Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Sebuah Kerikil Setetes Embun Dan Seuntai Rumput


__ADS_3

CLANKKK….


CLANKKK….


CLANKKK….


Tumbukan antar pedang terdengar bertubi tubi.


Baik pemuda tampan, Chen Dewei dan Jing Jun sama gesitnya seperti macan tutul. Gerakan mereka sangat efisien dalam menyerang, bertahan atau menghindar.


Pedang besar di tangan pemuda tampan menebas nebas dengan leluasa seperti mengabaikan berat sesungguhnya pedang tersebut.


Chen Dewei dan Jing Jun cenderung menepis dan menghindari tebasan kuat pemuda tampan. Sangat logis, momentum pedang besar sangat kuat jika dicounter secara langsung.


Meskipun begitu Chen Dewei dan Jing Jun masih merasakan gagang pedang mereka bergetar dan memberikan sensasi kesemutan hingga pangkal lengan mereka.


Serangan yang sama-sama agresif.


Baik tetua dan murid Sekte Pedang Bumi sesaat mereka melupakan konfrontasi dengan Benteng Tua Leluhur yang kini mereka hadapi.


Demikian juga dengan para pengamat, mereka juga telah melupakan pertempuran patriark Sekte Pedang Bumi dengan tiga Tetua Ni.


Pertempuran antara tiga pemuda ini sangat menarik, bahkan jauh lebih menarik.


“Guru, mereka tidak menggunakan energi origin dan hukum jasa sama sekali. Ini murni pertarungan fisik.” Seorang murid pengamat bertanya.


“Aku rasa mereka ingin menjajaki satu sama lain.” Guru menjawab dengan nada bijaksana


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Seorang tetua pengamat berseru.

__ADS_1


“Amati dengan kondisi zen…!!!” Tetua pengamat tersebut memerintahkan kepada muridnya.


Seketika banyak murid di sekitarnya langsung mengambil tempat duduk nyaman sesuai perintah tetua. Mereka memasuki mode zen, mengalirkan hukum kultivasi dan mengamati pertarungan heboh di depn mata mereka.


Di samping itu hampir semua pengamat mengikuti saran dari tetua. Mereka menyaksikan pertarungan dalam mode zen.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Pengamat meneteskan bulir bulir keringat dari pelipis sebesar biji jagung. Mata mereka membelalak.


Mereka pada mulanya melihat sebuah kerikil, setetes embun dan seuntai rumput. Namun lama kelamaan semua pemandangan berubah.


Sebuah kerikil tumbuh menjadi sebuah gunung besar yang dengan kokohnya berdiri menjulang hingga menembus awan.


Setetes embun tumbuh menjadi samudra luas yang dalam, mampu melahap dan menenggelamkan apa pun dalam gulungan ombaknya.


Sedangkan seuntai rumput tumbuh menjadi hutan bambu raksasa yang tiap ayunanya menciptakan badai ribut angin taifun.


Ini adalah Dao Pedang.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Menyaksikan pertempuran ini seperti melihat sendiri seorang dewa yang menyapukan kuasnya menciptakan alam itu sendiri.


Meskipun tiap murid menyerap dan mengintepretasikan secara berbeda sesuai kemampuan cerna dan kedalaman pemahaman. Menyaksikan ini adalah berkah yang sangat agung. Mereka mendapatkan keuntungan yang sangat besar. Mereka mendapatkan harta karun luar biasa melebihi nilai harta yang dijelajahi dalam reruntuhan.


Tetua Sekte Pedang Bumi mengepalkan tangan dan menunduk karena malu. Sebagai pakar pedang utama sekte mereka merasa seperti anak taman kanak kanak di depan seorang profesor yang menjelaskan rumus relativitas.

__ADS_1


Leluhur di balik persembunyian yang mengintai menghela nafas dalam-dalam. Secara kultivasi, anak anak muda ini masih jauh dibandingkan dengan mereka. Namun, dalam usia muda mereka telah meresapi dao pedang yang sangat kuat.


Mereka menerka bagaimana nanti di masa depan saat pemuda pemuda ini tumbuh menuju puncaknya.


Sesekali mereka kagum dan juga merasa takut akan Benteng Tua Leluhur.


Tetua Sekte Pedang Nirwana yang berdiri di atas pucuk menara merasakan yang demikian.


“Ren-er, Jangan terlalu gegabah dengan Benteng Tua Leluhur.” Dia menggumam lirih dengan nada kekhawatiran.


Namun ketiganya seperti melupakan di mana mereka berada dan juga melupakan orang orang di sekitarnya. Mereka tersenyum lebar dalam berbagai gerakan pedang, saling berteriak dan tertawa terbahak-bahak.


Entah berapa lama pertarungan ini berlangsung. Semuanya tenggelam dalam pertunjukan agung.


“Patriark Sekte Pedang Bumi telah diturunkan, Tetua Pertama Ni Guanlong mengambil alih posisi patriark mulai sekarang juga.” Nian berteriak lantang.


Pemuda tampan meloncat mundur ke belakang dengan tebasan terkuatnya. Sementara Chen Dewei dan Jing Jun mengambil jarak dan jeda aman pada posisinya.


“PATRIARK….” Para tetua dan murid berseru.


Sosok penuh dengan darah dan keringat kotor acak acakan berdiri di bangunan tinggi. Dia adalah patriark baru Sekte Pedang Bumi di belakangnya Ni Lokong dan Ni Feng yang juga tampak kacau dan acak acakan.


“Murid yang mendukungku ambil langkah mundur …” Ni Guanlong berteriak dengan suara parau dan dalam.


Seketika puluhan ribu murid, sepertiganya mengambil langkah ke belakang menuju barisan patriark baru mereka.


“Cih…” Tetua di pihak patriark lama merasakan kemarahan dan ketidaksetujuan. Mereka membiarkan murid yang bergabung dengan Ni Guanlong.


“Yang tetap tinggal di lapangan adalah pengkhianat. Hukumannya adalah MATI.” Ni Guanlong melanjutkan.


Tiga Gou menggeram hebat dilanjutkan dengan gonggongan yang membuat para tetua dan murid yang tinggal di halaman mendapatkan efek kejut dan kehilangan akal sehat mereka.


Tiga Gou meloncat menuju lautan murid di alun-alun utama.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..

__ADS_1


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


__ADS_2