Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Umpan


__ADS_3

“Mohohoho... Mohohohoho...”~~~~


Bola raksasa Nona Bu memantul mantul di sekeliling para tamu. Dengan cekatan dia menyajikan hidangan inti makan malam.


Seluruh tamu berbinar binar melihat berbagai masakan tersaji di depan mata. Masakan itu seolah berkilauan sangat menggoda selera.


Babbi guling yang dipanggang dengan kematangan sempurna, dibubuhi saus berwarna oranye yang aromanya tak dapat disangkal. Para tamu melihat dengan jelas pada mulutnya disumpal buah semacam pir berwarna merah.


Jelas ini adalah buah spiritual dengan kualitas wahid.


Hidangan pendukung seperti kalkun utuh yang digoreng garing. Berwarna golden brown yang sangat menawan.


Sup kepala ikan, tumis sayur mayur dan berbagai macam buah spiritual pun tersaji dengan susunan yang sangat mengagumkan.


Nona Bu menuangkan sake pada masing-masing cangkir di meja para tamu.


“Mohohohoho.... Silahkan dinikmati.” Nona Bu sangat bangga dengan jamuannya.


“Terima kasin Nona...”


Mereka mulai melahap dengan liar seperti pengemis gelandangan yang belum makan berhari-hari. Mereka mengakui kelezatan masakan Nona Bu hingga berlinang air mata.


“Nona Bu, Bagaimana anda memasak semuanya ini dalam waktu singkat?” Lei Teng pun penasaran.


“Mudah sekali.” Nona Bu memeragakan gerakan melompat.


Tubuh bolanya memantul dan plopp, muncul Nona Bu kedua. Tak berhenti di situ saja, Nona Bu kembali melompat beberapa kali.


Plopp...


Plopp...


Plopp...


Muncul Nona Bu kedua ketiga keempat dan seterusnya seperti gelembung.


“Mohohoho... Mohohohoho...” Selusin Nona Bu tertawa secara berjamaah.

__ADS_1


Lei Teng “ ... ”


Wang Du “ ... ”


Kong Kecil “ ... “


Oranye “ ... “


Kloning Nona Bu hilir mudik melayani makan malam para tamu. Bola bola besar menggelinding ke segala arah. Membawa makanan berikutnya untuk disajikan.


Di tengah nikmatnya sajian Oranye mengirimkan tranmisi kepada Mao Yu.


“Tuan, Aku merasa ada sesuatu terjadi menimpa Tang Shan dan Chen Li. Ikatanku samar-samar terganggu. Mereka berkali kali sudah di ambang kematian.”


Mao Yu tersentak dan memicingkan mata.


“Bagaimana itu terjadi?”


“Mereka disiksa.” Oranye menjawab.


Setelah menarik nafas panjang. Mao Yu berdiri dari kursinya.


Angin berdesir di danau perak. Udara dingin terasa membuat tubuh lebih menggigil karena hembusannya membawa hawa keputus asaan.


Mao Yu berdiri di halaman utama sekte. Melihat pengikut pengikut Lei Teng bergelimpangan. Beberapa di antaranya meninggal, lainnya sekarat.


Mao Yu pun merasa geram dan sangat marah.


“Kakak...” Pengikut Lei Teng yang berumur tua menyebut Mao Yu. Dia sangat memprihatinkan. Seluruh pakaiannya robek dengan bagian tubuhnya terkena luka bakar.


“Tenangkan dirimu...” Mao Yu memberikan pil penyembuhan kepadanya.


Mao Yu duduk di sebelahnya menanti pil penyembuhan bekerja. Dalam hatinya, Mao Yu sangat mengutuk tindakan seperti ini. Kematian satu satunya hukuman yang pantas diterima sang pelaku.


Mao Yu memvonis.


“Uhukk... Uhukk...”....

__ADS_1


“Pak Tua, kamu sudah bisa berbicara meskipun masih lemah. Apa yang terjadi kepada kalian?” Mao Yu segera mengambil informasi.


“Gadis Api Phoenix datang kemari, dia mencari Pendeta Pegar Suci. Karena tak menemukan, dia menjadi histeris dan meluapkan kemarahannya pada kami.”


“Gadis itu mencari kematian.” Mao Yu mengutuk.


Mao Yu memberikan beberapa vas pil penyembuhan kepada pria tua. Dia memerintahkan untuk membantu yang lain.


Meskipun dengan kesulitan bergerak, dia segera merawat kawan-kawan yang berada di dekatnya.


Mao Yu berdiri ke arah utara, matanya tajam. Menyorot pada sebuah titik di kejauhan.


“Kalian jauh-jauh datang kemari, sayang jika kalian kembali dengan tangan hampa. Kemarilah, kembalilah ke sini lagi. Kakak yang cakep ini akan memberikan kalian cinderamata yang tak terlupakan.”


Mao Yu menyalakan kembang api.


DARRR....


Bunga api raksasa dengan bentuk isyarat jari tengah mekar di atas danau perak.


Seorang gadis berbalut busana merah menoleh ke belakang. Kecantikannya tak dapat diganggu gugat. Di balik gaun merahnya yang berkibar matanya menyipit tajam dengan nafasnya yang semakin pendek dan cepat.


Dia sangat murka.


Di kejauhan pria gagah bersedekap dengan beberapa pengikut di belakangnya. Menatap tajam ledakan kembang api.


Mereka sangat terprovokasi.


Sebuah kereta ditarik dengan santai, seorang pemuda duduk dengan malas di dalamnya. Kereta ditarik dengan enam kuda hitam dengan kusir yang terlihat sangat tenang.


Dari balik kaca jendela kereta dia melihat bunga api raksasa di sebuah arah yang jauh.


Dia hanya tersenyum kecil di bibirnya.


“Sepertinya menarik...” Dia bergumam pelan.


Mao Yu berdiri diam mematung di tepi danau. Dia sedikit meregangkan tubuhnya. Ah, saatnya berolahraga...

__ADS_1


Inderanya pun menguat meraba dan menjangkau segala arah. Untuk memastikan ikan ikannya mengambil umpan yang dia berikan.


Mao Yu sedikit tersentak, dia merasakan ada tiga kelompok bergegas menuju ke arahnya.


__ADS_2