Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Tenang, Hanya Gatal Biasa


__ADS_3

Di tengah kabut tebal turun seluruh anggota Klan Wang meninggalkan lokasi camp secara diam-diam. Mereka sengaja  membiarkan tenda tetap berdiri untuk mengelabui kekuatan lain.


Mao Yu mengisyaratkan ini kepada tetua klan.


Kekuatan lain di sekitar makam gua sekali lagi meningkatkan kewaspadaannya. Mereka menyiapkan diri dalam penjagaan yang ketat jika sewaktu-waktu terjadi hal yang mendadak.


Meskipun persepsi dibatasi, kekuatan besar memiliki ahli yang cukup untuk merasakan riak perubahan. Konsentrasi mereka disiagakan untuk mengunci makam gua.


Di dalam aula makam gua.


Mao Yu telah menyelesaikan pekerjaannya.


“Yoshh.... Selesai.” Mao Yu tampak puas.


Sementara duo Wang masih saling pandang dengan rasa heran dan bertanya-tanya.


“Lin Fan giliranmu !” Mao Yu memberi perintah.


Lin Fan mengangguk dengan senyum lebar. Dari cincin penyimpanannya dia mengeluarkan dupa setebal lengan orang dewasa yang sangat panjang.


Dia menancapkan dengan kuat di depan pintu aula makam gua. Dengan jentikan tangannya api memercik dan mulai membakar dupa.


Lin Fan segera meloncat ke belakang. Dari cincin penyimpanannya dia menarik puluhan lembar kertas mantra. Kemudian dia melemparkan ke arah depan.


Puluhan kertas mantra terbang melayang membentuk sebuah formasi. Kertas-kertas saling terkait satu sama lain. Lantas terbakar di udara dan membentuk lapisan tipis transparan.


“Sekat pembatas tak terlihat.” Wang Shan berseru.


Asap dupa makin mengepul, karena terhalang dinding pembatas asap tidak dapat memasuki aula. Asap dupa akhirnya mau tak mau menyebar memenuhi lorong gua hingga mengalir menuju keluar.


“Semuanya, Sentuh batu altar dengan bersama-sama !” Mao Yu memberikan perintah.


Ketika kulit tangan menyentuh altar, sebuah cahaya kuning merona muncul menyelimuti seluruh ruangan aula makam gua. Semakin terang dan semakin terang.


Bahkan cahaya kuning mulai menerobos menuju luar gua makam.


“INNN.... INNNNIIIIIII................”


Para murid Sekte Api Phoenix yang bertugas menjaga dikagetkan dengan cahaya kuning yang menyeruak dari mulut goa.


Tetua dari Sekte Api Phoenix dan Sekte Pedang Surgawi tersentak.


Mereka bangkit dari tempat duduknya untuk mulai mengambil langkah.

__ADS_1


Shoooo.....


Dengan sebuah hembusan angin pelan kedua tetua tersebut mengambil tempat duduknya kembali dengan tergesa-gesa.


Mereka berkeringat kelereng dengan mata terpejam kuat, mereka diam mematung tak sedikitpun berani melakukan apa-apa. Bahkan membuka mata pun tidak berani.


Kong Kecil mengirim aura pembantaian kepada kedua tetua. Membatasi pergerakan perburuan harta.


Sementara murid dari berbagai kekuatan mulai gempar dan mulai merangsek secara berbondong-bondong menuju mulut gua makam.


“Cahaya menyilaukan menunjukkan kepada kita semua bahwa seseorang telah melakukan sesuatu di dalam. Tampaknya makam telah berhasil dibuka.” Seorang pengamat memberikan komentar.


“Pandanganku dalam kabut ini terbatas, aku hanya bisa merasakan para murid berbondong-bondong menuju gua sekarang.” Pengamat lain menambahkan.


“Aku akan mengambil langkah saat waktunya tepat. Tidak perlu terburu-buru.” Pengamat berbaju ungu mengutarakan rencananya.


Di mulut gua kelompok yang dipimpin oleh Nian segera mengambil keputusan cepat. Nian dan seluruh bawahannya segera melesat masuk ke dalam gua.


AAAAAAAWWWWWHHHHHH...... !!!!!


Secepat kelompok itu masuk ke dalam gua, secepat itu juga mereka melesat keluar gua.


Nian dan kelompoknya jatuh di tanah dengan berguling-guling hebat. Mereka merasakan gatal luar biasa di tulang mereka.


Suara teriakan saling sahut bergema.


“Sialan, ini pasti kutukan makam. Tak seharusnya kami ceroboh...” Nian berteriak dengan rasa kesal.


Mereka bermaksud menggunakan qi untuk mendorong racun gatal melalui pori pori. Namun anehnya semakin racun gatal didorong keluar, semakin kuat racun gatal mencengkeram tulang dan justru menambah rasa gatal lebih hebat.


Demikian juga dengan berbagai macam obat-obatan. Bukannya meringankan efek, justru menambah rasa gatal semakin menjadi-jadi.


Para murid Sekte Api Phoenix kini berubah warna menjadi biru dan kelojotan di tanah. Bahkan beberapa lainnya pingsan.


Rombongan kekuatan lain mulai tiba di depan gua. Menyaksikan Nian dan para bawahannya dalam keadaan yan sangat memprihatinkan.


Mata seluruh rombongan mengabaikan Nian dan grup. Mereka fokus pada pintu masuk gua.


Sementara kabut turun makin pekat.


Nian menyampaikan kepada tetua sektenya bahwa seluruh lorong gua dipenuhi racun yang mematikan.


Tetua mengangguk.

__ADS_1


“Racun udara lemah terhadap api. Siapapun dengan kekuatan api. Semburkan api ke dalam lorong gua hingga semua racun terbakar !” Tetua Sekte Api Phoenix memberikan perintah.


Segala macam kemampuan, mantra, jurus dan harta dikeluarkan. Mereka dengan antusias untuk segera menciptakan api.


“IIINNNN INNNNIIIIIIIIII...........”


Para peserta pemicu api bengong dengan rasa kecewa dan enggan.


Hanya asap mengepul saja yang keluar dari jari dan harta mereka. Kemampuan api ditiadakan sepenuhnya  oleh keberadaan kabut aneh yang dikirimkan Kong Kecil.


"Sial apiku tak mau menyala..."


"Sial hartaku tak berguna..."


“Ambil jarak lebih jauh. Kita tiup lorong gua dengan angin. Seketika racun keluar dari gua yang lain atur arah angin ke utara untuk menggiring racun terbang menjauh !” Tetua tampak tak kehabisan akal.


“SIAP...” Para murid menjawab serempak.


Angin telah ditiupkan ke dalam lorong gua. Racun segera terdesak dan mau tak mau terkirim keluar gua makam.


“Bagus, arahkan racun ke atas dan tiupkan menjauh !” Tetua berteriak lantang.


Para murid segera mematuhi intruksi tetua.


AAAAAAAAAWWWWWHHHHHHHHH...............!!!!!!


Barisan depan rombongan murid kelojotan di tanah seperti orang gila yang mencakar-cakar dirinya sendiri. Mereka terkena racun gatal.


“Tetua, Racun tidak dapat kami alirkan dengan angin kami. Tampaknya kabut ini menghalangi pergerakannya.” Salah satu murid berkata lantang.


“APA ??” Tetua kaget.


Racun akhirnya menyatu dengan kabut dan menyebar cepat ke segala penjuru. Satu per satu murid mulai terinfeksi. Teriakan main marak dan ramai seperti parade.


“Gunakan qi untuk membuat perisai diri !” Tetua memberikan intruksi baru.


Namun teriakan main ramai lagi terdengar. Korban baru mulai berjatuhan satu per satu.


“Racun itu unik. Dia tertarik dengan qi. Semakin kita mengedarkan kekuatan qi kita, racun akan segera menghampiri kita.” Pengamat ahli mengemukakan pendapat.


“Aku juga berpendapat demikian, yang terbaik saat ini adalah menunggu racun hilang dengan sendirinya. Cih, kabut tebal ini merepotkan.” Ahli lain berkata.


AAAAAAAAAWWWWWHHHHHHHHH...............!!!!!!

__ADS_1


Akhirnya tetua Sekte Api Phoenix tumbang, terguling-guling di tanah dengan mencakar-cakar pantatnya.


__ADS_2