
Di depan gua makam banyak pemuda dari Sekte Api Phoenix yang berpatroli. Mereka berbusana merah dengan wajah yang garang penuh kesombongan.
Dua kekuatan besar Sekte Api Phoenix dan Sekte Pedang Surgawi menjaga pintu gua makam setiap seminggu sekali. Sedangkan untuk sekte menengah mereka diberikan waktu sekali kunjung dibatasi setiap 4 jam.
Hari ini Sekte Api Phoenix bertugas menjaga.
Pengamat dari Sekte Sungai baru saja check out, giliran Klan Wang yang mendapat giliran masuk.
Mao Yu beserta rombongannya tiba. Wang Jiao segera mendaftar dan mengisi buku kunjung di meja registrasi.
“Klan Wang sudah frustasi, kali ini mengirim segerombolan bocah.” Seorang pemuda tampan sedang mencemooh.
Gelak tawa bersahutan dari para pengikutnya.
Wang Jiao dan Wang Shan hanya diam menunduk dengan wajah memerah karena marah.
Mereka dari sekte menengah selalu mendapat perlakuan direndahkan oleh mereka. Namun apalah daya mereka pun juga tidak mampu melawan.
“Kamu orang Sekte Api Phoenix?” Mao Yu menunjuk pada pemuda tampan di depannya.
“Tidak Sopan, Dia adalah putra penatua pertama sekte kami. Jaga bicaramu !” Salah satu admin di meja registrasi berdiri tiba-tiba dan menyalak keras pada Mao Yu.
Rombongan Mao Yu dipelototi oleh sekompi murid Sekte Api Phoenix. Wang Jiao dan Wang Shan makin menunduk dan sedikit khawatir.
“Sepertinya kalian semua harus giat bekerja untuk mendapatkan uang. Ada hutang yang tinggi yang harus dibayar ke Night Lily.” Mao Yu dengan santai melempar perkataan.
Seluruh murid terdiam dengan memancarkan aura kemarahan mengunci Mao Yu.
“Kakak, Ini bagaimana? Tamat sudah.” Wang Shan berbisik kepada kakaknya.
__ADS_1
Sementara Wang Jiao menjawab dengan menatap adiknya melalui pandangan pasrah.
Namun duo Wang ketika melihat Lin Fan sangat heran. Kita ini dalam situasi sedang tertekan, namun anak ini tetap santai dengan senyum-senyum dan tampak bahagia. Seperti tak terjadi apa-apa.
“Kamu.... !!!” Pemuda tampan geram.
Sementara para murid dalam keadaan diliputi kemarahan. Mao Yu melangkahkan kaki menuju gua makam. Diikuti oleh yang lainnya.
“Kakak Nian, Kenapa kita tidak memberikan mereka pelajaran di tempat?” Salah satu murid bertanya.
“Itu pasti, tidak di sini tempatnya. Tunggu hingga mereka keluar, dan kita hadang saat perjalanan mereka kembali ke camp.”
“Selain menjaga prestise kita, kita harus melakukan dengan cerdik. Jika kita menghajar di sini, maka ucapan bocah itu akan dibenarkan oleh semua orang.” Nian menjelaskan.
“Maksud kakak terkait hutang ke Night Lily?” Murid kekar bertanya.
****
Mao Yu dan rombongan menelusuri koridor gua langkah demi langkah.
Di sepanjang jalan gua terasa sangat lembab dengan banyak tetesan air.
Mao Yu menyentuh dinding gua, terasa dingin seperti logam. Dia merasakan ada kekuatan aneh yang mengalir dari urat bebatuan yang berfungsi untuk memperkuat struktur.
Dia menduga serangan seorang ahli pun tidak akan dapat membuat kerusakan yang cukup pada dinding batu ini.
Memang layak jika ini adalah tempat makam bagi seorang ahli.
Rombongan berhenti pada sebuah ruangan yang cukup lebar dengan sebuah altar meja seperti batu di tengah.
__ADS_1
“Para ahli yang mengamati pada altar terdapat sebuah skema array yang sangat rumit. Namun semuanya mengalami kebuntuan tak dapat membuka susunannya.” Wang Jiao menjelaskan.
Mao Yu mengangguk.
Kemudian dia meluaskan persepsi jiwanya untuk mengunci altar di depannya. Sentuhan jiwa pada altar membuat respon beberapa titik berpendar dengan cahaya yang sangat redup.
Wang Jiao dan Wang Shan menyibukkan diri dengan memeriksa setiap sisi dan sudut aula gua. Mereka bekerja keras tidak menyia-nyiakan waktu 4 jam yang dimiliki mereka. Berharap menemukan sesuatu yang baru.
Mao Yu memusatkan kekuatan jiwa pada jari telunjukknya. Dia menyentuh titik-titik yang berpendar redup di segala sisi.
Mao Yu berputar bolak balik pada setiap sisi. Mondar mandir untuk kemudian menempelkan ujung telunjuknya di bagian tertentu.
Terus menerus begitu hingga memakan waktu 10 menit.
“ ... “ Wang Jiao dan Wang Shan saling memandang.
Mereka bingung sekaligus heran apa yang sedang dilakukan tuan mudanya kali ini.
Pandangan mereka kemudian berganti ke arah Lin Fan. Lin Fan membalas memandang mereka dengan terkekeh-kekeh.
Tak jauh dari pintu gua, di sebuah pohon besar. Kong Kecil merapalkan sebuah mantra cuaca.
Senja yang mulai temaram gelap kini kedatangan gumpalan awan yang tebal. Awan itu segera turun pada permukaan tanah sehingga membuat situasi malam menjadi berkabut.
Pandangan orang biasa akan semakin dibatasi.
Namun uniknya kabut ini juga membatasi para kultivator, kabut mampu menghalangi kekuatan persepsi mereka. Sehingga penglihatan mereka juga terbatas.
“Kabut yang aneh...” Nian mendengus.
__ADS_1