
“Ini sepertinya adalah sebuah istana yang sangat besar” Fang Yi berpendapat.
Semua orang sependapat dengannya. Dengan balairung ruang tahta sebesar ini mereka membayangkan ratusan ribu para pejabat istana yang tunduk menghadap singgasana raja.
Dinding yang putih memancarkan aura dingin, pencahayaan yang sangat indah membuat balairung terlihat begitu sangat mewah dan menawan.
Rombongan melihat di sebelah singgasana raja terdapat dua kursi masing-masing di sebelahnya.
Meskipun desainnya jauh kalah dengan tahta utama. Kedua kursi itu masihlah kursi yang megah dan pantas disandingkan.
Sebuah istana megah ini berada di bawah Benteng Tua Leluhur. Mereka kagum dan semakin lebih bangga lagi menjadi anggota inti dari benteng.
Dengan sebuah isyarat, Mao Yu menarik sesuatu dari kedua kursi di samping tahta utama.
Seberkas cahaya dengan cepat melesat dan mengembun menjadi bentuk token logam di tangannya. Berwarna perak dan tembaga dengan tertulis simbol dari bahasa asing yang tak diketahui.
Mao Yu melempar token berwarna perak kepada Shen Mubai. Sedangkan token berwarna perunggu diserahkan kepada Pak Tua Shi.
“Tuan, apakah ini ?” Keduanya bertanya.
“Gunakan saat Benteng Tua Leluhur menghadapi gempuran dan kondisi sangat darurat.” Mao Yu menjawab.
“Kita akan mendapat efek apa tuan dari token ini ?” Fang Yi penasaran.
“Tentara Immortal.” Mao Yu menjawab singkat.
Shuuuu....
Seketika balairung yang sangat luas bergetar dengan sebuah energi aneh. Energi tersebut mendorong segala sisi dinding menjadi luas berkali-kali lipat.
Kini mereka seperti berdiri pada dunia baru yang lapang dan sangat luas.
Sebelum mereka mengungkapkan rasa terkejut. Rahang mereka hendak lepas hingga kedua tangan mereka harus menahannya dengan kuat.
“IIINNNN IINNNNNIIIIIIIIII......”
Pasukan berzirah muncul memenuhi segala ruangan. Rombongan dengan kondisi ini berada di sela sela barisan rapi mereka.
Mereka ada pasukan terracota dengan zirah harta tertinggi. Memegang tombak yang menantang langit, pedang di pinggang, busur di punggung. Semuanya adalah harta tertinggi !!!
Satu bagian armor yang terlepas akan menjadi harta karun utama sekte !!!
Ini gila !!!
Sangat Gila !!!
__ADS_1
Lihat !!! Jumlah mereka ratusan ribu, terbagi dalam dua kelompok.
Pasukan terracota dengan zirah perak !!!
Pasukan terracota dengan zirah perunggu !!!
Rombongan berteriak lantang.
Rombongan merasa lemas, dengan pasukan ini meratakan tiga belas dunia bukan lagi hambatan. Ini pekerjaan ringan. Pekerjaan rumah tangga, menyapu halaman dari daun kering.
“Kenapa hanya sedikit yang muncul? Ini sepersepuluh jumlahnya.” Mao Yu merengut.
“INNNN IIINNNNIIIIIIIIII....”
Semua orang pingsan tidak kuat, selain meraka harus menahan aura ratusan ribu prajurit. Mereka harus mendengar informasi gila dari tuan muda.
Bahkan Biksu Changyi terhuyung-huyung namun dia masih kuat menahan segalanya dengan tingginya kultivasi.
“Amithaba...”
“Tuan, Aku sungguh tak menduga. Sepertinya tawaran andan tentang penyerbuan menuju Gunung Tath di tanah Surga Utara bukan lelucon. Maafkan hamba yang rendah.”
Mao Yu terdiam dan tampak merenung.
“INNNN IIINNNNIIIIIIIIII....”
Biksu Changyi terbelalak.
“Token emas untuk memanggil pasukan raja abadi.” Mao Yu menjawab dengan singkat.
Biksu Changyi bergetar, keringat menggelinding dari kepala botak seperti butiran kelereng. Berkali kali dia menggumamkan doa. Agar kesadaran tetap terjaga. Tidak jatuh pingsan.
Tuan benar-benar akan menyerbu surga, gumamnya.
Biksu Changyi cukup lama dalam hening perenungan. Hingga suara Mao Yu memecahkan lamunannya.
“Harapanku sangat tinggi padamu Biksu Changyi, di dalam cincin ini terdapat berbagai harta surgawi, tertinggi dan utama. Berikan kepada para pingsan pesakitan kita nanti saat sadar.”
“Di dalamnya terdapat ribuan gulungan teknik kultivasi untuk para murid benteng.”
“Juga banyak jade energi untuk modal awal benteng. Bagaimana pun kita perlu uang.”
“Khusus untukmu kuberikan ini.” Mao Yu menarik sebuah item dari istana putih dan kemudian mengulurkan sebuah kitab kepada Biksu Changyi
Biksu Changyi menerima dengan perasaan berkecamuk hebat. Tubuhnya bergetar dengan penuh rasa kebahagiaan. Inilah versi asli dalam bentuk tertulis Kitab Vreda Astagna.
__ADS_1
“Amithaba...”
“Terima kasih Tuan... ” Biksu Changyi mengambil sujud di depan tuan benteng.
Mao Yu mengangguk.
***,
Keesokan harinya.
Pagi sangat cerah. Mao Yu melihat Chen Dewei dan 40 pasukannya sedang bertani.
Dengan udara pelataran ini yang sangat pekat dengan energi spiritual. Para pemukim yang tinggal di sini sangat terberkati. Kemajuan kultivasi mereka melaju dengan kecepatan pesat.
Ladang Chen Dewei cukup membuat kemajuan, beberapa herbal langka telah tumbuh dengan subur dan kondisi sangat baik.
Tiga Gou pun enggan pergi lagi, mereka berlarian bermain dengan puas di halaman. Mereka melupakan tentang wilayah teritori di hutan. Benteng ini adalah teritori mereka sekarang dan mereka sangat puas.
Mao Yu memberikan mereka kalung berduri dari istana putih. Membuat ketiganya menjadi tampak sangat galak dan garang. Oya, mereka kini tumbuh cukup cepat. Mereka sudah berukuran layaknya pitbull dewasa.
Sesekali Mao Yu bermain dengan mereka dalam beberapa hari terakhir.
“Li Hua aku mungkin akan pergi cukup lama, tolong sampaikan pesanku kepada petinggi benteng.”
“Ke mana tuan muda akan pergi ?” Li Hua bertanya.
“R A H A S I A” Mao Yu mengeja dengan nakal dan terbahak-bahak.
Li Hua mengerutkan keningnya.
Benteng telah beroperasi dengan baik. Anggota keluarga Mo Tian banyak dipekerjakan. Begitu juga anggota caravan Shen Mubai untuk membantu segala hal terkait pemerintahan. Li Hua menceritakan dengan mendetail perkembangan benteng.
“Oya Li Hua, hari ini tiga tua membawa murid. Mari kita lihat harusnya mereka sudah datang.”
“Benar tuan, mereka mendapatkan 3 lansia, 12 dewasa, 40 remaja dan 27 anak-anak.” Li Hua memaparkan.
“Langsung jadikan mereka murid inti. Masukkan ke pelataran dalam.” Mao Yu memberi perintah.
Li Hua segera meninggalkan pelataran inti.
Mao Yu kembali duduk di kursi malas bawah pohon willow.
Mungkin aku akan kembali saat benteng ini telah penuh dengan orang-orang di dalamnya. Mao Yu bergumam.
“Kong Kecil ayo kita bertualang!”
__ADS_1