Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Penyusup Lagi?


__ADS_3

Dua malam telah berlalu, Mao Yu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan tuntas. Pekerjaan ini di masa lalu pasti akan membuatnya tepar sangat kelelahan.


Namun dengan kondisi Mao Yu yang sekarang melakukan pemurnian pada seseorang adalah pekerjaan yang ringan.


Hanya saja perlu ketelitian tinggi, itu yang membuatnya memakan waktu.


Mao Yu tidak menunggu apa pun, dia meninggalkan kediaman Wan Hanma untuk kemudian menyusuri jalan kecil menuju sisi pepohonan lebat hingga jarak yang cukup jauh.


Mao Yu menghentikan langkahnya, beberapa murid menghadang dengan tatapan waspada.


“Kami adalah anggota disiplin, aku belum pernah melihatmu sama sekali. Tolong tunjukkan kepada kami tanda pengenal anda.” Komandan regu sedikit mengintimidasi.


“Tanda pengenal? Aku tak punya.” Mao Yu menggelengkan kepalanya.


“Maka kamu adalah penyusup. Tangkap!” komandan regu menjadi geram dan memerintahkan anak buahnya untuk segera memblokir Mao Yu dari segala arah. Dia sangat tegas untuk tipe masalah seperti saat ini.


“Maka tangkaplah… “ Mao Yu menyodorkan tangannya untuk diborgol.


Penyusup yang masuk ke dalam Benteng Tua Leluhur bisa dibilang sangat tidak mungkin terjadi. Sejak masa dimulainya benteng tidak pernah ada kasus sedemikian rupa.


Dalam pikiran kepala regu. Dia tidak sepenuhnya percaya bahwa bocah biasa di depannya ini adalah penyusup.


Jika memang penyusup maka dia dan anak buahnya akan dibunuhnya dalam sekejap mata.


Lagipula, siapa yang preman berani bermain-main petak umpet menyusup dalam benteng?


“Hanya murid luar yang nakal, tidak berseragam dan tak memakai tanda pengenal. Barangkali tertinggal di kamarnya atau jatuh saat dalam misi.” Demikian gumam si kapten regu.


Mereka menyeret Mao Yu membawanya menuju aula disiplin.

__ADS_1


Mao Yu tak merespon apa apa. Dia diam saja dengan pasrah mengikuti iringan yang membawa dirinya menuju aula disiplin dengan langkah cepat.


Pemandangan malam di area benteng terluar. Cahaya temaram bulan dan suhu dingin. Dia bernafas dengan mengembunkan udara dari lubang hidungnya.


“Tuan Mo Kepala Balai Disiplin kudengar mengunjungi area terluar kudengar sore tadi.” Seorang murid di sisi kanan Mao Yu mengutarakan apa yang dia ketahui.


“Menyelesaikan kunjungannya, kudengar ada beberapa pertemuan penting dengan petinggi-petinggi area terluar.” Yang lain menambahkan.


“Dengan demikian masalah murid tak beridentitas ini akan segera terselesaikan. Tanpa kita harus membawa ke area dalam sesuai hukum benteng.” Kapten regu menyimpulkan.


“Percepat langkah kalian !” Dia berseru.


Di sebuah balai, semua orang meninggalkan ruangan. Menyisakan sepasang pemuda dan pemudi.


Sang pemuda duduk tenggelam dengan punggung menyandar pada kursi. Sementara si pemudi sibuk merapikan berkas yang menggunung di atas meja.


“Tolong lihatkan kembali tanggal di mana aku bisa cuti.” Mo Tian melepas jubahnya dari posisi duduk. Tampak sedikit kerepotan, dia enggan berdiri padahal melepas jubah dalam posisi berdiri sangat mudah.


“Hmmm… “ Mo Tian menghela nafas panjang, dia memejamkan mata.


“Tuan Mo, saya baru mendapat laporan mendesak dari salah satu regu disiplin area terluar, dugaan seseorang menyusup ke dalam benteng dengan menyamarkan sebagai murid. Mereka membawanya kemari.”


Mo Tian melirik sekretarisnya dengan kilauan pembunuhan.


“Panggil Kepala Terluar Benteng dan penatua area terluar yang terkait dengan masalah ini. Selesaikan dalam mala mini juga, aku tidak mau membuang waktu.” Mo Tian bersungguh-sungguh dalam masalah yang serius.


Dalam waktu singkat Tua berbadan kurus dengan pipi tirus duduk di sebelah Mo Tian. Tua Chao merupakan kawan lama Fang Shi yang diperkenalkan saat kejadian pemusnahan Sekte Tiga Jubah Kebenaran di Ibukota Pusat saat peristiwa besar di Mansion Tua Leluhur.


Dia sekarang menjabat sebagai Kepala Area Terluar Benteng Tua Leluhur.

__ADS_1


Duduk sebelah kanan dan kiri mereka berdua beberapa penatua yang terkait. Wajah mereka sangat serius dan terkesan galak lagi angker. Seperti singa yang dikuasai kemarahan, siap menerkam buruannya.


Pintu balai berderit, kapten regu disiplin membawa pemuda berjubah hitam berambut pendek dengan kulit kecoklatan.


Suasana balai menjadi sangat tegang dan memanas, kapten regu disiplin harus mengedarkan originnya untuk menahan aura pembunuhan dari para penatua.


Dia menempatkan Mao Yu di tengah aula, kemudian dia menepi.


“Saya kapten regu disiplin squad ke-21 menangkap seorang yang diduga penyusup. Dia tidak dapat menunjukkan identitas diri sebagaimana murid Benteng Tua Leluhur seharusnya.” Kapten regu mengatakan dakwaan pada meja hakim.


“Nama yang diakui terdakwa, Mao Yu tidak ada dalam daftar murid Benteng Tua Leluhur.” Sekretaris melanjutkan.


Semua penatua mengunci Mao Yu dengan tatapan kuat beraroma asasinasi. Mereka siap meledakkan amarah untuk mengirim Mao Yu menjadi abu yang beterbangan.


Tua Chao menelan ludahnya. Lidahnya menempel kuat pada langit-langit mulutnya. Dia seperti ingin bicara namun tidak ada satu pun kata yang keluar. Lututnya mulai kosong dan sedikit gemetar.


Dia panic dengan butiran keringat seperti air terjun di dahinya. Wajahnya basah saat dia menoleh kepada Mo Tian di sebelahnya.


Mo Tian menatap Mao Yu dengan tatapan kosong. Tangannya terkepal kuat diikuti dengan gerakan cepat hingga luput dari semua pengamatan dia meloncat maju menuju Mao Yu dalam sekejap . Kemudian melemparkan bogem mentah ke pipi dengan suara BUAKKK.


Mao Yu jatuh menyamping dengan tersungkur.


“INNNNNN…..IIINNNNNNNIIIIIIIIIII………..”


“INNNNNN…..IIINNNNNNNIIIIIIIIIII………..”


“INNNNNN…..IIINNNNNNNIIIIIIIIIII………..”


Kapten Regu, sekretaris dan semua penatua berdiri serempak.

__ADS_1


Tua Chao melotot, dia kemudian pingsan.


__ADS_2