
URRRRRRAAAAAAAAA…………
URRRRRRAAAAAAAAA…………
URRRRRRAAAAAAAAA…………
Murid Sekte Pedang Bumi merangsak maju menyerang Chen Dewei dan Jing Jun dengan pedang terhunus.
Mata memerah karena menahan kemarahan atas penghinaan Benteng Tua Leluhur terhadap mereka. Berani beraninya mereka hanya mengirim dua murid menuju lautan amukan para murdi Sekte Pedang Bumi.
Para pengamat mendecakkan lidahnya. Beberapa menggelengkan kepalanya.
Di sisi lain Chen Dewei menarik pedang kayu dari punggungnya. Sebuah bilah bambu yang berwarna kehitaman mengkilat. Dia mengayunkan beberapa kali di udara, betapa sangat ringan dan fleksibel.
Sementara Jing Jun mengeluarkan pedang panjang dengan bilah ramping dan lurus, aura kesederhanaan dengan kesan feminim dan anggun.
Keduanya meyiapkan serangan terbaik untuk menjatuhkan beberapa ratus lebah liar secara langsung.
“Tapi aku percaya kita tidak sendiri di sini.” Jing Jun tersenyum.
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
Para pengamat merasakan merinding di sekujur tubuhnya. Seluruh bulu mereka berdiri melawan gravitasi. Bahkan pakar tertua di antara tribun pengamat sempat kehilangan keseimbangannya dalam sesaat.
Sementara murid murid pengamat jatuh dengan pantat di tanah dengan ************ basah.
Suara geraman bersumber dari balik pepohonan hutan persis di belakang Jing Jun dan Chen Dewei menyebabkan suasana tiba tiba menjadi hening.
Murid Sekte Pedang Bumi yang merangsak maju tiba-tiba berhenti mendadak seolah kaki mereka dijerat oleh jaring nelayan.
Butiran keringat membanjiri dahi dan punggung mereka.
Kemarahan yang meluap luap digantikan oleh rasa cemas dan ketakutan dalam sekejap.
Tiga pasang mata besar berwarna menyala perlahan nampak dengan jelas keluar dari rimbunnya pepohonan hutan.
“Itu… An… Anjing…” Salah seorang murid Sekte Pedang Bumi yang masih dapat mengendalikan ketakutannya berteriak lantang.
__ADS_1
Dengan langkah pelan Tiga Gou muncul di belakan Jing Jun dan Chen Dewei. Tiga bulldog sebesar gajah dengan kalung logam rantai yang berduri menambah kesan horor dan menantang.
Otot ototnya menggumpal seperti dilukis langsung oleh para dewa.
Giginya besar dengan taring runcing yang ketajamannya melebihi senjata pamungkas dari perbendaharaan sekte mereka.
Kuku kukunya seperi cula badak terbuat dari logam baja tak tertembus.
Geramannya seperti guntur yang langsung menyambar akar jiwa, menumbuhkan keputusasaan dan menarik jiwa dari sumsum belulang mengantar pada gerbang kematian.
Jing Jun dan Chen Dewei berdiri dengan gagah menantang menantang Sekte Api Phoenix dengan Tiga Gou di belakang mereka.
Kemalangan menghantui murid Sekte Pedang Bumi. Tangan mereka lemas, suara pedang jatuh dengan bunyi gemerincing logam terdengar tanpa putus jatuh di atas lantai batu alun utama.
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
Dalam waktu singkat seluruh tetua meninggalkan aula dan muncul serempak di hadapan Jing Jun, Chen Dewei dan Tiga Gou dengan persenjataan kelas utama mereka terhunus.
Ya, tentu saja mereka menggigit lidah untuk menahannya. Sebagai kekuatan utama yang membawa reputasi Sekte Pedang Bumi mereka harus berdiri melindungi murid dan sekte.
Apakah para murid merasa tenang setelahnya?
Tentu saja tidak, keberadaan para tetua di depan mereka masih belum cukup memberikan rasa aman kepada mereka.
Para leluhur terbangun dari meditasi panjang. Dari balik ruangan yang indah penuh permata. Dari kedalaman gua yang jauh dan gelap. Kedalaman ruang bawah tanah yang sunyi dan lembab.
Dari peti mati kayu tua di suatu tempat antah berantah.
Mereka membuka mata dan mulai mengedarkan hukum jasa yang mereka kuasai.
Sementara Patriark Sekte Pedang Bumi menahan kemarahannya yang kini memuncak, dia bermaksud berdiri dan mengambil posisi di tengah medan laga. Namun ada sesuatu yang mengganggunya.
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………………”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………………”
“AAAAAAAAAAAAAAAAAAA…………………”
__ADS_1
Teriakan nyaring dengan jeritan penuh kemalangan memecah keheningan malam di Sekte Pedang Bumi. Namun tidak membubarkan fokus para murid dan tetua berhadapan dengan Tiga Moster Gou Raksasa.
Fokus mereka masih dihantui oleh binatang buas di hadapan mereka, yang kapan saja bisa mengamuk dan mencerai beraikan.
“Suara Nyonya Sekte. Istri patriark….” Pakar tua mengantisipasi.
“Terdengar tragis, apa yang terjadi ?” Temannya bertanya.
Patriark segera menuju kediaman utama, masuk ke dalam kamar istrinya. Guna memeriksa apa yang sedang terjadi.
Betapa terkejutnya patriark saat menemukan istrinya dalam keadaan kacau balau dan menggila dalam jeritan dan tangis kemalangan.
“Rong-er… Rong-er…” Patriark mengkampiri dan mengguncang-guncang tubuh istrinya.
Lebih terkejut lagi Patriark menemukan toples kaca di sebelah istrinya. Berisi kepala adik iparnya, Chi-er.
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
“Chi-er…” Patriark berusaha menggapai toples kaca.
Slashhhh….
Cahaya menyilaukan melintas dalam sekejap melewati lengan patriark yang berusaha menggapai toples kaca.
Darah menyembur dari pangkal lengan sementara lengan yang terlepas terkulai di udara beberapa saat hingga debam jatuh di atas lantai.
“Ni Guanlong !!!” Patriark menyeru.
Dua tusukan menembus dada patriark dengan pedang yang ditinggalkan menancap. Dua bayangan berkelabat menuju belakang Ni Guanlong.
“Ni Lokong !!! Ni Feng !!!” Patriark menyemburkan darah dari mulutnya.
Patriark terbatuk-batuk. Dia berupaya menggapai pedangnya, namun sayang cincin penyimpanannya berada di lengan yang terputus.
Dia hanya bisa berupaya menghentikan aliran darah yang menyembur dan menahan luka pada titik vital di dadanya.
“Kalian benar-benar memberontak.” Patriark mengancam.
“Terlalu berlebihan… Hanya mengambil alih posisimu.” Ni Guanlong berkata dengan kalimat sederhana.
__ADS_1