
Li Hua berjalan di sebuah gang sepi. Tuannya meminta dia untuk membeli beberapa bahan di pasar. Seseorang menghadangnya di tengah jalan.
"Mana suratnya? Cepat berikan padaku !" Shen Mubai bertanya dengan tergesa-gesa.
'Surat? Surat untuk Sekte Mutiara Terbit? Bukan aku yang membawanya. Tuan tidak memberiku surat pagi ini." Li Hua segera menjawab.
"Lantas ?" Shen Mubai mencoba menggali informasi.
"Sepertinya surat itu dikirim oleh Zhao Ren, pagi tadi kulihat anak itu tampak berlari keluar dari paviliun.' Li Hua mengingat.
Mao Yu akan menduga adegan ini pasti terjadi. Maka dia memanggil Zhao Ren sebelum para penghuni memulai aktifitas pagi hari. Dia menyerahkan sepucuk surat pada anak itu untuk dibawa ke Guild Makelar. Surat yang menyatakan Paviliun Shen meminta tebusan kepada Sekte Mutiara Terbit atas penerus utama yang sedang mereka sandera.
Zhao Ren sangat patuh, dia segera mengambil langkah seribu untuk segera menuntaskan misi yang diberikan kepadanya.
Shen Mubai merenung sesaat.
"Kita berdoa saja sebaiknya ke depan tidak terjadi apa-apa." Lutut Shen Mubai lemas.
***
Siang hari di taman tengah paviliun.
Li Hua mendorong sebuah kursi roda. Duduk di atasnya seorang pesakitan dengan seluruh tubuhnya diperban. Hanya menyisakan ruang terbuka untuk kedua matanya.
"Li Hua aku memintamu untuk belanja sesuai kebutuhan. Kenapa kamu membeli mumi?" Mao Yu cemberut.
"Demi Langit, Dia Chen Dewei..." Li Hua menyahut dengan kesal.
"Mppphhh.... Mphhh.... " Chen Dewei juga ingin berdemo dengan perasaan kesal.
"Oh, jadi dia..." Mao Yu mengangguk.
Para pelayan yang melihat merasa lega sejadi-jadinya. Dalam hidup ini mereka pertama kali ini menyaksikan bagaimana mumi itu berwujud nyata. Imajinasi-imajinasi tentang sosok ini dari kecil mereka bayangkan dari cerita-cerita seram. Akhirnya saat ini mereka dapat melihat dengan nyata perwujudan dari mumi yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aku ingin menyampaikan beberapa hal cukup penting. Kurasa aku harus meminggirkan dulu Shen Dewei." Li Hua ingin mengungkapkan beberapa hal penting.
"Tak perlu, biarkan saja dia di sini. Mungkin dia bisa memberikan kita masukan berharga." Mao Yu mengabaikan saran Li Hua kemudian memandang mumi Chen Dewei.
"Mppphhh... Mphhh....." Chen Dewei ingin berkata mati saja kau . Karena mulutnya tersumpal perban yang keluar hanya bunyi mmpphhh saja.
"Lihat betapa mengagumkannya saran seorang murid utama. Kata-kata yang keluar adalah emas. Li Hua inilah yang disebut dengan kecerdasan calon penerus sekte." Mao Yu berkata dengan nada licik.
Li Hua " .... "
Chen Dewei tak bisa berbuat apa-apa, anggota tubuhnya semua lumpuh. Hanya mata melotot yang bisa dia lakukan.
"Saya khawatir dalam waktu dekat banyak kekuatan besar akan tiba di kota kekaisaran. Ada gula ada semut. Informasi tambang jade kristal Klan Mo sepertinya tak dapat dibendung penyebarannya. Ditambah mereka menemukan lebih banyak batu belakangan ini." Li Hua memaparkan.
"Tapi saya yakin mata-mata mereka telah lebih dulu sampai, Namun ada beberapa informasi juga beberapa kekuatan luar benua mulai bergerak kemari" Li Hua melanjutkan.
"Mata mata? Termasuk yang sekarang bersama di antara kita." Mao Yu merujuk pada Chen Dewei.
"Lantas biarkan mereka datang sesukanya. Tugas kita sebagai tuan rumah adalah memberi mereka sambutan yang adil dan meriah." Mao Yu menyatakan dengan jelas seolah ini bukan menjadi masalah.
Rombongan trio kemudian berjalan berkeliling dan berbincang hingga akhirnya sampai pada pelataran samping. Mereka sedang melihat Zhou Ren yang berolahraga beban berat dengan tubuh kecilnya.
"Aku harus bisa mengangkat dan menghunus pedangku". Itu kata-kata yang terus berngiang-ngiang di kepalanya.
Otot-otot kecil yang padat mulai terbentuk di lengannya dan perutnya. Dia melakukan ini tak kenal waktu dan pernah mengeluh. Aku sebisa mungkin harus berguna bagi tuan mudaku.
"Ah, Tuan muda! Kalian semua... Salam !" Zhou Ren memberi salam pada semuanya.
Mao Yu tersenyum dan mendekatinya.
"Lanjutkan, kami hanya lewat..." Mao Yu sangat puas dengan pelayan kecilnya ini.
"Dengan pedang besarmu, kamu nanti akan berada di paling depan mengoyak barisan depan musuh saat tuan mudamu menyerbu surga." Mao Yu berbicara sambil tangannya menunjuk langit.
__ADS_1
Waktu seakan berhenti. Li Hua dan Chen Dewei merasa ada sesuatu dari dalam jiwa mereka bergetar membawa teror berat. Namun itu hanya sesaat.
"Ahahahha.... Lupakan, Tuan mudamu sedang bercanda." Mao Yu mengacak-acak rambut Zhou Ren.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan langkah meninggalkan Zhou Ren sendirian yang masih bengong.
"Menyerbu surga?" Zhao Ren memutar frase kata ini berulang ulang dalam pikirannya.
***
Sesampai di halaman belakang. Mereka melihat gadis Zhou Yan dan Bibi Zhou sedang berlatih duel dengan menggunakan tongkat kayu sebagai pengganti senjata utama.
Zhou Yan terlihat memiliki kecakapan dengan tombak. Banyak di antara crew caravan pengguna tombak jadi setiap dia menemukan masalah. Sangat mudah bagi dia mendapat beberapa petunjuk.
Chen Dewei melihat sedikit sesuatu yang unik dari gerakan kedua perempuan itu. Langkah demi langkah yang diambil sangat ringan menyebabkan keduanya bergerak sangat gesit. Namun tidak mengurangi sifat agresif dan tidak mengurangi kekuatan momentum tongkat.
"Gerakan apa ini ?" Chen Dewei berkata dalam mppphhh... mphhh....
"Tak bisakah kau melihat mereka sedang menari bangau berjinjit." Mao Yu seolah mengerti apa yang dikatakan Chen Dewei.
Chen Dewei mau tidak mau harus mengakui bahwa tarian yang masyur di kalangan anak-anak ini memiliki implikasi nyata dalam sebuah pertempuran. Gerakan-gerakannya sangat efisien. Tidak membutuhkan tenaga yang besar namun menyimpan potensi sangat mematikan.
Tari bangau berjinjit dalam versi aslinya di tanah suci adalah jurus pamungkas milik Pengadilan Danau Permata. Gerakan ini melambungkan nama pengadilan ke puncak saat ibu bangsa mereka bertarung menghadapi seluruh musuh dengan tidak mengenal kata lelah.
Saat itu Ibu Bangsa disaksikan oleh beberapa pengamat dengan penuh rasa kekaguman. Gerakannya halus dan ringan. Dia melangkah seperti hanya menggunakan ujung jari kaki yang menapak di atas air. Gerakannya meliak liuk, tusukannya mematikan seperti bangau menangkap mangsanya.
Sejak saat itu tidak ada yang berani meremehkan Wilayah Danau Biru. Nama gerakannya adalah 12 Variasi Bangau Mahayana.
Kembali di lapangan belakang, saat ini semua pemirsa menyatakan dengan suara bulat sepakat bahwa Zhao Yan adalah perwujudan jelita dari keindahan seekor bangau dari surga. Tubuhnya langsing yang langkah demi langkahnya melenggak lenggok sangat harmonis.
Gerakan tombak seperti kibasan sayap. Melebar hingga menutupi angkasa. Tepisannya seperti sabetan paruh panjang pada permukaan air. Sedangkan serangannya sangat mematikan sebagaimana paruh lancip menusuk mangsa.
Namun ini tak berlaku bagi Bibi Zhou yang bertubuh gembrot, semua pemirsa meyakini melihatnya seperti burung pelikan.tua.
__ADS_1