Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Zen Li


__ADS_3

Tahun demi tahun terus berjalan.


Entah berapa lama telah tak terduga.


Seorang pemuda yang tak bertambah usia duduk di sebuah pohon rindang. Dia ditemani seekor monyet yang mendengkur di sisinya.


Beberapa lembar kertas berisi salinan sebuah cerita ada genggamannya. Sebuah cerita yang sepertinya tak pernah bosan dia baca.


Tentang pertempuran epic di masa lampau.


Mao Yu selama kurun waktu melakukan kultivasi tertutup dan mengembara ke segala tempat. Dia bermaksud menemukan nenek yang merawatnya yang menghilang saat dia masih kecil.


Tidak ada petunjuk sama sekali. Hanya jalan buta yang dia telusuri. Bahkan nama neneknya dia juga tidak memperhatikan dengan seksama kala itu.


Namun para tua di pemondokan acapkali memanggilnya nenek kapas. Mao Yu bahkan tidak tahu mulai dari mana dan menuju ke mana memulai pencariannya. Dia hanya menghela nafas pada akhirnya.


Kembali pada beberapa lembar kertas cerita yang dia dapatkan di pelelangan dengan Klan Wang kala itu. Mao Yu membaca sepenggal cerita tentang penyergapan di Kastil Black Rock.


Cerita yang sangat sentimentil, umat manusia melakukan penipuan besar-besaran namun terselubung. Bangsa Yao dikalahkan dengan cara yang sangat kotor.


Yah begitulah perang. Strategi apa pun akan dilakukan untuk melawan musuh yang sangat biadap.


Menurut petunjuk dari cerita tidak spesifik di mana benteng tersebut berada. Dari kemiripan gambaran alam dan kontur, ini seperti terletak di dunia keenam. Persis di mana Mao Yu sekarang ini berada.


Hari telah siang, waktu istirahat terbaik di tengah teriknya musim panas.


Mao Yu mencium bau harum daging yang sangat menyengat hidungnya. Cara memasak yang baik pikirnya.


Matanya menangkap tak jauh dari tempatnya bersantai. Di samping sungai kecil, seorang pemuda berpakaian lusuh sedang asik memanggang buruannya.


Mao Yu pun mendatanginya.


“Yoo, kawan...” Mao Yu menyapa.

__ADS_1


Pemuda menolehkan pandangan. Menatap remaja yang tampak seusianya, dia membalas dengan tersenyum.


“Jam makan siang tiba, ayo makan sama-sama...” Dia sangat welcome.


Jarang pengelana memiliki sikap peduli. Di luar baik penipu atau orang dengan pikiran jahat jauh lebih banyak berkeliaran.


Sikap sangat terbuka pemuda ini menunjukkan bahwa inilah pengalaman pertama dia menginjakkan kakinya untuk berpetualang.


“Aku Mao Yu, senang rasanya bisa gabung makan.”


“Tak perlu sopan dan sungkan, kita sesama pengelana baiknya saling membantu. Namaku Zen Li” Dia memperkenalkan dirinya.


Kelinci panggang telah dihidangkan, Zen Li membaginya dua sama besar. Dia juga sangat memperhatikan monyet kecil bersama kenalannya. Bagian kepala dia berikan kepadanya.


“Kurasa kamu telah berjalan sangat jauh ?” Mao Yu bertanya sambil mengunyah bagiannya.


“Iya, aku datang dari pelosok terpencil di kaki gunung seribu dupa.” Zen Li menjawab.


“Begitu jauh dari sini. Aku menghabiskan waktu berjalan sekitar 8 bulan.” Tambahnya.


“Jujur kamu adalah satu-satunya orang selama ini yang kutemui di perjalanan. Ha ha ha...”


“Aku tinggal di belantara, aku mengenal hutan dan perilaku hewan buas di sana, meskipun aku tak mampu mengatasi, aku mampu menghindar, bersembunyi dan berjalan di waktu yang tepat.”


“Yah, memang harus bergerilya.” Zen Li berkelakar.


“Aku ingin mendaftar di sebuah sekte, Sekte Singa Perak. Harusnya aku tidak terlambat dalam perekrutannya. Oya, apa kamu juga tak ingin bergabung ?”


“Sepertinya bagus, oya kenapa kamu memilih sekte itu ?” Mao Yu penasaran.


“Dahulu ada salah seorang warga desa kami yang bergabung di sana, kupikir itu sangat keren dan aku harus mengikuti jejaknya.” Zen Li berkata dengan mantap.


“Oh, begitu...” Mao Yu mengunyah daging panggangnya yang tersisa.

__ADS_1


Saat matahari condong menuju tenggelam. Kedua pemuda berjalan menuju sebuah sekte  yang tampak sudah sangat dekat.


Dari punggung bukit terdekat akhirnya mereka melihat sebuah kompleks sederhana dengan bangunan sederhana berjajar rapi. Kira-kira seukuran Mansion Shen yang belum dikembangkan kala itu.


Sekte itu berada di samping sebuah danau yang sangat besar. Saat senja seperti ini permukaan danau memantulkan cahaya keperakan.


Konon roh penjaga danau berwujud seekor singa. Sehingga sekte meletakkan fondasinya berdasarkan kekudusan sang singa yang menjaga danau perak.


“Inilah Sekte Singa Perak.” Zen Li sangat puas akhirnya dia tiba pada tujuannya.


“Tampak menarik, ini seperti hidden gems. Aku menjadi penasaran semaju apa sekte ini.” Mao Yu memusatkan perhatiannya pada danau.


Mereka tiba di sebuah gerbang.


Disambut oleh seorang paruh baya dengan penampilan energik.


“Selamat datang anak muda, bergabung dengan kami ?”


“Tentu.” Zen Li menanggapi dengan sangat gembira.


Mao Yu dan Zen Li memasuki bangunan sekte dipimpin paruh baya. Mereka dipersilahkan ke ruangan administrasi untuk mengisi formulir.


Mao Yu meluaskan inderanya. Dia menangkap hanya ada seorang paruh baya ini saja. Sungguh aneh, apakah sebobrok ini sekte hanya ada seorang tunggal.


“Aku Tang Shang, Kepala Sekte Singa Perak.” Paruh baya memperkenalkan diri. Zen Li dan Mao Yu memberikan salam hormat.


“Tuan kepala, nampak sangat sepi di sini ?” Mao Yu mengernyitkan alisnya.


“Benar, semua murid kami ditarik oleh sekte di atas kami untuk mempertahankan posisi, mereka sedang berperang.” Tang Shang menghela nafas.


“Cukup lama mereka nampaknya pergi.” Mao Yu menggumam. Dia melihat tingkat ketidakterawatan bangunan.


“Sangat lama...” Tang Shang menjawab dengan nada yang sedih.

__ADS_1


“Oke, anak muda. Hmmm, Mao Yu dan Zen Li silahkan ambil akomodasi kalian di bangsal tepi danau. Kalian beristirahat dan menyiapkan diri. Mulai besok paman akan melatih kalian.” Tang Shang bersemangat dengan kehadiran murid baru. Matanya bersinar.


“Siap...” Zen Li menjawab dengan antusias. Cahaya matanya pun tak kalah juga.


__ADS_2