
"Li Hua mari pulang." Mao Yu menepuk punggung Li Hua
Li Hua melompat kaget setengah mati. Tuan mudanya yang menghilang beberapa jam lalu tiba-tiba muncul lagi di sampingnya.
"Tuan muda, dari mana saja anda?" Li Hua penasaran ke mana tuan mudanya pergi.
"Hmm... Perutku mulas. Aku perlu ke toilet sebentar." Mao Yu menjawab dengan nada datar.
Demi setan apa pergi ke toilet. Di sini rutan rimba, jika sedang menyelenggarakan hajat tinggal pergi berlindung di balik semak saja sudah cukup. Pikir Li Hua.
Bayangan hitam melompat dari pohon ke pohon. Berkelabat menyatu dengan gelapnya hutan.
Mereka akhirnya bergegas meninggalkan hutan timur. Dalam perjalanan Li Hua menyampaikan beberapa informasi penting seputar camp.
Li Hua menginformasikan jumlah tentara penjaga dan jam pergantian penjagaan. Dia juga memaparkan hasil pengamatannya tentang titik-titik kumpul para penjaga.
Informasi yang disampaikan memang penting. Namun Mao Yu sudah memasuki pertambangan dan dia juga sudah keluar dengan kemenangan besar.
Bisa dikatakan informasi dari Li Hua sudah tak berarti lagi. Namun Mao Yu tetap menghargai upaya Li Hua dengan cara menjadi pendengar yang baik.
Sesampainya di Paviliun Shen. Waktu telah menunjukkan pagi hari.
"Kumpulkan semua pelayan di halaman belakang !" Mao Yu memberi intruksi kepada Li Hua.
Tak lama sebelum dupa terbakar habis sepenuhnya.
Di halaman belakang di bawah pihon yang rindang berjajar dengan rapi 4 orang pelayan Paviliun Shen membentuk sebuah barisan.
Mao Yu mendatangi mereka dengan langkah besar disusul dengan Shen Mubai dan Li Hua di belakang.
Mereka berdua saling bertanya-tanya dalam hati apa yang akan tuan mudanya ingin lakukan kali ini dengan para pelayan.
Keempat pelayan ini adalah satu keluarga. Terdiri dari pasangan suami istri dan dua anak. Mereka adalah keluarga Zhao.
Paman Zhao bertubuh tinggi dan kurus bertugas sebagai perawat bangunan dan kebersihan kebun.
Bibi Zhao bertugas di dapur dan kebersihan beberapa ruangan.
Putri mereka, yang biasa menjerit histeris ketika Li Hua pulang membawa buruannya bernama Zhao Yan berumur sama dengan Lin Feng, 15 tahun.
Dia bertugas menjaga kebersihan dan kerapian seluruh ruangan. Sedangkan yang bungsu Zhao Ren berumur 13 tahun bertugas merawat kuda.
__ADS_1
Mao Yu dan rombongan menghampiri dan berhenti di depan mereka berempat.
"Kalian naik jabatan menjadi pelayan tempur !" Mao Yu tiba-tiba membuat keputusan.
Shen Mubai dan Li Hua saling memandang dengan bergeleng-geleng kepala. Tuan mudanya berusaha membuat ulah apa lagi kali ini.
Keempat Zhao juga merespon dengan saling pandang. Tidak mengerti apa maksudnya. Namun si bungsu Zhao Ren yang masih lugu bertanya kepada Mao Yu.
"Tuan muda, dengan naik jabatan apakah gaji kita juga naik?" Zhao Ren berkata dengan nada lambat. Takut ada kata-kata yang salah ucap.
"Hmmm... Tentu saja." Mao Yu mengangguk. Dia menjawab dengan ekspresi seperti sedang berpikir keras.
Semangat Bibi Zhao dan Zhao Yan langsung melonjak. Fantasi mengembara ke toko kosmetik langganan mereka.
Ada lotion dan bedak di etalase paling tinggi yang hanya sanggup mereka impikan untuk dimiliki.
Dari sekilas cahaya mata, mereka sudah menemukan resolusi kenaikan gajinya untuk dibelikan apa. Keduanya dalam antusiasme yang membara.
Mao Yu mengeluarkan 4 senjata dari cincin penyimpanannya. Kemudian melemparkan kepada grup Zhao.
Bibi Zhao bertubuh gemuk dan sangat tambun mendapatkan sabit kematian.
Dalam imajinasi pemilik senjata sabit kematian adalah sosok dewa kematian berjubah hitam dengan perawakan langsing dan bergerak lincah.
Paman Zhao menerima kocokan ekor kuda. Dia kemudian mengibas-ibaskan ke kiri dan ke kanan penuh tanda tanya benda apa ini? Apa gunanya? Bagaimana mengaplikasikannya?
Zhao Yan menerima tombak. Seorang gadis yang feminim dengan sedikit pemalu. Seumur hidupmya dia hanya memegang sapu. Belum sekali pun pernah memegang senjata.
Kali ini dia memegang sebuah tombak di tangannya. Apa yang dapat dia dilakukan dengan tombak?
Sedangkan Zhao Ren menerima pedang besar dan tebal. Ukuran pedangnya sama dengan ukuran tubuhnya.
Bobot pedang sangat berat bagaimana adik kecil ini nanti menggunakannya, mengangkatnya saja tak mampu.
Zhao Ren berusaha menarik dan mengangkat pedang. Dia menggeram hingga wajahnya beruha menjadi merah. namun pedang tak bergerak sedikit pun.
Shen Mubai dan Li Hua menjatuhkan rahang mereka. Apa-apaan ini? Pagi pagi mereka sudah mendapatkan pertunjukan konyol.
Keluarga Zhou " ... ? ..."
Shen Mubai " ... "
__ADS_1
Li Hua " ... "
Saat seluruh peserta sedang bengong Mao Yu memecahkan suasana dengan membuka percakapan.
"Paman Mubai crew caravan akan tiba kapan?" Mao Yu bertanya.
"Perkiraan paling lambat 3 hari mereka akan tiba. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari ibukota pusat." Shen Mubai menjawab.
"Ketika datang sebaiknya paman tidak mengirimkan lagi mereka untuk misi perdagangan. Jadikan mereka tentara paviliun." Mao Yu memberikan saran.
Shen Mubai sempat terbersit bagaimana keuangan paviliun saat tidak ada kegiatan perdagangan.
Namun pikiran ini segera dibuang jauh-jauh. Dia percaya Mao Yu akan memberikan solusi.
Mao Yu berbalik kepada keempat Zhao. Dia mulai berkhotbah.
"Mulai sekarang hingga ke depan Paviluan Shen akan menghadapi tantangan besar. Kalian semua harus bisa membela diri dan mempertahankan keberadaan paviliun kita.:
"Saya mendengar tadi malam Paman Mubai memukuli beberapa orang yang mencoba menyusup dan maling. Saya yakin dalam beberapa hal ke depan akan ada pawai kriminal lagi ke rumah kita." Mao Yu berkhotbah.
Shen Mubai mengkonfirmasi dengan mengangguk. Memang benar semalam banyak penyusup yang dia usir dan pukuli.
Normalnya sejauh ini peviliun sangat aman. Entah kenapa dia juga merasa heran tiba-tiba tadi malam banyak sekali orang jahat berusaha menyusup ke dalam paviliun.
Dalam hati Li Hua mengatakan jelas tentu saja akan ada banyak kriminal datang. Sejak atraksi tuan mudanya berlagak kaya di Night Lily banyak mata mengunci target padanya.
Tentu hal ini akan mengundang minat kejahatan. Sejauh mereka menuju jalan pulang menuju paviliun.
Karnaval besar penguntit mengintai mereka hingga sampai di Paviliun Shen.
"Visi Paviliun Shen ke depan adalah kita menjadi sekte terkuat di seluruh dunia. Karena kalian adalah keluarga yang selama ini setia pada Paviliun Shen. "
"Maka Paviliun Shen tidak akan menyia-nyiakan kalian. Jika Paviliun Shen melambung ke surga, maka Keluarga Zhao harus menikmati kegemilangan yang sama." Mao Yu melanjutkan.
"Mulai hari ini kalian berempat resmi menjadi pelayan tempur. Paman Mubai akan melatih kalian semua." Mao Yu menyudahi pidato lantas meninggalkan kerumunan.
Di tengah halaman mereka berenam masih linglung. Semuanya tidak mengerti apa maksud tuan muda dan tak tahu harus berbuat apa.
Sedangkan Shen Mubai langsung merasakan tubuhnya tiba-tiba menjadi tua renta. Lemas seluruh sendi dan pergelangan kaki.
Dia tidak tahu harus mulai dari mana mengajari keempat Zhao di depannya ini.
__ADS_1