Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Kepala Alkemis


__ADS_3

Area tengah lebih luar biasa lagi. Udara dengan origin pekat mengalir berkali-kali lipat dari area terluar.


Eselon sekte tinggi akan malu bernafas di sini, tanah utama mereka sangat layu jika dibandingkan dengan area tengah Benteng Tua Leluhur. Bahkan jika informasi ini terkuak ke permukaan. Bukannya mereka akan berebut tempat ini seperti anak kecil berebut mainan.


Masalahnya, bisakah mereka melakukan itu?


Semua bangunan tertata sangat rapi dan lebih padat daripada area terluar. Pepohonan dan padang rumput sangat segar terlihat, para murid mengisi ladang-ladang mereka dengan  berbagai jenis tanaman herbal.


Mereka segera memasuki area dalam saat matahari tenggelam.


Mereka tak dapat melihat apapun di sini selain kegelapan malam dan beberapa nyala lampu yang menerangi bangunan dan beberapa bagian jalan.


Intuisi dan pengindraan mereka dibungkam oleh kegelapan. Mereka seperti manusia fana di tengah kegelapan malam. Tak dapat merasakan apa pun sama sekali.


“Persiapkan diri kalian, kita akan memasuki arean inti. Tempat di mana para eselon tinggi benteng tinggal dan memerintah.” Pelayan tua memberikan informasi.


Mereka lantas merapikan baju dan penampilan sesegera mungkin. Hingga akhirnya kereta tiba pada sebuah bangunan dengan desain arsitektur lama.


Di meja jamuan ketiganya duduk dengan sajian buah-buahan spiritual dan makanan ringan. Pencahayaan dengan Kristal kuning menambahkan kemewahan pada interior sederhana di dalamnya.


Benda perabotan yang sangat jauh dari kata mewah terlihat sangat antic dan elegan. Benar benar desain interior yang luar biasa.


Beberapa lukisan dan vas ditata sangat rapi tanpa adanya cela. Bunga-bunga dan tanaman dalam pot juga sangat segar dan subur.


Mereka menunggu sejenak hingga mendapat mendengar suara peringatan dari seorang petugas.


“Kepala Benteng datang…”


“Kepala Akademi datang…”


Ya, mereka adalah Shen Mubai dan Fang Shi yang memasuki ruangan perjamuan dengan langkah segera untuk mengambil tempat duduknya.

__ADS_1


“Mohon dimaafkan membuat anda menunggu Tuan Lei Teng dan Puteranya Lei Yi.” Shen Mubai mengucapkan kata sambutan.


“Salam hormat kami kepada para tetua sekalian.” Lei Teng, Lei Yi dan pelayan tua memberi salam.


Dijawab dengan anggukan sederhana dari Fang Shi.


“Selamat datang dan selamat bergabung dengan kami.” Shen Mubai langsung pada pokok pembicaraannya.


Fang Shi menyerahkan sebuah kotak dan membukanya untuk Lei Teng dan Lei Yi. Mereka berdua melihat dua buah lencana dari logam hitam legam dengan tonjolan batu giok berwarna keunguan.


“Selamat bergabung tuan alkemis…” Fang Shi memberi ucapan kegembiraan.


Lei Teng meraih lencananya, matanya sembab dengan jemarinya yang bergetar.


“Ayah… Kita bergabung dengan Benteng Tua Leluhur?” Lei Yi mengerutkan keningnya. Dia tak menyangka kunjungan dengan ayahnya untuk tujuan ini.


Lei Teng memandang Lei Yi dan menepuk pundaknya.


“Ayah….” Lei Yi merasakan emosi.


Seorang yang dibuang dan tidak diakui oleh klannya. Ayahnya berjuang hingga saat ini untuk mendapatkan kembali pengakuan atas dirinya.


“Terima kasih banyak kami sampaikan untuk Tuan Kepala, Tuan Akademi seta Tuan Penguasa Benteng Tua Leluhur.” Lei Teng memberikan penghormatan.


Baik Shen Mubai dan Fang Shi menerima ucapan dengan memberi salam hormat kembali.


Bagaimana pun juga Lei Teng adalah kepala alkemis Benteng Tua Leluhur yang ditunjuk langsung oleh sang penguasa. Mereka harus memberi hormat yang sepantasnya bagi profesi terhormat yang disandang Lei Teng.


“Silahkan kalian semua beristirahat di kamar yang telah disiapkan, besok pagi kita menuju area suci untuk menemui Tuan Penguasa.”


“Termasuk anda, pelayan tua…” Fang Shi memandang pelayan tua dengan tatapan kebanggan.

__ADS_1


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Pelayan tua gemetar seluruh badannya. Bertemu langsung dengan sang penguasa sejati Benteng Tua Leluhur.


Apakah ini mimpi?


Dia mencubit kulit pahanya sendiri berkali-kali…


Ini bukan mimpi…


Ini bukan mimpi…


Matanya sembab dengan kata-kata yang tak bisa keluarkan dari tenggorokannya. Dia memandang dengan tatapan tak percaya pada guru utamanya, sang Kepala Akademi Fang Shi.


Mereka bertiga berjalan menuju kediaman akomodasi yang disiapkan.


“Apakah kamu belum pernah melihat sang penguasa?” Lei Yi bertanya pada pelayan tua.


“Belum, yang melihat Tuan Penguasa hanya para eselon tinggi saja. Bahkan tak satu pun murid pernah bertemu dengannya secara langsung.” Pelayan tua sangat bersemangat.


“Melihat benteng yang seperti ini tampaknya sang penguasa adalah orang yang berbadan besar, berotot tebal, sangat garang dan terlihat sangat menakutkan juga.” Lei Yi menduga-duga.


“Aku juga berfikir beliau adalah ksatria dengan penampilan sang sangat sempurna dan saleh.” Pelayan tua terbawa arus percakapan Lei Yi.


Lei Teng “ … ? ? ? …”


“Ayah, kamu baik baik saja?” Lei Yi mengerutkan keningnya.


“Bah, Lupakan apa yang kalian katakan”. Lei Teng menyahut.


Lei Yi “ … ? ? ? …”

__ADS_1


Pelayan tua “ … ? ? ? …”


__ADS_2