Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Semburkan Api


__ADS_3

Beberapa hari yang terlihat membosankan. Seorang remaja yang giat berlatih dengan upaya keras ditambah setiap hari merawat gurunya yang rewel seperti lansia.


Hingga pada suatu sore di mana Wan Hanma tiba di halaman rumahnya setelah menyelesaikan rutinitas latihannya.


Perlu diketahui, Wan Hanma sendiri yang memutuskan dan membuat list untuk latihan. Dia selalu menambah dosis lebih berat dari hari ke hari. Berusaha menembus batas untuk meraih ketinggian.


Oh iya meskipun Mao Yu seperti lintah dalam kehidupannya. Ada berkah tersendiri yang dia rasakan. Tiap hari dia dapat menikmati makanan yang layak dengan rasa hebat. Bagaimana pun Mao Yu makan, secara otomatis Wan Hanma pun turut makan bersamanya.


Mao Yu adalah juru masak baginya.


Dari sini saja Wan Hanma sudah merasa seperti mendapat berkah. Saat tubuh lelah setelah berlatih, makanan hangat yang enak sudah cukup untuk memulihkan segalanya.


Malam telah tiba, di ruangan tersaji sup jamur hitam dengan roti yang sangat lembut. Wan Hanma tak berhenti mengucurkan air mata saat menikmati hidangan yang dibuat oleh Mao Yu.


Acara makan berlangsung singkat.


“Wan Hanma setelah membereskan piring, ambilkan kertas dan pena.” Mao Yu berkata dengan malas.


“Ah, siap.” Wan Hanma tampak antusias, dia segera beranjak dari tempat duduknya. Menuntaskan piring kotor, mengelap meja kayu dan segera tiba kembali di hadapan Mao Yu.


Mao Yu memegang pena dengan selembar kertas. Wan Hanma tampak tak berkedip menanti apa yang akan Mao Yu ajarkan untuk dirinya.


Mao Yu menggores garis melintang yang meliuk liuk.


“Apa itu? Tulisan? Gambar? Symbol?” Wan Hanma kebingungan atas apa yang dibuat oleh pendampingnya. Tampaknya Mao Yu memiliki bakat buruk dalam seni.


“Naga.” Mao Yu mengangkat tinggi gambarnya dengan bangga.


Wan Hanma “ … “

__ADS_1


Astaga itu lebih ke arah rupa cacing daripada alih-alih seekor ular. Dan yang lebih parah lagi gambar anak taman kanak kanak masih lebih jelas daripada gambar buatan Mao Yu.


“Kamu meragukan? Kamu kurang berbakat dalam memahami kedalaman sebuah seni.” Mao Yu berkata ketus.


Wan Hanma “ … “


“Tak usah bertanya ambil kitab suci ini dan kita ke area tanpa penduduk.” Mao Yu melemparkan gulungan gambar naga kepada Wan Hanma.


Di sepanjang jalan Wan Hanma terus melihat gambar dengan kualitas mega buruk dari Mao Yu. Akalnya sampai sakit berusaha memahami apa yang dimaksud dengan kedalaman nilai sebuah seni.


Tanpa sadar dalam kegelapan Wan Hanma mengikuti Mao Yu melangkah melewati batas ruang hingga membawanya ke pelataran inti.


“Ah, di mana ini? Aku belum pernah melihat bangunan ini?” Wan Hanma melihat danau yang cukup luas dengan beberapa pemondokan di tepiannya dari jarak yang jauh.


“Sisi lain dari benteng.” Mao Yu menjawab.


“Kamu akan tinggal di sini, pilih pondok yang kosong di area sana nanti. Hanya ada seorang biksu, seorang alkemis dan bibi perawat kebun.” Mao Yu menjelaskan.


“Oh, jadi di sini area pribadi alkemis ya?” Wan Hanma menduga.


“Ya. Mulai berlatih sekarang. Kamu adalah seekor naga sekarang menyemburlah api.” Mao Yu memberikan pengarahan.


INNNNN IIIIINNNNNNNIIIIIIIIIIIIIII………….


Wan Hanma “ ? ? ? “


“Kenapa bengong lihat petunjuknya di kertas !!!”


Wan Hanma dengan canggung membuka gulungan kembali dan melihat gambar cacing jelek membuka mulutnya seperti memuntahkan gumpalan makanan. Ah, jadi gumpalan ini maksudnya adalah semburan api.

__ADS_1


Wan Hanma “ … “


Wan Hanma mengambil posisi kuda kuda mantap dengan membuka kedua kakinya selebar bahu. Dia merendahkan tubuhnya serendah mungkin. Kedua tangannya menggenggam dengan kuat pada kedua pinggangnya. Dia menengadah membuka mulutnya lebar-lebar.


Hingga wajahnya memerah dan semua pembuluh darah di lehernya menonjol.


Api, keluarlah…. Dalam hati dia menyatukan niat.


PLETAKKK…


“ADUHHH…”


“Apa yang kamu lakukan?” Mao Yu memukul kepala Wan Hanma dengan ranting kering. Wan Hanma spontan menggosok-gosok bagian kepalanya yang sakit.


“Bukankah aku harus menyemburkan api ?” Wan Hanma sedikit protes.


“Kamu manusia, bagaimana bisa seperti itu?” Mao Yu memelototi.


“Anda yang menyuruhku !!!” Wan Hanma mulai emosi.


Mao Yu dalam hati sedikit nggondok. Tapi ya memang benar dia yang memerintahkan Wan Hanma untuk mengeluarkan api.


“Hmmm… Baiklah, tunjukkan fireball padaku.” Mao Yu meminta.


“Maaf aku belum bisa melakukannya, aku belum mempelajari apa pun di Benteng Tua Leluhur selain hanya berlatih fisik saja.” Wan Hanma mengutarakan dengan rasa prihatin.


“Baiklah baiklah aku akan mengajarimu satu kali dan kuharap kamu mengingat kesemuanya.” Mao Yu memutuskan sambil melempar jubah kuning bersulam kemerahan pada Wan Hanma.


“Kenakan jubah dengan cepat dan ikuti aku.” Mao Yu menarik nafas dalam-dalam.~~~~

__ADS_1


__ADS_2