Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Suvenir


__ADS_3

Mumi Chen Dewei dan Shen Mubai shock keras.


Kedua orang ini membeku nol derajat dengan mulut mereka terbuka lebar. Mereka tak tahu harus bagaimana dan berbuat apa menyaksikan kepala sekte termasyur menggila seperti ini.


Lo Hua tidak bisa memulihkan ketenangannya sama sekali. Bahkan beberapa kali akan pingsan, namun dia menjaga seluruh kesadaran dengan seluruh puncak kekuatan kultivasinya.


Pakaiannya kini basah oleh keringat. Jarinya menunjuk-nunjuk pada sebuah cincin hitam polos dengan motif kulit ular di atas meja. Dia juga hendak berbicara namun pita suaranya tak mau bergetar. Dia berada di ambang kegilaan saat ini.


Mao Yu berdiri dari kursinya. Menatap kegilaan yang sedang ngesot di lantai.


"Lo Hua..." Mao Yu berbicara dalam bahasa jiwa ke dalam diri Lo Hua.


Mendengar panggilan Mao Yu Lo Hua tertegun, dia perlahan menjadi tenang dan mulai dapat menguasai kewarasannya lagi.


"Bertindaklah ceroboh, atau kamu berada di peti mati dan kucabut seluruh sektemu hingga ke akarnya." Mao Yu mengatakan sebuah ancaman ke dalam jiwa Lo Hua.


Lo Hua bergidik dan membeku diam tak bergerak sesaat, di saat yang sama sepasang mata mungil menguncinya dari pepohonan di luar aula.


Mata mungil ini memberikan peringatan padanya dengan menunjukkan sedikit energi dari ranah kultivasi yang dimiliki padanya. Sungguh level yang gila-gilaan. Ranah yang tak terbayangkan bagi siapa pun.


Apa level yang lebih tinggi di atas sebuah kata ketakutan? Hal inilah yang sedang dialami Lo Hua.


Dalam gambaran Lo Hua mata kecil di balik pepohonan itu menjadi sepasang matahari besar. Panasnya memanggang Lo Hua hingga garing dan mengubahnya menjadi debu dalam sekejap. Tak hanya itu dia melihat Paviliun Shen terbakar.


Api meluas hingga seluruh kota kekaisaran. Kemudian merambah dengan cepat ke seluruh benua. Tak cukup di situ saja, api dengan cepat menyebar ke seluruh wilayah hingga membungkus bumi. Menghanguskan seluruh daratan dan menguapkan seluruh lautan.


Api masih tak puas menelan darat dan laut. Kini api membakar bumi hingga seluruhnya menjadi abu. Menjadi ketiadaan.


Lo Hua tak kuat melihat pemandangan ini. Nafasnya tersengal-sengal. Sungguh pencapaian yang selama ini dia banggakan ini berarti apa pun di hadapan makhluk ini.


Dia hanyalah seekor amuba di tengah samudra. Tak ada artinya sama sekali.

__ADS_1


"Cukup..." Satu kata dari Mao Yu membubarkan situasi tegang ini.


Tekanan besar yang dialami Lo Hua menghilang dalam sekejap. Berangsur-angsur dalam kurun waktu yang lama dia dapat mengendalikan dirinya sendiri. Dia langsung mengambil sikap lotus hingga berusaha mengambil ketenangannya kembali.


Lo Hua kemudian dia berdiri, namun dia masih terus gemetar jika diperhatikan dengan mata jeli. Dia merapikan rambut dan pakaiannya. Lalu kembali ke kursi mengambil tempat duduknya kembali.


"Mohon tuan rumah maafkan aku yang tidak santun dan sangat memalukan ini." Lo Hua menangkupkan tangannya yang masih gemetar.


Mao Yu mengangguk, sementara duo Shen Mubai dan Mumi Chen Dewei masih nol derajat. Belum mencair dari kebekuannya.


"Chen Dewei, lain kali perhatikan langkahmu. Ubin itu sangat licin..." Lo Hua berkata.


Shen Mubai dan Mumi Chen Dewei " ... "


"Tuan Mao Yu, Tuan Shen Mubai. Aku sekali lagi mohon maaf mengganggu kalian semua. Aku sangat malu dan tak pantas berlama-lama di sini. Aku pamit undur diri dulu." Lo Hua mengatakan dengan sopan.


"Guru, Bawa aku.. " Mumi Chen Dewei menyahut.


Mumi Chen Dewei " ... "


"Tapi Guru.... " Mumi Chen Dewei tak mau menyerah.


"Jadilah anak yang baik, Berkah seribu kehidupan kamu dapat tinggal di kediaman Tuan Mao Yu. Ini adalah kesempatan yang tidak datang dalam seratus kali reinkarnasi." Lo Hua melanjutkan ceramah kepada muridnya.


Mumi Chen Dewei tak mengerti apa yang terjadi dengan gurunya ini. Berkali-kali dia memutar otaknya tapi selalu buntu. Tak menemukan jawaban sama sekali.


Akhirnya Mumi Chen Dewei menyerah dengan usahanya. Dia memutuskan mematuhi gurunya untuk tetap tinggal di sini. Dia tidak berani untuk tidak hormat dan melawan perintah guru yang membesarkannya.


Kemudian salam undur diri dilakukan Lo Hua satu kali lagi. Dia langsung mengambil langkah menuju pintu aula.


"Tuan Kepala Sekte, kamu melupakan barangmu. Bukankah seorang tuan rumah yang baik harus memberikan suvenir kepada tamunya sebagai oleh-oleh ?" Mao Yu menahan langkah Lo Hua.

__ADS_1


Lo Hua berhenti melangkah dan kemudian berbalik badan menghadap trio.


"Kita ini hidup bertetangga dalam satu lingkup benua, bukankah sesama tetangga kita harus rukun ?" Mao Yu tersenyum dan melemparkan sebuah cincin hitam pada Lo Hua.


Lo Hua menangkap dengan kedua tangannya, kemudian dia jatuh pingsan.


"Guru... " Mumi Chen Dewei berteriak.


***


Lo Hua terbangun dari pingsannya.


Dia terbaring di sebuah ranjang empuk dengan pencahayaan redup. Berada dalam kamar mewah dengan dekorasi super menawan. Persepsinya mengatakan bahwa dia sekarang berada di dalam sebuah kamar hotel mewah di pusat Kota Kekaisaran.


Lo Hua mendesah panjang dengan nafas yang lega. Hari ini dia mengalami kejadian paling berat dalam hidupnya. Dia sangat tidak berdaya, merasa hidup dan matinya saat itu hanya ditentukan oleh satu kata dari seseorang.


Pengalaman ini tidak akan bisa dilupakan seumur hidupnya.


"Pasti mereka membawaku ke sini, mungkin untuk menjaga perasaan atau menjaga martabatku... " Dia tertawa sendiri menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dia berusaha mengingat-ingat dengan sekuat tenaga kejadian yang dia alami baru-baru ini. Dia berusaha memutar-mutar ingatan mulai dari meninggalkan sekte. Hingga kejadian terakhir sebelum dia pingsan di aula Paviliun Shen.


"Oh, Aku ini sungguh pria yang bodoh." Dia tersenyum kecut.


Dia mengangkat kedua tangan dan melihat jemarinya. Jari manis tangan kirinya terdapat cincin berwarna kehijauan miliknya pribadi. Sedangkan di jari manis kanannya terpasang sebuah cincin hitam bermotif kulit ular.


Dia dengan sedikit ragu dan rasa takut mencoba mengintip isi di dalam cincin. Dia masih tak percaya apakah kejadian di aula kala itu hanyalah mimpi.


Secarik kertas berisi tulisan dan sebuah batu berwarna hitam melayang-layang di sana. Tekanan energi dari batu tak bisa dia ukur dan bayangkan betapa besarnya. Dia sekali lagi ketakutan dan segera menarik persepsinya dari dalam cincin. Dia memejamkan mata sekuat tenaga.


"Oh, Sungguh aku ini sungguh pria yang naif." Lagi-lagi dia tersenyum kecut.

__ADS_1


Karena pengalaman ini sangat menguras tenaga. Akhirnya dia menyerah pada tubuhnya. Dia terlelap.


__ADS_2