Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Konfrontasi Di Depan Hidung Klan Cheng


__ADS_3

Pertempuran antara Benteng Tua Leluhur dan Klan Cheng telah pecah beberapa saat lalu.


Komandan Li Hua dengan Squad Hitam An Ming menunjukkan kebolehan mereka bertempur di depan mata seluruh pengamat yang hadir.


Klan Cheng yang sangat tertutup terpaksa harus membuka tirainya untuk dunia keempat. Para pengamat menyaksikan dengan mata kepala sendiri Klan Cheng yang selama ini telah banyak dibicarakan dalam dasas desus dan diam-diam.


Klan Cheng muncul dan menunjukkan diri di hadapan pasukan Benteng Tua Leluhur karena telah muak terusik oleh tekanan Benteng Tua Leluhur.


“Jika kamu memasukkan air ke dalam lubang secara terus menerus, maka jangkrik akan terpaksa keluar dari lubangnya.” Seorang pengamat berkomentar.


“Mereka benar-benar sesuai dengan reputasinya.”


“Apakah yang tadi bisa benar benar dikatakan sebagai sebuah pertempuran?” seorang murid bertanya.


“Mereka hanya saling menguji dan mencoba mengukur kekuatan lawan. Terutama Klan Cheng, mereka tidak mau gegabah untuk hanya sekedar melakukan pembasmian.” Sang guru menjawab pertanyaan muridnya.


“Jadi hanya sebagai penjajakan. Betul begitu guru?”


“Ya, Klan Cheng sangat berhati-hati.” Gurunya menegaskan.


Li Hua berdiri di depan portal sendirian. Pengamat melihatnya sebagai pria paruh baya yang santai tanpa tekanan apa pun. Tindakannya membuta giris para pengamat karena yang dilakukan Li Hua sangatlah berbahaya.


Seperti mendekatkan diri pada rahang singa.

__ADS_1


Seorang tokoh nampak muda menghampiri Li Hua dari dalam portal. Para pengamat meyakini dia adalah seorang keturunan utama Klan Cheng. Mereka menduga dia adalah calon penerus klan.


Li Hua tersenyum dan menyapa dengan ramah Cheng Jialong. Namun dia membalasnya dengan dengus kasar dan mimik wajah yang sangat tidak ramah.


“Aku menyimpan adik dan pamanmu. Oya, kami juga memiliki mayat adikmu yang lain.” Li Hua langsung menohok Cheng Jianlong. Tanda bahwa kunjungan untuk pertemuan ini bukan untuk diskusi dengan nuansa ramah tamah.


“Aku akan mendatangi bentengmu dan menghancurkan menjadi puing reruntuhan.” Cheng Jianlong meradang. Padahal jauh di dalam hatinya dia menyimpan kemarahan yangtak terbendung.


“Bukankan sudah? Aku mendapat laporan ada segerombolan orangmu menyisir tembokk Benteng Tua Leluhur. Apakah mereka kembali dengan membawa reruntuhan batu batu tembok kami?” Li Hua mencibir.


Cheng Jianlong “ ... “


“Mereka sudah menjadi pupuk untuk menyuburkan rumput-rumput. Dari menara petugas melihat dengan indah daun daun menjadi hijau dan mengkilap. Aku menyampaikan ucapan terima kasih atas nama para petugas menara Benteng Tua Leluhur, membuat mereka betah dan tidak bosan melihat padang yang gersang.”


CLANKKKK....


Suara pedang bertabrakan terdengar sangat keras. Pedang Chen Jianglong terhenti beberapa inchi dari pelipis Li Hua karena tertahan oleh pedang lurus yang panjang.


Jing Jun muncul dalam sekejap untuk memblokir tebasan pedang Cheng Jianlong. Membuatnya sedikit terhenyak karena ia tak dapat mendeteksi keberadaan Jing Jun yang muncul sekejap mata.


Cheng Jianlong mengambil langkah mundur, dia menggenggap pedangnya dengan sangat erat. Ingin memulai serangan kedua namun hatinya dipenuhi keragu raguan.


“Kemu telah kehilangan pedangmu, seorang pendekar pedang yang tidak mempercayai ketajaman bilah pedangnya akan ditinggalkan oleh pedang itu sendiri.” Li Hua berkata dengan sangat pelan.

__ADS_1


Cheng Jianlong bergetar seluruh tubuhnya. Perkataan Li Hua seperti telah berbicara pada jiwanya sendiri. Tatapan Cheng Jianlong terlihat sedikit menunjukkan tanda tanda kepanikan.


Hingga akhirnya dia melonggarkan pedangnya. Pengamat melihat dengan jelas Cheng Jianlong menjatuhkan pedang di depan lawannya.


INNNNN IIIIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIII.................


“Pemuda Cheng itu bukan sembarangan. Kultivasinya setara dengan para tetua kita. Bahkan tetua pendahulu, dia menjatuhkan pedang begitu saja. Apakah dia menyerah?” Pengamat dengan topi beludru memecahkan keheningan tribun pengunjung.


“Pak tua itu kudengar hanya mengucapkan beberapa kalimat saja.” Di sebelahnya langsung menyuarakan keterkejutannya.


“Li Hua Sang Utama dari Benteng Tua Leluhur. Pilih jalan lain agar kamu tidak berpapasan dengannya saat dalam perjalanan. Jangan diajak bicara walau hanya dengan sebuah kata. Jangan membuat urusan dengannya. Hindari...” Seorang leluhur yang mengamati peristiwa peperangan Benteng Tua Leluhur dengan Sekte Api Phoenix sebelunya berkomentar.


“Ah, Leluhur... Bagaimana Anda menyimpulkan begitu?” Seorang pengamat muda yang berfikiran kritis segera bertanya.


“Perkataannya lebih beracun dari bisa ular derik pegunungan hitam. Bisa ular menyakiti tubuh jasmani, sementara ucapannya meracuni jiwamu.” Leluhur mengatakan dengan serius dan tegas. Untuk memperingatkan para pengamat yang lain.


“Astaga, Aku akan mati bahkan jika hanya dia memintaku untuk mati?”


“Sudah terjadi. Aku melihatnya sendiri saat mereka bertempur dengan Sekte Api Phoenix. Bahkan kepala sekte tak terkecuali akan mati jika Li Hua Sang Utama menghendaki dalam ucapannya.” Leluhur menyampaikan dengan suara bergetar, dia masih merasakan kengeriannya.


INNNNN IIIIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIII.................


INNNNN IIIIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIII.................

__ADS_1


INNNNN IIIIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIII.................


__ADS_2