
Murid Sekte Pedang Bumi berwajah segitiga terlihat sangat menyebalkan. Raut mukanya penuh dengan kelicikan.
Mao Yu risih banget melihatnya. Matanya menyipit dengan senyuman sinis bernuansa meremehkan.
“Kakak, biar kupegang. Pukuli tanpa ada rasa belas kasihan.” Murid berwajah segitiga segera melesat menuju balik punggung Mao Yu.
Pergerakannya jika dinilai oleh murid Sekte Singa Perak pada umumnya adalah pergerakan kilat. Sangat cepat hingga mata mereka tak mampu menangkap bayangan sama sekali.
Namun sayang bagi Mao Yu ini terlihat seperti siput sakit yang berjalan. Too slow.
Senyum bahagia terlintas pada murid berwajah segitiga. Kedua tangannya hendak meraih pergelangan Mao Yu.
“Eh.....”
Celepuk, dua lengannya terlepas. Air mancur sirup mapple menyembur dengan hebat.
Murid berwajah segitiga memaksa mata sipitnya untuk membuka lebih lebar. Dia merasa tak percaya.
Rasa nyeri menyerang kedua pangkal lengannya dengan hebat.
“AAAARRRRGGGGHHH.....”
Dia berteriak, menjerit dengan terguling-guling di tanah rerumputan. Sejauh dia menggelinding ke mana pun, bekas sirup mapple yang tumpah di atas rumput terus mengikuti arahnya.
“Kamu...” Murid berwajah kotak sama terkejutnya.
Tangannya sedikit bergetar memegang pedang yang tergantung di pinggangnya.
Meskipun dia menghunus, masih terlihat sedikit getaran di ujung pedangnya. Sangat ngeri, bahkan dia tak bisa melihat bagaimana dan kapan anak ini bergerak.
Mata murid berwajah kotak fokus pada belati melengkung di tangan kanan Mao Yu. Darah masih menetes melalui ujungnya.
“Siapa kamu ?” Murid berwajah kotak sangat waspada. Pedangnya mengarah pada leher Mao Yu.
__ADS_1
“Aku adalah kebajikan dan keadilan. Pahlawan pembela kebenaran.” Mao Yu menggoda.
Angin dingin berdesir dekat dengan telinga murid berwajah kotak.
Tanpa disadari dia kehilangan kontrol atas kedua lengannya. Parade semburan sirup mapple sangat meriah dari sisi kiri dan kanannya.
Dia bersimpuh dengan kedua lututnya.
Dia tidak berteriak seperti temannya.
Mukanya menunduk. Tatapannya kosong.
Dengan lambaian tangan, Mao Yu mengambil cincin milik keduanya. Keempat lengan yang terlepas Mao Yu hempaskan ke danau. Bunyi celepuk ringan terdengar menenggelamkannya.
Kedua murid tak lagi memiliki harapan kembali menyambung kedua lengannya.
Menumbuhkan kembali pun hanyalah angan-angan kosong. Hanya para elite dengan kekayaan fantastis yang memiliki kemampuan.
Selain bahan yang super langka. Perlu alkemis yang sangat mumpuni untuk menanganinya.
Rasa angkuh tiba-tiba runtuh. Menjadi rasa penyesalan dan ketakutan yang maha dasyat.
Sebagai murid dari sekte besar yang di mana pun mereka ditakuti dan disegani. Mereka tak berharap hari ini akan terjadi.
Kedua murid merasakan rasa dingin di leher mereka.
Tak berapa lama kemudian Mao Yu mengibaskan belatinya ke udara hingga terlepas dari segala noda cair sebelum menyimpannya kembali. Dia lantas meninggalkan mereka berdua dalam keheningan.
Saat Mao Yu berjalan cukup jauh, air meluap menarik kedua jasad menuju dasar danau.
“Siapa bocah itu ?” Seorang ahli yang kebetulan sedang lewat dengan jelas melihat dengan kepala matanya sendiri.
Dia dengan sangat jelas bahwa pembantaian sepihak telah menumbangkan dua korban murid dari sekte besar.
__ADS_1
“Sangat gila, sangat gila, pembunuhan terhadap murid Sekte Pedang Bumi, bocah ini akan dikejar hingga ke ujung dunia. Tidak ada seorangpun bernasib baik melakukan hal serupa selama ini.”
“Bahkan aku tak melihat gerakan pembunuhannya.” Ahli memegang lehernya sendiri. Seolah-olah hal yang sama bisa terjadi pada dirinya. Hiii... Dia bergidik ngeri.
“Bocah ini berjalan menuju sekte sekarat, Sekte Singa Perak. Apakah dia adalah murid di sana ?”
Ahli menduga demikian, sudah sangat lama sekte Singa Perak tidak menunjukkan kiprah berarti. Bahkan penurunan tajam telah dan pasti terjadi dengan sangat nyata.
Sebagai figur yang telah lama melihat perkembangan dunia, ahli sangat memahami segala hal di dunia keempat.
Dia menyaksikan kala itu master Sekte Singa Perak yang hampir setengah langkah menuju immortal harus berhadapan sebagai salah satu bintang emas Sekte Pedang Bumi.
Kedua belah pihak harus melangsungkan duel untuk menguji hak untuk menyandang gelar immortal.
Ini adalah dunia di mana, untuk mencapai level immortal, seseorang harus bisa mengalahkan pesaingnya. Sehingga dapat mengklaim sebuah ketinggian di puncak. Hanya ada satu singgasana di setiap puncak.
Persaingan yang bahkan harus membunuh lawannya.
Di tahapan seperti ini kultivator diuji sebuah tekad daonya. Dia memiliki keteguhan atau memilih untuk tak bersaing sama sekali.
Sekali lagi ini dikembalikan lagi kepada pelakunya masing-masing. Apakah mereka mau mengambil resiko untuk menuju puncak dengan manfaat keteguhan dao yang dapat terus meningkatkan levelnya.
Atau memilih jalur aman dengan resiko mengalami kemajuan yang lambat.
Ini sekali lagi berbicara tentang masalah dao keteguhan.
Ahli tampaknya merenung terlalu jauh. Hingga tak sadar dia dibangunkan oleh sapaan seseorang yang berada di dekatnya.
“Kamu di pihak mereka yang telah mati ?” Mao Yu bertanya.
Ahli terperangah, bagaimana bisa level pakar seperti dirinya tak mengendus langkah seorang bocah yang mendekatinya.
“Jika kamu sepihak dengan mereka, pilihanmu hanya satu yaitu mati. Namun jika tidak, maka kamu adalah tamuku mulai sekarang.” Mao Yu memaksakan dua pilihan.
__ADS_1
Ahli memfokuskan pandangan pada Mao Yu.
Menjadi tamu berarti itu adalah tawanan.