
Mao Yu merencanakan segera mengunjungi situs reruntuhan sesuai yang dikabarkan oleh Wang Xuemin. Dalam pikirannya dia harus segera berangkat atau nanti akan terlambat.
Kalau aku mengajak Shen Mubai atau Mo Tian, mereka berdua masih disibukkan dengan manajemen dan tata kelola kota.
Kalau Jing Jun, Li Hua atau Fang Yi. Mereka bertiga memiliki tugas menjaga mansion.
Andaikata Shen Yangxuan, dia belum saatnya keluar dari pengasingannya di pertambangan.
Solusi terakhir adalah Chen Dewei dan Lin Fan. Mao Yu akan memilih diantara dua kandidat ini.
Setelah cukup lama berfikir akhirnya Mao Yu memtuskan.
***
Di bawah pohon willow, Lin Fan duduk dengan wajah ceria dan antusias.
Mao Yu menjelaskan soal kunjungan ke dunia ketiga yang akan dilakukan bersamanya.
Segala pengaturan dan delegasi atas semua tugas Lin Fan telas selesai dilaksanakan. Sekarang tinggal menanti waktu keberangkatan.
Portal ruang dibuat oleh Kong Kecil, mereka bertiga segera melompat kedalamnya dan menuju ke dunia ketiga.
Sesuai dengan lokasi koordinat yang ditunjukkan Wang Xuemin. Mereka bertiga tiba di sebuah area yang tidak jauh dari lokasi ditemukannya situs.
Trio berjalan menyusuri jalan setapak dan tiba di sebuah desa kecil.
Desa kecil sangat ramai dengan para pengunjung. Hal ini dimungkinkan karena berita ditemukannya situs reruntuhan telah beredar secara luas.
Mao Yu mengambil tempat duduk di bawah pohon perbatasan desa.
"Lin Fan, coba kamu masuk ke dalam dan cari beberapa informasi !" Mao Yu memberikan perintah.
"Baik." Lin Fan segera mematuhinya.
Sambil menunggu kembalinya Lin Fan, Mao Yu dan Kong Kecil berdiskusi.
"Seberapa yakin aku menemukan item yang cocok untukku di dalam reruntuhan ?" Mao Yu bertanya.
"Untuk ukuran Dunia Kabut Awan hampir tidak mungkin. Kecuali reruntuhan itu berkaitan dengan ahli yang berasal dari luar dunia ini."
"Jika itu adalah makam atau peningggalan seorang leluhur kultivator jiwa dari dunia lain, itu menjadi mungkin." Kong Kecil menjawab.
"Semoga saja begitu. Lagipula jika aku bertualang di dunia keenam ke atas, sangat membahayakan diriku sendiri. Aku belum cukup mampu menghandel kekuatan para ahli di sana." Mao Yu lebih bersantai lagi menyandarkan tubuhnya di bawah pohon.
Dari kejauhan tampak Lin Fan berlari menuju Mao Yu dalam keadaan panik. Di belakangnya diikuti tiga pemuda yang mengejarnya.
Lin Fan segera mempercepat kakinya untuk segera mendekat dan berlindung pada Mao Yu.
"Aku dijahili..." Lin Fan tersengal-sengal.
__ADS_1
"Hmm..." Mao Yu memiringkan kepalanya.
Tiga pemuda yang mengejar Lin Fan berhenti tak jauh di bawah pohon di mana Mao Yu bersantai.
"Tinggalkan cincin tata ruang kalian, maka aku akan membiarkan kalian pergi tanpa luka." Salah satu dari tiga pemuda memberikan ancaman.
"Kalian menginginkan cincin penyimpanan ?" Mao Yu mempertegas.
Para perampok muda menganggukkan kepalanya.
"Lin Fan berikan cincinmu pada mereka." Mao Yu berkata dengan malas.
Lin Fan memelototi tuannya dan memegang jari dengan erat di mana terpasang cincin penyimpanannya. Dia berdemo pada tuannya menyatakan ketidaksetujuannya.
Di dalamnya banyak barang-barang berharga miliknya. Dia tentu enggan untuk menyerahkan pada perampok.
Melihat Lin Fan diam saja, Mao Yu pun turut diam tak bersuara.
"Jangan bengong saja, kalian berdua cepat serahkan. Jangan salahkan kalau kami menggunakan cara kekerasan." Pemimpin pemuda rampok berseru.
"Kalian berani merampok orang di siang bolong, berarti kalian siap dilawan. Dan juga siap mati juga kah?" Mao Yu berkata.
Sesaat pemuda rampok termenung dalam keragu-raguan.
Menunjukkan bahwa mereka saat ini adalah seorang rampok amatir. Barangkali saja mereka melakukannya hanya untuk iseng atau main-main.
"Jujur aku malas sekali meladeni kalian. Pergi sana !" Mao Yu mengusir.
Tiga pemuda rampok menjadi sangat marah sekarang. Mereka bersiap hendak melakukan tindakan untuk menyerang Mao Yu dan Lin Fan. Namun salah seorang temannya menahan.
"Tunggu... "
"Tahan, Aku baru mendapat pesan dari pemimpin. Kita diminta kembali ke camp dengan segera"
"Array pintu masuk reruntuhan sebentar lagi akan terbuka." Salah satu anggota rampok menyampaikan pesan dari token komunikasi.
Sejenak mereka bersikap waspada dan mengangguk. Merespon dengan cepat untuk segera memenuhi panggilan.
"Kalian beruntung. Jika aku bertemu kalian lagi. Kalian sudah pasti akan tamat."
Pemimpin rampok kemudian membuat isyarat tangan kepada kedua rekannya untuk mundur dan segera kembali ke camp.
Mao Yu menatap Lin Fan dengan tatapan tajam.
"Ceritakan informasi yang kamu dapat ?"
"Hehehe..." Lin Fan terkekeh-kekeh.
Mao Yu menatap tak berkedip.
__ADS_1
"Aku tak mendapat info sama sekali. Sebelum aku sampai di gerbang desa, aku dirampok." Lin Fan mengangkat kedua bahunya.
Mao Yu "..."
Mao Yu mengeluh. Anak ini benar benar tak dapat diandalkan.
Ah, Tapi sudahlah.
Mao Yu berdiri dan memimpin rombongan kecilnya menuju area camp.
Mereka berjalan dengan santai. Mereka mulai menemukan tenda tenda kecil. Ini adalah tenda milik kekuatan-kekuatan kecil.
Mereka tidak punya hak bersaing dengan kekuatan besar. Mereka cukup menjadi pengamat atau jika ada kesempatan terbuka mereka dapat berpartisipasi.
Inilah nasib kekuatan kecil. Namun tidak mengurangi minat dan semangat mereka untuk berjuang.
Mereka memiliki keyakinan suatu saat pasti perjuangan tak akan mengkhianati hasil.
Tapi tak ada satu pun yang tahu. Memang benar di masa depan sekte mereka menjadi yang tersohor. Atau menghilang tanpa bekas sama sekali.
Lebih dalam rombongan Mao Yu berjalan. Tenda masuk ke penglihatan mereka makin besar dan lebih menawan aneka bentuknya.
Kekuatan menengah mulai terkonsentrasi di area ini.
Sesuai petunjuk Wang Xuemin. Tenda Klan Wang harusnya berada di titik terdalam area kekutan menengah.
Mungkin beberapa langkah lagi di depan.
"Ah, Kalian rombongan kecil berjalan anak muda nol kultivasi. Kalian pelayan dari kekuatan mana, Hah?" Seorang murid sekte mencemooh.
"Bahkan mereka bisa kemari. Biarkan mereka melihat kebesaran dan kekuatan-kekuatan utama di dunia ketiga."
"Mereka pasti akan takjub hingga meneteskan air liur. Warga desa hanya melihat cangkul dan sawah." Seorang gadis penerus klan menghina.
"Aku jamin mereka akan terkencing-kencing di celana ketika pecah pertempuran. Mereka akan lebih dulu menjadi tumbal. Hahaha..." Pemuda berotot memandang rombongan kecil Mao Yu ibarat sampah.
Mao Yu berjalan tanpa menghiraukan celoteh demi celoteh yang dilontarkan kepadanya. Sedangkan Lin Fan berjalan dengan tampak ceria.
Keduanya punya ilmu bodo amat yang sudah mencapai level surgawi.
Namun Mao Yu menghentikan langkahnya saat seorang murid sekte melemparnya dengan sebuah batu.
Lemparan tidak keras. Namun jika Mao Yu benar-benar manusia tanpa kultivasi, sudah pasti mendapat cedera serius.
Lemparan batu datang bertubi-tubi. Mao Yu masih bisa menahan dengan kultivasi jiwanya.
Namun tidak dengan Lin Fan. Kepalanya terkena batu yang memiliki sisi runcing.
Membuat pelipis kirinya berdarah.
__ADS_1