Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Aku Ibunya


__ADS_3

Kelima gadis yang tersisa kini tak berani lagi meremehkan bibi di depannya. Kini mereka sangat waspada dengan masing-masing tangan menghunus pedang.


Seorang gadis lain tak kalah jelita keluar dari dalam tenda.


"Kakak Mei, Perusuh ini mencoba mengacau kita." Salah satu gadis berkata.


"Siapa kamu dan apa kamu dari konsekuensi dari tindakan yang kamu lakukan? Kamu telah menyinggung Sekte Cawan Suci dari Pegunungan Salju." Gadis Mei melihat mayat 3 bawahannya.


"Aku tidak perlu memikirkan konsekuensi. Aku adalah wujud kemarahan dari seluruh ibu yang anak-anaknya kau culik." Bibi Zhou menjawab dengan geram.


"Tunggu apalagi, habisi dia." Gadis Mei memberi perintah.


Bibi Zhou mengambil kuda kuda lagi. Kali ini sisi sabit tajam berada di samping kiri. Seolah-olah burung pelikan memiringkan paruhnya.


Meskipun ada sedikit keraguan, kelima gadis akhirnya meloncat menyerang Bibi Zhou.


Pertarungan terjadi dengan sengit. Dikeroyok lima orang dari arah yang berbeda akhirnya membuat dirinya kewalahan.


Bibi Zhou kali ini membuat banyak gerakan menahan dan menghindar. Mereka berlima memiliki keunggulan gerakan yang gesit dengan pedang tipis ringan. Ini membawa serangan yang lebih cepat. Menjawab kelemahan senjata Bibi Zhou yang besar dan berat.


Dalam proses ini Bibi Zhou menerima banyak luka di punggung dan lengannya. Cukup membuat pandangan sedikit berdarah. Dan tentu juga menguras vitalitasnya.


Melihat Bibi Zhou sedikit kewalahan, lima gadis merasa lebih unggul dan mulai sedikit bermain-main dengan lawannya. Bermaksud membuat kematian menderita dengan membuat luka-luka bibi semakin banyak. Memberikan siksaan pedih dan kematian yang sulit.


Melihat tensi serangan sedikit mengendur, Bibi Zhou berfikir ini adalah kesempatan yang bagus. Dia memulai langkah berjinjit menghindar dan menangkis tebasan demi tebasan pedang yang datang bertubi-tubi. Sembari mengumpulkan momentum serangan.


Setelah beberapa waktu berlalu Bibi Zhou menemukan momen yang tepat. Dia membuat serangan mendadak di luar prediksi para gadis. Bibi Zhou melakukan tebasan diagonal sabit dari arah bawah ke atas.


Dalam sebuah suara chop tubuh salah satu gadis terbelah menjadi dua.


Seluruh gadis merasa shock atas kematian tragis salah satu rekannya. Kondisi kaget para gadis Ini menjadi golden momen kedua milik Bibi Zhou.


Bibi Zhou memutarkan sabit di atas kepalanya sekaligus membuat tubuhnya berputar seperti pelikan yang sedang terbang berbalik arah dengan kepakan sayap yang kuat memukul udara.

__ADS_1


Dua kepala terbang bebas ke angkasa. Berputar di udara dengan mata melotot melihat pemandangan dua air mancur berwarna merah.


Kemudian burung pelikan menukik tajam untuk menyambar mangsa.


Sebuah zwingg memotong kedua kaki seorang gadis. Membuatnya jatuh berteriak. Dia menangis seolah olah ini adalah mimpi buruk. Hingga akhirnya mati karena kehabisan darah.


Kejadian ini terjadi sangat cepat . Gadis Mei sebenarnya menyadari hal ini akan terjadi. Namun semua ini telah terjadi dalam satu kedipan matanya sebelum dia membuat gerakan apa pun.


Dua gadis yang tersisa gemetar ketakutan, mereka menjatuhkan pedang. Pemandangan ini sudah overdosis bagi mereka. Tragedi yang sangat kejam dan berdarah seperti ini baru mereka rasakan pertama kali ini.


Buruk pelikan memukul ikan yang menjadi mangsanya dengan paruhnya yang tebal.


Sebuah suara daggg terdengar membuat salah satu kepala gadis pecah dan terlempar ke tanah dalam keadaan mati.


Bibi Zhou memukul salah satu kepala gadis dengan sisi tumpul sabit yang berlawanan posisi sisi tajamnya.


Satu-satunya bawahan yang masih hidup hilang semangat tempur dan melempar pedangnya. Dia menyerah berlari menuju perlindungan tuannya.


Namun, Kini burung pelikan menusuk mangsa dengan ujung paruhnya yang runcing.


Bilah besar menembus punggung hingga dada gadis terakhir. Dengan ujung sabit yang tajam mendongak ke langit.


Gadis terakhir memuntahkan gumpalan besar darah. Dia mati.


Gadis Mei pertama kali ini merasakan hatinya jatuh dan teror berbahaya. Di dalam sekte dia sangat diagungkan. Di luar sekte tak satu pun berani menggertaknya.


Dia adalah putri satu-satunya penatua pertama. Dia tak mempercayai ini semua terjadi saat ini.


Seluruh pengikutnya telah mati dengan tragis. Kebencian dan kemarahan kini menguasai dirinya. Dia berteriak dengan histeris.


Bibi Zhou dalam keadaan tenggelam dalam konsentrasi. Dia mendapat sebuah pencerahan. Dia menangkap dalam pikirannya seekor burung pelikan yang sangat besar terbang di angkasa melewati bintang demi bintang.


Tiap kepakan sayapnya membubarkan tiap galaksi yang dilaluinya. Bintang-bintang seolah hanya menjadi debu-debu yang beterbangan.

__ADS_1


Lantas burung besar itu menapakkan kakinya di permukaan laut biru yang tak berujung. Membuka kedua sayapnya melebar ke seluruh dunia hingga menutupi matahari.


Alam semesta yang terang benderang berubah menjadi kegelapan total. Hingga akhirnya bulan menampakkan dirinya. Burung pelikan besar mendongakkan kepala ke langit dengan membuka paruhnya. Mematuk bulan kemudian menelannya.


Variasi pertama dari 12 Gerakan Bangau (Pelikan) Mahayana. "Menekan Matahari Menelan Rembulan".


Bibi Zhou membuka matanya. Pandangannya sekarang sangat berbeda dengan sebelumnya. Luka-luka di sekujur tubuhnya tak lagi terasa perih. Gadis Mei yang melaju sangat cepat ke arahnya baginya kini terasa lambat sekali.


Gadis Mei mengeluarkan segala hal yang dikuasainya. Teknik tertinggi Sekte Cawan Suci pun dia lepaskan dalam satu gerakan pedang yang menjadi tebasan pamungkasnya. Untuk segera menghabisi lawannya dalam satu serangan tunggal.


Melihat Bibi Zhou yang diam tak bergerak membuat hati Gadis Mei bangga. Dia sanggup membasmi hama di depannya ini. Membalaskan dendam seluruh pengikutnya.


Bahkan secara khusus dia merencanakan akan mengabarkan ke sekte untuk membawa pasukan besarnya menghancurkan seluruh keluarga bibi ini serta mencacah kota kekaisaran.


"Eh..." Gadis Mei merasakan ada sesuatu terjadi padanya.


Dia merasakan lehernya terasa sejuk oleh desiran angin. Kemudian muncul perasaan dirinya telah terbang tinggi ke langit. Hingga hampir dapat menyentuh awan.


Kemudian dia melihat langit berputar dengan pelan. Seolah sedang memandangi langit saat bermain ayunan.


Dia merasakan ini seperti sedang bermimpi. Segala macam permasalahan, beban, kemarahan dan dendam seperti telah dihapuskan begitu saja dari pikirannya. Rasa damai membasuhnya, seperti ombak yang datang bertubi-tubi.


Rasa damai makin kuat menguasai pikirannya menyebabkan dia ingin menguap. Rasa kantuk yang hebat datang dengan tiba-tiba.


Dia ingin tetap membuka mata. Namun kelopak matanya seakan ditutupi erat oleh jemari ibunya. Seperti kebiasaannya saat kecil dulu, ibunya akan menutup mata Mei-er dengan jemari saat dia menolak untuk tidur cepat di malam hari.


Pikirannya mengembara ke masa lalu. Susah, tawa, canda dan senang bersama ibunya. Sementara kini rasa kantuk terasa makin kuat.


Saat ini dia sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya akhirnya dia memilih menyerah untuk terlelap. Dia merasa sangat nyaman tidur dalam pangkuan ibunya.


Sebelum memasuki dunia indah dalam mimpi. Dia hendak bersuara memanggil nama ibunya, namun hanya mulutnya saja yang terbuka.


Pita suara tidak ikut terbang bersama kepalanya melintasi udara.

__ADS_1


__ADS_2