Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Melempar


__ADS_3

Para pelayan menyaksikan Jing Jun berlatih pedang dari subuh hingga matahari telah terbit. Dia tetap mengayunkan pedang tanpa kenal lelah.


Jing Jun dalam hati memutuskan dengan suara bulat bahwa dia harus bekerja keras. Dia telah mendapatkan perawatan yang baik dari tuannya.


Sebagai ganti dia harus membuat prestasi untuk menunjukkan bahwa dia kelak dapat diandalkan oleh tuannya.


Para pekerja taman pagi ini turut semangat saat melihat Jing Jun berlatih. Mereka segera menuju area kerja dengan membawa sepikul peralatan.


Pagi ini mereka penuh dengan keheranan melihat tanah sepenuhnya telah lembab dan basah. Padahal semalam tidak turun hujan. Ini kan masih musim kemarau.


Ah, mereka terkejut lagi. Bunga-bunga dan tanaman hias terlihat berbeda dibandingkan kemarin.


Bunga masih ditanam beberapa hari yang lalu. Mestinya mereka butuh adaptasi untuk tumbuh. Pagi ini mereka melihat semuanya telah subur.


Daunnya sudah pada menebal dengan warna yang tajam. Batang-batangnya kokoh penuh dengan air. Bunga-bunga semakin berwarna indah memikat.


Para kalkun juga tampak tenang, biasanya pagi-pagi mereka sudah disibukkan mengusir dan menghalau kalkun yang menyerbu taman ingin mematuki berbagai tanaman hias.


Pagi ini mereka melihat kalkun hanya mematuk rumput biasa sesekali dan tampaknya terlihat cukup puas. Mereka tidak heboh lagi seperti biasanya menyerbu dan merusak tanaman.


Beberapa pengurus kebun menyaksikan seluruh pohon telah berbunga. Mereka heran ini kan bukan musimnya. Pohon apel, persik, plum, pir, kiwi, anggur dan lain-lain. Semua pohon buah berbunga dengan lebat.


"Pagi yang segar seperti udara dari puncak pegunungan es." Mao Yu berdeham di belakang Jing Jun.


"Selamat pagi tuan." Jing Jun menyapa.


Mao Yu melihat buku tipis dengab kondisi sangat lusuh di dekat Jing Jun berlatih. Dia mengamati pada sampul buku tertulis Dasar-Dasar Pedang. Mao Yu tersenyum.


"Oh itu, Aku membelinya di pasar barang bekas. Hanya buku ini yang bisa kubeli saat itu. Mungkin habis ini aku akan membeli buku dengan teknik pedang yang bagus."


"Tuan, Aku melihat dia memiliki kemauan yang kuat. Di perbendaharaanku terdapat ribuan teknik pedang tingkat surgawi. Aku bisa memilihkan beberapa yang cocok untuknya." Kong Kecil berbicara dengan jiwa.


Mao Yu merespon Kong Kecil dengan menggeleng gelengkan kepalanya.


"Jing Jun kamu tidak perlu membeli buku baru. Gunakan itu saja." Mao Yu berkata.


Mao Yu mengeluarkan sebuah pedang biasa dari penyimpanannya. Dengan sedikit peregangan tubuh dia memainkan pedang dengan beberapa gerakan. Jing Jun antusias memperhatikan.


Oh, sungguh cara berpedang yang buruk. Kong Kecil mengomentari tuannya.


"Lihatlah, Pedang digunakan untuk menangkis, menebas, menggores, mengiris dan menusuk. Buku itu mengatakan demikian kan? Buku-buku mahal pun paling juga membahas gerakan yang sama. Apa bedanya ? Sederhana kan ?" Mao Yu berceramah.


Sederhana mbiahmu, Gak semudah itu boss. Kong Kecil hanya membatin.

__ADS_1


Jing Jun memperhatikan dan mengangguk angguk dengan penuh semangat. Seolah-olah perkataan Mao Yu adalah pengajaran Sang Guru Agung.


"Tapi saat menggunakan pedang, pikiranmu jangan mengembara ke mana-mana. Gerakkan pedang selaras dengan hati dan kemauanmu." Mao Yu memperagakan tusukan di depan Jing Jun.


Oh, gerakan tusukan yang sangat parah. Namun perkataan tuan adalah benar, dia berbicara tentang niat pedang. Kong Kecil masih membatin.


"Oke, Lanjutkan latihanmu." Mao Yu tampak ceria.


Jing Jun mengambil pedang hendak kembali memulai sesi latihannya.


"Oya Jing Jun ada satu gerakan pedang lagi yang aku lupa belum kusampaikan." Mao Yu tiba-tiba teringat.


"Apa itu tuan ?" Jing Jun dan Kong Kecil turut penasaran.


Mao Yu meregangkan kakinya sedikit lebar dengan kuda-kuda sochin. Pedang dia angkat tinggi lurus ke langit.


Dia dalam posisi yang sangat anggun dan menawan.


Kong Kecil segera menghubungkan awalan gerakan tuannya dengan ribuan perbendaharaan teknik pedang yang dia simpan.


Tuan sedang melakukan salah satu langkah pedang celestial. Langkah Pedang Meteor.


Whoosss...


Peletukk... Pedang membentur pohon kemudian jatuh ke tanah.


"Sial harusnya pedangku menancap." Mao Yu mengerutkan dahinya.


Bai Kong " ... "


***


Dua hari sebelum pengusiran Klan Xin dari kediamannya.


Kantor utama Night Lily merilis kerugian usaha dagang. Dengan mendebitkan sebagai hutang yang harus dibayar oleh Klan Xin.


Dalam hal ini kantor utama mengambil langkah menyita seluruh aset dan properti yang dimiliki klan.


Namun setelah dipotong segala kekayaan Klan Xin yang tersisa saat ini. Masih belum cukup membuat angka hutang berkurang signifikan.


Ibarat air di dalam sumur, Klan Xin masih membayar setimba saja.


Klan Xin dinyatakan bangkrut. Mereka turun kelas menjadi tuna wisma dalam waktu dua hari.

__ADS_1


Hampir semua pekerja, pengawal dan beberapa ahli sudah dilepas. Beberapa menyatakan diri mundur. Kini mereka hanya memiliki sedikit sekali kekuatan.


Di kamar Xin An seorang pengawal sedang melapor. Semua orang yang dikirim putri ke mansion Mao Yu semuanya menghilang. Mereka tidak pernah kembali lagi.


Pengawal juga melaporkan pasukan tambahan yang menyusup ke sana juga menghilang. Total kehilangan sejumlah 60 orang.


Ini seperti menambah luka lagi pada klan. Setelah kehilangan banyak kekuatan karena finansial. Dalam semalam juga kehilangan pasukan dalam jumlah besar.


"Sigh... Bagaimana ini bisa terjadi ?" Xin An sangat marah.


Pengawal hanya diam menyaksikan putri sedang mengamuk. Dia merusak beberapa perabotan dengan histeris.


"Malam ini aku akan membawa paman untuk secara pribadi menghancurkan Mansion Tua Leluhur." Xin An berkata dengan geram.


***


Pada malam harinya.


Dua orang tamu mengunjungi Mansion Tua Leluhur, ketika dipersilahkan mereka menolak masuk dan kekeh tetap tinggal di halaman depan.


Seorang gadis dengan wajah penuh jerawat dan seorang pria kekar. Mereka adalah Xin An dan pamannya Xin Lan.


Jelas mereka ke sini tidak bertamu. Mereka ke sini membawa niat buruk untuk menghancurkan mansion.


Mao Yu, Kong Kecil dan Li Hua menemui mereka.


"Li Hua, keluarkan salep. Puri Xin An kemari untuk meminta dosis tambahan. Putri wajahmu telah membaik bukan ?" Mao Yu tanpa basa basi bicara.


"Diam. Bicara sesukamu karena ini malam terakhir kalian hidup. Juga beri penjelasan tentang hilangnya 60 pengawal keluargaku?" Xin An membentak keras.


"Bukankah sudah rahasia umum kalau kalian sedang bangkrut. Tentu saja mereka kabur karena kalian sudah tak sanggup menggaji." Mao Yu menjawab lantang.


Duo Xin geram dengan ucapan pedas pemuda lancang di depan mereka. Seketika Xin Lan memompa kekuatan penuhnya di ranah langit pertama. Dia mengeluarkan aura panas membara dengan tatapan mengancam.


Xin Lan menganggap orang-orang di depannya adalah orang yang sudah mati. Dengan satu gerakan dia sanggup mengubah tubuh-tubuh berdaging di depannya menjadi abu.


Melihat pamannya telah murka dan hendak mengambi langkah. Xin An bernafas dengan cepat. Dia tidak sabar menyaksikan pemusnahan Mansion Tua Leluhur.


***


Kuda kuda Sochin adalah salah satu posisi kuda-kuda pada karate. Posisikan kedua kaki selebar bahu.


Dengan lutut ditekuk dan tegangan kaki mengarah keluar, berikan sedikit berat di kaki bagian depan. (Hirokazu Kanazawa)

__ADS_1


__ADS_2