
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
Asisten Ning terkejut ketika melihat pertempuran di luar nalar yang tidak terduga. Dia melihat dengan keterkejutan yang mendalam saat peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan logika dan akal sehat terjadi di depan matanya. Pertempuran itu begitu hebat dan menegangkan, dengan peristiwa yang terjadi begitu cepat dan keras, membuatnya tercengang dan terkejut.
Asisten Ning mencatat adanya adegan yang sangat aneh, seperti kecepatan penyerangan di luar pengamatan mata, keganasan para penyerang dengan senjata dan sihir, kombinasi gerakan penyerang yang sangat efisien dan terukur, serta lawan yang keluar dari portal sangat kuat hingga perlu diserbu oleh tiga penyerang. Benar-benar di luar imajinasinya.
Pertempuran tersebut juga melibatkan fenomena futuristik saat senjata saling beradu mengeluarkan nyala api dan berbagai macam evek visual yang belum pernah dilihat sebelumnya, berupa ledakan demi ledakan efek visual yang spektakuler.
Asisten Ning merasa bingung dan kagum sekaligus dengan pertempuran di luar nalar yang dilihatnya. Dia berusaha memahami apa yang terjadi dan terus mencari penjelasan rasional untuk fenomena-fenomena yang tidak masuk akal itu.
Namun, semakin banyak peristiwa yang terjadi yang coba dia pahami, semakin rumit dan tidak masuk akal situasinya, membuat asisten Ning semakin terkejut dan tenggelam dalam kebingungan.
Dalam menghadapi pertempuran di luar nalar ini, Asisten Ning mencoba memproses informasi secara cepat dan berpikir out of the box untuk menghadapinya. Dia mencoba mencari pola atau keteraturan dalam kekacauan tersebut, mencoba menggabungkan pengetahuannya yang telah diajarkan sebelumnya dengan pengalaman baru yang sangat luar biasa ini.
Hasilnya nihil alias nol besar.
Ketika pertempuran berlanjut, Asisten Ning menghadapi perasaan campur aduk antara keterkejutan, kekaguman, dan kecemasan. Dia sangat terkejut dengan apa yang dia saksikan dan tidak mampu mengelakkan perasaan takjub dan cemas di dalam hatinya.
Namun, dia juga tergolong orang yang cerdas, dia masih dapat mempertahankan kewarasan diri di tengah gejolak besar.
“Mohohohohohoho…..” Ledak tawa nyaring Bibi Bu memecah konsentrasi Assisten Ning. Bibi Bu seperti bola berguling-guling menyiapkan tatana meja dan kompor. Berikut juga dengan berbagai macap peralatan memasaknya.
“Rusa memiliki letak gizi pada tanduknya…” Bibi Bu memelototi Pangeran Gu.
“Lancang !!!” Pangeran Gu marah. Sebagai Klan Rusa terhormat di surga. Tanduk merupakan lambang kehormatan, kekuatan dan hegemoni. Menyebut tanduk di depannya baginya merupakan penistaan besar.
“Tawanan sebaiknya diam dan pasrah. Berperilaku baiklah Pangeran Gu…” She Laode menyela. Dia sudah mengambil tempat duduknya di meja makan.
__ADS_1
“She Laode, kamu pengkhianat persatuan. Klanmu kupastikan musnah…” Pangeran Gu mengecam She Laode dengan nada kemarahan. Dia berupaya meronta untuk melepaskan diri dari jerat rantai yang mengikatnya.
Pangeran Gu berganti sorot matanya mengunci Mao Yu dan Shen Yangxuan. Dia berusaha menggali kedalaman kedua orang ini. Seorang dengan garis keturunan naga dan satunya berserker dengan vitalitas dan kekuatan yang gila.
“Kamu mengangkat murid yang cukup berbakat diantara sampah dunia ini.” Pangeran Gu mendengus tajam.
“Keberuntungan selalu berpihak pada orang dengan hati yang terpuji lagi mulia.” She Laode mengibaskan lengannya. Dia mengatakan dengan nada mengejek yang menyulut kemarahan Pangeran Gu.
“Tunggu… Tunggu… Asisten Yu, Ini…” Asisten Ning mendekat pada kerumunan dengan tanda tanya besar dalam pikirannya.
Lima pasang mata melirik pada Asisten Yu membuatnya canggung dan bercucur peluh dari dahinya.
“Asisten Yu, Siapa mereka?”
“Para tetua benteng.” Mao Yu menjawab singkat.
“Paman bertanduk itu… Dia sangat berbahaya…”
Dalam agenda penyergapan portal ini, Mao Yu menugaskan She Laode sebagai pemimpin utama. Mengesampingkan dirinya dengan Shen Yangxuan.
Mao Yu bermaksud tampil sebagaimana murid She Laode sebagai upaya untuk penyamaran dari musuh yang sangat tidak bisa diduga. Mao Yu sangat berhati-hati selama berlangsungnya pertempuran, dia sungguh mengunci fluktuasi energi jiwanya. Agar tidak mudah dikenali asal-usulnya.
“Mohohohoho…. Ready….” Bibi Bu menggelinding mendekati Pangeran Gu hingga jarak yang sangat dekat.
“Katakan anak baik untuk berjanji tidak menangis di depan bibi yang cantik ini.” Bibi Bu memegang kedua tanduk Pangeran Gu dengan kedua tangannya.
“Apa yang kamu lakukan, lepaskan tangan kotormu !” Pangeran Gu menghardik keras. Urat lehernya mengembang menunjukkan kemarahannya.
__ADS_1
Tanduk Ras Rusa Surga Utara sangat kuat dan keras. Dalam pertempuran yang dicatat dalam gulungan dari zaman kuno tak satupun musuh yang sanggup memotong dengan ragam berbagai senjata.
Bahkan saat meninggal, tanduk mereka tetap terpatri kuat pada tengkorak sepanjang era.
CEKLAKKK….
CEKLAKKK….
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
“AWOOOOHHHHH……” Pangeran Gu jatuh berguling guling di atas lantai gua yang basah. Melupakan jati dirinya sebagai bangsawan terhormat, dia meraung-raung seperti pesakitan paling teraniaya sedunia dengan air mata membasahi wajahnya.
She Laode membelalak dengan celeguk menelan seteguk ludahnya.
“Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin? Seperti memetik jamur dari pohon !!!” She Laode bukan lagi takjub atau terpesona. Namun ketakutan merayap ke dalam sarafnya. Dia melihat Bibi Bu dengan riang gembira membawa sepasang tanduk menuju dapur dadakan yang dibuatnya.
“Gila… Wanita ini sangat berbahaya…” She Laode berusaha menahan rasa gemetar pada kedua tangannya. Dia tak membayangkan Bibi Bu memiliki kekuatan seperti yang barusan dia lihat. Untungnya kita berada dalam pihak yang sama.
“Kenapa heboh seperti ini. Kamu adalah rusa, musim kawin bulan depan tandukmu akan tumbuh lagi.” Mao Yu nyeletuk.
She Laode “ … “
Shen Yangxuan “ … “
__ADS_1
Asisten Ning “ … “
Pangeran Gu “ … “ Dia kemudian pingsan.