
Xin Lan juga ikut tersulut kemarahan. Dia mengeluarkan sebuah pedang berbilah panjang berwarna merah darah.
Dia menggerakkan pedang dengan ritme tertentu. Seketika api berkobar liar dari bilahnya dengan suhu tinggi.
Xin Lan bermaksud memusnahkan orang-orang di depannya beserta bangunan-bangunannya secara langsung dalam sekali tebasan pamungkas.
Halaman depan mansion kini bersinar sangat terang oleh kobaran api yang sangat besar.
Li Hua merasakan panas telah menyentuh dahinya. Kulit mukanya kemerahan sekarang.
Dia merasa panik bukan kepalang. Kekuatan Xin Lan sangat jauh di luar logikanya. Dia merasa mungkin ini adalah akhir dari segalanya.
Tapi saat Li Hua melihat tuan mudanya cukup tenang. Dalam hati kecilnya mungkin masih ada harapan kalau kami bisa lolos dari bencana ini.
Xin Lan tersenyum dengan meremehkan. Dia kemudian mengambil ancang-ancang hendak menebaskan pedang apinya.
Mao Yu mengelus kepala Kong Kecil dengan pelan dan lembut.
"Kong Kecil dimana remotenya? Udara di sini sangat panas. Tuanmu bisa dehidrasi kalau lama-lama." Mao Yu mengucapkan kalimat aneh.
"Nguk... nguk..." Kong Kecil menjawab dengan melompat lompat di bahu Mao Yu.
Li Hua " .... "
Harapan Li Hua dapat lolos dari rahang maut langsung sirna.
Harapannya menguap bersama tumbuhnya panas nyala api pedang Xin Lan yang berlipat-lipat.
"Hahahaha... Orang yang mau mati berbicara ngelindur. Ngomong tidak jelas sama monyet." Xin An tertawa mencemooh.
Xin An mencibir, dia menggerakkan sebuah tebasan maut.
"Rasakan akibat bermain main dengan Keluarga Xin !!!" Dia meraung dengan mengerahkan semua kekuatannya pada sebuah serangan tunggal pedang.
Li Hua memejamkan matanya. Oh Surga, Tamat sudah riwayatku.
Pedang bergerak melintas dengan cepat. Namun saat berada dalam jalurnya, tiba-tiba nyala apinya padam. Lebih dari itu bahkan kekuatan serangan pedang menghilang secara instan.
Xin Lan kini hanya seperti memukul angin dengan pedang.
"Eh... " Xin Lan terkejut.
Mereka berdua merasakan hawa dingin menyelimuti dengan cepat. Tubuh mereka merasakan suhu terus menurun dengan drastis.
Mereka tak bisa merespon perubahan kejadian ini sama sekali. Langsung secara total membekukan seluruh tubuh.
Xin Lan membeku dengan posisi garang menebaskan pedang dengan mulutnya melongo bundar.
__ADS_1
Xin An membeku dalam posisi mulut terbuka lebar tertawa terbahak-bahak.
Beberapa saat kemudian Li Hua membuka mata dengan enggan. Dia berfikir saat membuka dia telah berada di akhirat.
Berkali-kali dia mengucek mata. Namun sekarang masih melihat pekarangan yang sama di depan mansion. Oh, Aku masih hidup ternyata.
"INN INNNIII...." Li Hua terbelalak melihat duo Xin menjadi patung es di depannya.
"Kamu termasuk orang yang taat pada kuil. Dewa menolongmu menyambar mereka dengan petir es." Mao Yu berkata spontan.
Astaga, apakan ini yang disebut sebagai kekuatan peribadatan. Li Hua memukul-mukul kepalanya dengan tangan seolah masih tak percaya dengan kejadian yang dia alami di depan matanya.
Baiklah, mulai besok dan seterusnya aku akan menjadi orang yang lebih alim dalam beribadah.
***
Setelah menyingkirkan patung es.
Fang Yi dan Jing Jun menyusul berkumpul bersama di tempat kejadian. Mereka berdua mengangguk-angguk dengan serius ketika Li Hua mengkhotbah.
Li Hua menceritakan detil saat duo Xin tiba dengan membawa niat jahat. Hingga berakhir pada sebuah karomah yang dia alami karena taatnya pada kuil beberapa hari yang lalu.
Fang Yi dan Jing Jun nampak berjanji pada diri mereka sendiri mulai besok juga akan rutin mengunjungi kuil menjadi ahli ibadah.
Mereka bertiga memperhatikan tuan muda sedang mengatur sembilan meriam besar yang berjejer rapi dengan moncong mengarah ke utara.
"Oke, Sudah pas." Mao Yu puas dengan pekerjannya.
"Tuan muda, Apa ini ?" Fang Yi bertanya.
"Meriam mainan pelontar kembang api. Apa kalian begitu kurang terpelajar hingga hal seperti ini tidak tahu." Mao Yu mendengus.
"Oohhhh... " Mereka bertiga mengangguk-angguk.
Ini kan belum tahun baru, kenapa tuan menyalakan kembang api? Mereka saling pandang dengan bertanya-tanya.
Mereka segera memutuskan untuk masa bodoh. Memang sudah menjadi kebiasaan tuan muda berbuat hal yang aneh-aneh.
"Keluarkan api, kalian nyalakan secara serempak agar meriah." Mao Yu sangat tidak sabar melihat pertunjukan meriam. Dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
Sess.. sess.. sess... Sembilan sumbu dinyalakan secara serempak.
Damm... damm... dammm... Meriam juga serentak meledak memuntahkan sembilan peluru dengan kecepatan super.
Mereka bertiga segera mendongakkan kepala, namun tidak kunjung melihat kembang api meledak mekar di langit.
"Tuan sepertinya kembang apinya tidak meledak di langit dan malah jatuh mengenai sesuatu." Jing Jun bertanya dengan tangan menggaruk-garukkan kepala.
__ADS_1
"Hmmm...." Mao Yu memicingkan sebelah mata.
***
Di malam yang tenang penduduk kota dikagetkan oleh sembilan dentuman yang sangat keras dari arah pusat kota. Semua segera orang berhamburan keluar ingin tahu apa yang terjadi.
Kedai-kedai di seluruh kota membuat nyala lampu kristalnya kembali terang. Pengunjung mendatanginya seperti orang yang berbondong-bondong mengungsi.
Mereka berlarian menuju kedai sebagai sumber utama gosip dan info. Mereka tak mau terlewatkan kabar utama. Mereka harus menjadi yang pertama tahu.
Ini adalah prestasi di antara mereka semua, sebuah kebanggaan jika menjadi orang pertama yang mendengar kabar.
Pak tua dengan kipas kertas memasuki kedai dengan langkah anggun dan berwibawa.
"Pak Tua cepat kabarkan. Tidak perlu upacara Tao !" Pengunjung gemuk bersuara lantang.
Pengunjung lain segera membenarkan ucapan pengunjung gendut. Semua mata mengintimidasi Pak Tua.
"Oh, Oke... Buka telinga kalian lebar-lebar. Aku tidak akan mengulangi kalimatku! Kediaman Xin baru saja telah dibombardir. Sembilan ledakan besarĀ telah meluluhlantahkan seluruh bangunan mansion." Pak Tua kali ini to the point.
Pengunjung kedai semuanya terkejut.
Ini kabar akbar !!!
Ini kabar besar !!!
Suara lebah bubar langsung menggaung di seluruh kedai. Ruangan kedai yang padat pengunjung kini penuh suara orang saling berdiskusi dan berpendapat.
"Siapa yang melakukannya Pak Tua ?" Salah satu pengunjung bertanya.
"Tembakan berasal dari arah selatan. Dugaan terkuat adalah dari Mansion Tua Leluhur. Kami telah mendengar sebelumnya ada konflik antara tuan muda mansion dengan putri Keluarga Xin. Namun ini masih dugaan lho ya..." Pak Tua mulai menebar gosip.
Dengung lebah bubar terdengar lebih ramai berkali-kali lipat lagi di kedai.
"Tamat sudah Klan Xin. Nilai properti mereka jatuh total jika digadaikan ke kantor utama Night Lily. Bangunan yang hancur tak memiliki nilai sama sekali. Hutang mereka kini seakan tak bakal terbayar." Pengunjung berbaju kuning menyampaikan pendapat dengan rasa prihatin.
***
Pagi harinya.
Pak Tua Shi dengan memikul tas besar berjalan menyusuri tembok luar mansion Mao Yu menuju ke arah gerbang masuk.
Hingga tiba di suatu lokasi dinding dia berhenti. Tangannya dengan lembut menyentuh dinding berlumut.
Dia biasanya meletakkan beberapa dupa dan sajian untuk kuil yang terletak persis di belakang tembok ini.
Pak Tua Shi kali ini tersenyum dengan gembira. Dia bisa masuk ke dalam area mansion sehingga bisa berbakti pada kuil secara langsung.
__ADS_1
"Aku akan segera tiba, Leluhur..." Dia dengan langkah cepat menuju gerbang mansion.