Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Gerakan Sekte Pedang Bumi


__ADS_3

Keesokan paginya Tetua Pertama dan Nian menghadiri pertemuan penting di aula utama Sekte Pedang Bumi. Demi membahas langkah nyata atas dominasi Benteng Tua Leluhur yang mengancam kekuatan mereka.


Patriark Sekte Pedang Bumi berperawakan kumpulan otot dengan kumis dan jenggot lebat dan liar seperti kawat.


Alisnya tebal menambah kesan garang pada wajahnya.


Duduk di meja bundar para sesepuh sekte dengan pusat patriark di sisi timur. Sekte Pedang Bumi tidak banyak memiliki tetua seperti Klan Wang dan Sekte Api Phoenix. Mereka hanya memiliki tujuh tetua.


Semuanya berpenampilan sangat sombong dengan aura transenden. Meskipun mereka semua berada di usia lanjut, tatapanya setajam pedang dengan vitalitas yang melebihi seorang pemuda.


Berdiri di belakang mereka adala putra atau murid langsung penerus tetua. Tentu saja di sini Nian berdiri di belakang kursi ayahnya, Tetua Pertama.


“Bersuara !” Patriark berbicara dengan nada keras.


Duduk di samping kiri adalah Tetua Pertama, dia mengibaskan lengan dengan anggun siap untuk memulai diskusi.


“Kita semua telah melihat bagaimana situasi Sekte Pedang Bumi di tengah pemetaan kekuatan dunia keempat yang berubah dalam waktu singkat selama beberapa bulan terakhir ini.”


“Sayangnya Sekte Pedang Bumi tidak terlibat dari awal, ini membuat posisi kita menjadi jelas sekarang. Kita di tengah pengepungan Sekte Api Phoenix dan Klan Wang yang bangkit menjadi klan kuat.”


“Ditambah dukungan Benteng Tua Leluhur di belakang kedua kekuatan tersebut. Kita awalnya seimbang saat mendapatkan payung dari Klan Cheng. Namun, sikap Klan Cheng yang menyatakan menarik diri konfrontasi atas Benteng Tua Leluhur membuat kita sejenak seperti kehilangan dukungan.” Tetua Pertama memaparkan.


“Saat Klan Wang dan Sekte Api Phoenix bergerak ke arah kita, Klan Cheng tak akan bergerak. Atau akan memancing Benteng Tua Leluhur keluar dari basis pertahanannya. Tentu saja Klan Cheng masih menikmati masa jeda ini dengan baik. Tidak terburu-buru menghadapi Benteng Tua Leluhur secepat mungkin.” Tetua Kedua menambahkan.

__ADS_1


Semua tetua menganggukkan kepala. Mereka memahami kondisi dengan sangat baik sehingga dalam majelis ini memutuskan hal yang tepat bagi sekte.


“Cukup berputar-putar. Kita serang Klan Wang kemudian Sekte Api Phoenix.” Patriark dengan dengusan kuat menyatakan dengan nada membentak.


Seketika situasi menjadi hening.


Beberapa tetua menyorotkan pandangan antisipasi sedangkan sisanya memiliki tatapan antusiasme.


“Kita adalah kekuatan dengan garis keturunan pedang tajam yang tak gentar dalam menebas musuh. Sepakat dengan patriark, Angkat pedang kita.” Tetua Ketiga mengobarkan kehendaknya.


“Itu yang seharusnya dilakukan.”


“Sejak kapan kita menjadi banyak bicara.”


“Sejak kapan kita menjadi pengecut.”


Tetua ketiga, keempat, kelima dan keenam menyuarakan pendapat secara berurutan. Hal ini membuat semakin jelas bahwa pihak patriark yang haus darah didukung oleh keempat tetua ini.


Sementara tatapan antisipasi dimiliki oleh tetua pertama, kedua dan ketujuh. Mereka berada di kubu yang mengutamakan keselamatan sekte.


“Ni Guanlong, Ni Lokong dan Ni Feng !!!”


“Kalian tetua yang bermarga sama Ni sejauh ini berusaha membuat tumpul pedang kami dengan menolak peperangan. Apa sikap kalian sekarang ???” Patriark menghardik, tangannya memukul meja besi bundar hingga bergetar.

__ADS_1


Empat suara tetua ditambah patriark melawan tiga Tetua Ni yang mengajukan proposal kedamaian. Situasi menjadi sangat sulit sekarang.


Sementara di alun-alun Sekte Pedang Bumi.


Malam saat pertemuan para tetua berlangsung para murid sekte semua dimobilisasi oleh bawahan keempat tetua pendukung patriark. Menampilkan seluruh kekuatan Sekte Pedang Bumi.


Mereka semua dalam keadaan membara dan berapi api dengan nafas pendek yang menandakan haus darah.


Suara hiruk pikuk ratusan ribu murid menggema hingga ruang pertemuan. Semakin membuat resah kubu Tetua Ni.


“Memang benar kami kalah suara, apa harus secepat ini?” Ni Feng menyatakan keberatan. Namun tetua kubu pariark hanya acuh tak acuh saja menghiraukan Ni Feng.


Tiba tiba tiga orang masuk ke dalam majelis pertemuan masing masing menuju tiga Tetua Ni membisikkan beberapa kalimat.


Mendengar informasi mendadak dari bawahan. Tiga tetua terkesiap.


“Atas dasar apa kalian mengambil alih para murid di bawah otoritas kami untuk menuju peperangan yang sia-sia?” Kali ini Tetua Pertama benar-benar kehilangan kesabarannya.


Ni Lokong dan Ni Feng berdiri dari kursinya dengan ekspresi marah. Pengambil alihan paksa ini secara tak langsung melucuti keberadaan dan wewenang mereka.


“Diam !!!” Patriark membentak.


“Aku yang memiliki pedang di sini. Dengan tanpa izin kalian aku memiliki kuasa untuk menghunuskan mereka ke medan perang.”

__ADS_1


“Tapi patriark, musuh bukanlah sesuatu yang sembarangan. Mereka juga datang dengan kekuatan. Bukan sekedar gerombolan aacak belaka.” Ni Lokong yang kehilangan kesabaran pun bersuara.


“Sekuat apa pun mereka, aku punya informasi rahasia yang hanya diketahui oleh patriark dan leluhur. Akan kusampaikan di sini.” Patriark mengunci tatapan kepada ketujuh tetua.


__ADS_2