahkan untuk mengangkat kepala pun terasa sangat berat.
Mao Yu membuat gerakan indah dengan telapak tangannya. Ruangan di sekitarnya berputar dengan halus dan pelan. Membentuk pusaran menyedot segala hal di mana telapak tangan Mao Yu sebagai pusatnya.
Soul Devourer
AAAAAAAAWWCCCHHH......
Teriakan Penatua Pertama terdengar di telinga para penonton dengan suara tragis.
"Ada apa dengan tetua pertama ?" Penatua Ketiga khawatir.
Semua terdiam. Tak ada satu pun yang merespon pertanyaan Penatua Ketiga. Semua merasakan kekhawatiran yang sama dengan Penatua Ketiga.
Penatua Pertama menjerit dengan teriakan yang sangat menderita, dia merasakan seluruh tubuhnya seperti dihujani ribuan jarum.
Kemudian dia merasa seluruh tubuhnya seperti diperas dengan dua tangan besar. Hingga segala cairan tubuhnya keluar.
Dia merasakan energi, kultivasi, dan darah esensialnya diekstrak keluar oleh hisapan dari telapak tangan Mao Yu.
Dia mencoba menahan kebocoran esensi dengan segala hal yang dia bisa. Namun sayang dia tidak bisa berkutik sedikitpun. Segala upaya tidak dapat menolak hisapan sama sekali.
Dia akhirnya dengan pasrah merelakan esensialnya tersedot oleh Mao Yu.
Terus menerus hingga tak bersisa.
Penatua Pertama ambruk ke tanah menjadi manusia kering. Tinggal tulang terbungkus kulit. Dia mati mengenaskan dengan mulut terbuka lebar.
Hisapan telah berhenti, Mao Yu memandangi telapak tangannya. Dia merasakan tubuhnya menguat setelah memangsa kehidupan kultivator ranah langit pertama.
"Bagaimana hasilnya jika aku menghisap ratusan bahkan ribuan orang ?" Dia bergumam.
__ADS_1
Angin tak membiarkan debu dan asap mengepul berlama-lama. Sapuan halus dan konsisten mulai meniup dan menggeser hingga seluruhnya mulai memudar.
Para penonton mulai melihat bayangan samar-samar sang petarung.
Bayangan semakin jelas mengungkapkan sesosok pemuda. Mereka segera mengenali itu adalah figur Tuan Muda Mansion Tua Leluhur. Lalu, di mana Penatua Pertama ?
Pandangan mata mereka berlarian ke segala sudut medan pertempuran.
"Ah, Itu... Ituu... " Salah seorang murid memiliki ekspresi tidak percaya di wajahnya.
Mereka semua segera melihat tubuh tergeletak di tanah diam tak bergerak. Dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Tubuh besar dengan otot kekar penatua pertama yang mereka kenal kini menjadi jasad kering dengan penampilan tulang terbalut kulit.
Soul Cloak
Mao Yu kemudian menghilang dari pandangan semuanya.
Para penatua dan murid berlarian berbondong-bondong menuju jasad penatua pertama dengan raut muka bersedih. Mereka segera menghampiri jenazah Penatua Pertama.
"Para tetua, akankah kita membalas dendam untuk guru kami ?" Seorang murid langsung Penatua Pertama berkata dengan penuh kebencian.
"Jika kamu ingin, maka lakukan sendiri. Sekte menarik diri dari permasalahan dan menyatakan bahwa perkara yang melibatkan penatua pertama sudah berakhir di sini." Penatua Kelima berkata.
"Tuan Muda Mansion Tua Leluhur tidak dapat diremehkan. Entah dia sengaja menyembunyikan kultivasinya aku tidak tahu dan tidak begitu yakin. Yang jelas sekte kita akan menjadi abu jika kita ngotot melawannya." Penatua Ketiga Mendesah.
Para murid dengan berat hati mendengarkan arahan kedua penatua mereka. Mereka ingin sekali membalaskan kematian penatua pertama.
Jenazah penatua pertama dimasukkan ke dalam peti mati. Tenda-tenda camp dibongkar dan dilipat. Mereka langsung pulang kembali ke sekte dalam keadaan berduka.
***
Dua orang berkuda dengan langkah pelan menuju Kota Kekaisaran.
Dalam perjalanan pulang Shen Mubai tidak berbicara sedikit pun. Apa yang dia lihat tadi masih menghantui pikirannya.
"Nanti malam kita ke Klan Mo." Mao Yu berkata.
Shen Mubai hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu pulang dulu ke paviliun. Aku ada urusan lain sebentar." Mao Yu memacu kudanya ke arah berbeda.
Mao Yu berpisah dengan Shen Mubai. Dia memacu kudanya dengan santai.
Tak lama kemudian kuda Mao Yu meringkik merasakan sebuah anda bahaya. Mao Yu segera berusaha menenangkan kudanya yang menjadi agak liar.
__ADS_1
Seorang wanita dewasa dengan bodi luar biasa menghadang kuda. Rok ketat dengan belahan tinggi hingga paha wanita memperlihatkan cahaya kemilau pesona.
Tonjolan yang menantang dibentangkannya dengan bangga. Mempertunjukkan sebuah pelet alami kaum pria.
Jika menjadi penggoda kaisar, maka runtuhlah kerajaan. Sang kaisar akan melupakan segala hal tentang urusan pemerintahan. Dalam pikirannya hanya akan mabuk kepayang oleh bayangan wanita dewasa ini.
Dengan susah payah akhirnya kuda dapat ditenangkan kembali oleh Mao Yu.
"Ledakan yang meriah. Pesta yang sangat besar sepertinya baru saja terjadi." Wanita dewasa membuka dialog.
"Hanya petasan kecil, uji coba ledakan untuk peresmian bentengku nanti." Mao Yu menjawab.
"Kamu datang karena mencium bau bahan peledaknya ?" Mao Yu menambahkan.
Wanita dewasa berjalan mendekat ke kuda Mao Yu dengan langkah genit layaknya seorang penggoda. Beberapa bagian tubuh yang tak perlu berayun saat berjalan pun ikut diayunkan juga.
Wanita dewasa sampai pada Mao Yu dengan jarak yang dekat. Dia menyentuh kepala kuda dan mengelusnya dengan gerakan kemahiran wanita berpengalaman.
Bahkan mungkin kuda ini akan timbul keinginannya.
"Hanya Night Lily yang memiliki kertas mantra peledak, apalagi dengan jumlah segitu banyaknya. Bagaimana mungkin kamu memiliki sebanyak itu. " Wanita Dewasa memicingkan mata.
Kecantikannya mekar bagai bunga matahari saat dia menatap Mao Yu dengan sebelah mata yang menyipit.
Mao Yu pun membalas dengan menatap tajam wanita dewasa di depannya.
"Kamu jangan ge-er seolah hanya kalian Guild Dagang Night Lily yang bisa memiliki lembaran kertas itu."
"Datanglah ke kediamanku, aku punya mesin cetak kertas yang canggih. Kutunjukkan padamu bagaimana cara kami menyablon puluhan kertas sekaligus." Mao Yu berkata dengan malas.
Wanita dewasa " ... "
Demi surga kertas mantra peledak adalah karya dari sebuah ahli prasasti. Mereka menuliskannya di atas kertas khusus dengan bahan tinta khusus pula.
Di mana tinta tersebut mengandung energi besar yang disimpul dengan pola pola rumit goresan sang ahli.
Bahkan untuk menuliskan selembar kertas, energi spiritual mereka akan sangat terkuras. Tidak sembarangan dapat diproduksi dalam waktu singkat. Ahli utama saat ini maksimal hanya memproduksi dua lembar dalam sehari.
"Ambillah langkah mundur... " Mao Yu berkata.
Wanita dewasa mengambil beberapa langkah menyamping, sehingga Mao Yu mendapatkan jalan untuk langkah kudanya.
Kuda akhirnya berjalan maju menghiraukan wanita dewasa yang ditinggalkannya di belakang.
__ADS_1
Wanita dewasa menyedekapkan tangan di atas dua rahmat besarnya.
Tatapannya tajam mengunci punggung pemuda yang terus menjauh hingga menghilang di sebuah belokan.